{"id":602985,"date":"2026-10-02T15:35:30","date_gmt":"2026-10-02T08:35:30","guid":{"rendered":"https:\/\/vibiznews.com\/?p=602985"},"modified":"2026-10-02T19:00:37","modified_gmt":"2026-10-02T12:00:37","slug":"pasar-obligasi-inggris-dan-ancaman-krisis-ekonomi","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/vibiznews.com\/index.php\/2026\/10\/02\/pasar-obligasi-inggris-dan-ancaman-krisis-ekonomi\/","title":{"rendered":"Pasar Obligasi Inggris dan Ancaman Krisis Ekonomi"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify;\">(Vibiznews-Kolom) Pasar obligasi sering kali menjadi tempat pertama yang memperlihatkan kegelisahan investor terhadap kondisi sebuah negara. Pergerakan pasar saham memang lebih mudah terlihat karena diberitakan setiap hari, tetapi perubahan pada pasar obligasi pemerintah dapat membawa konsekuensi yang jauh lebih luas. Ketika investor mulai meminta imbal hasil yang semakin tinggi, pemerintah harus membayar lebih mahal untuk mendapatkan pembiayaan. Dari sinilah tekanan dapat merambat ke mata uang, suku bunga, perusahaan, rumah tangga hingga pertumbuhan ekonomi secara keseluruhan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Situasi tersebut menjadi perhatian di Inggris ketika imbal hasil obligasi pemerintah atau <em>gilt<\/em> jangka panjang bergerak ke tingkat yang sangat tinggi. Imbal hasil yang meningkat berarti harga obligasi turun karena investor meminta kompensasi lebih besar untuk bersedia memegang surat utang dalam jangka panjang. Pergerakan seperti ini tidak otomatis berarti sebuah negara sedang menuju krisis, tetapi menjadi sinyal yang penting apabila terjadi bersamaan dengan persoalan defisit, inflasi, utang dan lemahnya pertumbuhan ekonomi. Semakin lama tekanan berlangsung, semakin besar pula tantangan yang harus dihadapi pemerintah dan bank sentral.<\/p>\n<h3 style=\"text-align: justify;\">Mengapa pasar obligasi begitu penting?<\/h3>\n<p style=\"text-align: justify;\">Secara sederhana, pemerintah membutuhkan pembiayaan untuk menjalankan berbagai program ketika penerimaan negara belum cukup untuk menutup seluruh pengeluaran. Salah satu caranya adalah menerbitkan obligasi yang kemudian dibeli oleh investor domestik maupun asing. Pemerintah memperoleh dana sekarang dan berkomitmen membayar bunga serta mengembalikan pokok utang sesuai jadwal. Selama investor percaya bahwa pemerintah mampu memenuhi kewajibannya, mekanisme tersebut dapat berjalan relatif normal dan menjadi bagian penting dari sistem keuangan sebuah negara.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Masalah mulai muncul ketika investor menganggap risiko memegang surat utang pemerintah semakin tinggi. Mereka kemudian meminta tingkat imbal hasil yang lebih besar sebagai kompensasi. Bagi pemerintah, kenaikan tersebut berarti biaya untuk menerbitkan utang baru menjadi semakin mahal. Jika jumlah utang yang harus diterbitkan sangat besar, selisih kecil pada tingkat bunga dapat berubah menjadi tambahan beban anggaran yang bernilai sangat besar selama bertahun-tahun.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Kenaikan imbal hasil juga mempunyai arti yang lebih luas daripada sekadar meningkatnya biaya bunga. Pasar sedang memberikan sinyal mengenai bagaimana investor melihat prospek ekonomi, inflasi dan kebijakan pemerintah. Jika investor percaya inflasi akan tetap tinggi, mereka akan meminta imbal hasil yang lebih besar agar nilai riil investasi mereka tidak terlalu tergerus. Jika investor juga mengkhawatirkan posisi fiskal pemerintah, premi risiko yang diminta dapat semakin besar dan membuat biaya pembiayaan negara kembali meningkat.<\/p>\n<h3 style=\"text-align: justify;\">Dilema utang jangka panjang dan pendek<\/h3>\n<p style=\"text-align: justify;\">Pemerintah sebenarnya memiliki beberapa pilihan untuk mengelola utangnya. Salah satunya adalah menerbitkan lebih banyak surat utang jangka pendek apabila pembiayaan jangka panjang dianggap terlalu mahal. Strategi tersebut dapat mengurangi biaya bunga dalam jangka pendek apabila tingkat bunga jangka pendek masih lebih rendah. Namun, keuntungan tersebut datang bersama risiko karena utang jangka pendek harus lebih sering diperbarui atau <em>refinanced<\/em>.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Ketika suku bunga berubah, dampaknya terhadap utang jangka pendek dapat terasa lebih cepat. Pemerintah yang terlalu banyak bergantung pada pembiayaan jangka pendek akan lebih sering menghadapi kebutuhan untuk menerbitkan utang baru. Jika kondisi pasar memburuk pada saat utang tersebut jatuh tempo, biaya pembiayaan kembali dapat melonjak. Dengan demikian, keputusan mengurangi biaya bunga hari ini dapat menciptakan risiko yang lebih besar pada masa mendatang.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Utang jangka panjang memiliki karakter berbeda. Pemerintah memang harus membayar imbal hasil yang lebih tinggi jika kondisi pasar sedang menuntut premi besar, tetapi struktur tersebut memberikan kepastian yang lebih panjang. Pemerintah tidak perlu terus-menerus melakukan pembiayaan kembali setiap beberapa bulan. Karena itu, komposisi antara utang jangka pendek dan jangka panjang menjadi salah satu pertimbangan penting dalam menjaga stabilitas keuangan negara.<\/p>\n<h3 style=\"text-align: justify;\">Tekanan obligasi dapat merambat ke pound<\/h3>\n<p style=\"text-align: justify;\">Persoalan berikutnya muncul melalui hubungan antara pasar obligasi dan nilai mata uang. Investor internasional yang membeli obligasi pemerintah Inggris pada dasarnya juga mengambil risiko terhadap pound sterling. Mereka bukan hanya mempertimbangkan berapa besar bunga yang akan diterima, tetapi juga apakah nilai pound akan tetap stabil selama mereka memegang investasi tersebut.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Apabila investor merasa risiko memegang pound semakin besar, mereka dapat meminta imbal hasil yang lebih tinggi sebelum bersedia membeli obligasi Inggris. Dalam kondisi tertentu, mereka juga dapat mengurangi eksposur terhadap aset berdenominasi pound. Tekanan tersebut dapat ikut memengaruhi nilai mata uang. Ketika pound melemah, biaya berbagai barang dan jasa yang berasal dari luar negeri dapat meningkat dalam denominasi pound.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Dampak tersebut menjadi semakin penting bagi inflasi. Inggris merupakan ekonomi yang terintegrasi erat dengan perdagangan internasional dan membutuhkan berbagai produk impor, mulai dari energi hingga barang konsumsi dan bahan baku. Ketika nilai mata uang melemah, harga impor dapat meningkat dan memberikan tekanan tambahan terhadap harga domestik. Dengan demikian, persoalan yang bermula dari pasar obligasi dapat akhirnya muncul dalam angka inflasi yang dihadapi masyarakat.<\/p>\n<h3 style=\"text-align: justify;\">Bank sentral berada dalam posisi sulit<\/h3>\n<p style=\"text-align: justify;\">Ketika inflasi meningkat akibat tekanan mata uang maupun faktor lainnya, bank sentral menghadapi pilihan yang tidak mudah. Salah satu instrumen utamanya adalah suku bunga. Suku bunga yang lebih tinggi dapat membantu menekan permintaan dan menjaga ekspektasi inflasi, tetapi pada saat yang sama meningkatkan biaya pinjaman bagi rumah tangga dan perusahaan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Di sinilah muncul persoalan yang sangat sulit. Jika ekonomi sudah mengalami pertumbuhan yang lemah, kenaikan suku bunga justru dapat memperburuk kondisi ekonomi. Perusahaan mungkin menunda investasi karena biaya modal meningkat. Rumah tangga dapat mengurangi konsumsi karena cicilan pinjaman semakin mahal. Pasar perumahan juga dapat mengalami tekanan karena kemampuan masyarakat membeli rumah menjadi lebih rendah.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Bank sentral kemudian harus menyeimbangkan dua risiko sekaligus. Di satu sisi terdapat risiko inflasi yang terlalu tinggi apabila kebijakan moneter terlalu longgar. Di sisi lain terdapat risiko pertumbuhan yang semakin lemah apabila suku bunga harus dipertahankan tinggi dalam waktu lama. Karena itu, tekanan di pasar obligasi dapat membuat pekerjaan bank sentral menjadi semakin kompleks, terutama ketika masalah fiskal dan moneter terjadi secara bersamaan.<\/p>\n<h3 style=\"text-align: justify;\">Dampaknya dapat dirasakan pasar properti<\/h3>\n<p style=\"text-align: justify;\">Salah satu sektor yang paling cepat merasakan perubahan suku bunga adalah pasar perumahan. Rumah merupakan aset bernilai besar yang bagi banyak keluarga dibeli menggunakan pembiayaan jangka panjang. Ketika bunga pinjaman meningkat, jumlah uang yang harus dibayarkan setiap bulan dapat naik secara signifikan, terutama bagi peminjam yang harus melakukan pembiayaan kembali.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Kondisi tersebut dapat mengurangi kemampuan masyarakat untuk membeli rumah. Bahkan apabila harga rumah secara nominal tidak berubah, kenaikan bunga dapat membuat rumah menjadi lebih mahal secara efektif karena biaya pembiayaannya meningkat. Calon pembeli akhirnya dapat memilih menunda pembelian, sementara pengembang juga dapat menunda pembangunan proyek baru karena permintaan dan pembiayaan menjadi lebih sulit diprediksi.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Masalah ini menjadi semakin kompleks ketika suatu negara memang membutuhkan lebih banyak rumah. Kenaikan biaya pembiayaan dapat menghambat pembangunan properti pada saat kebutuhan perumahan masih tinggi. Dengan demikian, stabilitas pasar obligasi pada akhirnya juga mempunyai hubungan dengan persoalan yang sangat nyata dalam kehidupan masyarakat, yaitu kemampuan membeli atau menyewa tempat tinggal.<\/p>\n<h3 style=\"text-align: justify;\">Investasi perusahaan ikut terpengaruh<\/h3>\n<p style=\"text-align: justify;\">Perusahaan juga menghadapi persoalan yang serupa. Sebuah perusahaan biasanya melakukan investasi apabila tingkat keuntungan yang diperkirakan dapat melebihi biaya modal. Jika bunga pinjaman dan imbal hasil pasar meningkat, standar keuntungan yang dibutuhkan untuk membuat sebuah proyek terlihat menarik juga ikut naik.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Perusahaan yang sebelumnya berencana membangun pabrik baru, membeli mesin, memperluas jaringan toko atau mengembangkan teknologi dapat memilih menunda keputusan tersebut. Mereka mungkin menunggu kondisi pasar lebih jelas atau menggunakan dana internal daripada mengambil pinjaman baru. Jika banyak perusahaan melakukan hal yang sama, investasi swasta dapat melambat dan memberikan tekanan terhadap pertumbuhan ekonomi.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Dampaknya tidak berhenti pada laporan keuangan perusahaan. Investasi yang tertunda berarti pembangunan kapasitas produksi juga tertunda. Dalam jangka panjang, kondisi tersebut dapat memengaruhi produktivitas, penciptaan lapangan kerja dan pertumbuhan pendapatan. Karena itu, biaya modal yang tinggi dapat menjadi salah satu saluran penting yang menghubungkan pasar keuangan dengan perekonomian sehari-hari.<\/p>\n<h3 style=\"text-align: justify;\">Risiko terbesar adalah hilangnya kepercayaan<\/h3>\n<p style=\"text-align: justify;\">Yang membuat situasi pasar obligasi menjadi sensitif bukan hanya angka imbal hasil pada satu hari tertentu. Persoalan yang lebih penting adalah perubahan persepsi investor terhadap arah ekonomi dan keuangan pemerintah. Pasar keuangan bergerak berdasarkan ekspektasi terhadap masa depan, sehingga perubahan kepercayaan dapat terjadi sebelum persoalan benar-benar terlihat dalam data ekonomi.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Ketika investor mulai menganggap risiko fiskal meningkat, mereka meminta imbal hasil lebih tinggi. Biaya utang pemerintah kemudian meningkat dan membuat posisi anggaran semakin sulit. Jika kondisi tersebut disertai pelemahan mata uang dan inflasi, bank sentral dapat menghadapi tekanan untuk mempertahankan kebijakan moneter ketat. Sementara itu, ekonomi dapat semakin melemah akibat mahalnya pembiayaan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Inilah yang membuat pasar obligasi sering disebut sebagai salah satu penjaga disiplin fiskal. Pemerintah memang memiliki kewenangan untuk meningkatkan belanja, memberikan subsidi atau menjalankan berbagai program ekonomi. Namun, semua keputusan tersebut harus memperhitungkan bagaimana pasar akan menilai kemampuan pemerintah membiayainya. Ketika kepercayaan pasar melemah, ruang pemerintah untuk melakukan kebijakan semakin sempit.<\/p>\n<h3 style=\"text-align: justify;\">Pelajaran dari gejolak 2022<\/h3>\n<p style=\"text-align: justify;\">Inggris sudah pernah mengalami bagaimana perubahan persepsi pasar dapat berlangsung sangat cepat. Pada 2022, pengumuman paket fiskal pemerintah Inggris memicu gejolak besar di pasar keuangan. Imbal hasil <em>gilt<\/em> meningkat tajam dan pound mengalami tekanan, sementara Bank of England kemudian mengambil langkah untuk membantu menstabilkan pasar obligasi.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Peristiwa tersebut menjadi pengingat bahwa pasar dapat memberikan reaksi yang jauh lebih cepat daripada proses politik. Pemerintah dapat membutuhkan waktu untuk menyusun anggaran, melakukan konsultasi dan mengubah kebijakan, sementara investor dapat menjual aset dalam hitungan menit. Ketika jumlah penjual meningkat dan kepercayaan menurun, pergerakan harga dapat menjadi sangat tajam.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Pengalaman tersebut juga menunjukkan pentingnya kredibilitas kebijakan fiskal. Investor tidak hanya memperhatikan berapa besar pemerintah ingin membelanjakan uang, tetapi juga dari mana uang tersebut berasal dan apakah rencana pembiayaannya dianggap realistis. Kebijakan ekonomi pada akhirnya harus mempertimbangkan angka-angka di atas kertas sekaligus reaksi pasar terhadap angka tersebut.<\/p>\n<h3 style=\"text-align: justify;\">Inggris menghadapi tantangan yang lebih luas<\/h3>\n<p style=\"text-align: justify;\">Persoalan yang dihadapi Inggris sebenarnya merupakan bagian dari tantangan yang lebih luas di negara-negara maju. Setelah bertahun-tahun menikmati suku bunga sangat rendah, banyak pemerintah meningkatkan utang untuk menghadapi pandemi dan berbagai tekanan ekonomi. Ketika inflasi meningkat dan suku bunga global berubah, biaya mempertahankan utang tersebut menjadi lebih mahal.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Pemerintah kemudian menghadapi kebutuhan yang saling berkompetisi. Mereka membutuhkan investasi infrastruktur, pelayanan publik, pertahanan, energi dan berbagai program sosial, tetapi pada saat yang sama harus menjaga agar defisit dan utang tetap dapat dikelola. Semakin tinggi biaya bunga, semakin besar bagian anggaran yang harus digunakan untuk membayar kewajiban masa lalu.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Situasi tersebut membuat era uang murah menjadi semakin jauh. Pemerintah tidak lagi dapat berasumsi bahwa pinjaman akan selalu tersedia dengan biaya sangat rendah. Investor menjadi lebih selektif dan lebih sensitif terhadap inflasi, pertumbuhan ekonomi serta kredibilitas kebijakan fiskal. Negara yang mampu menjaga kepercayaan pasar memiliki ruang yang lebih besar untuk menghadapi guncangan ekonomi.<\/p>\n<h3 style=\"text-align: justify;\">Pasar obligasi adalah cermin kepercayaan<\/h3>\n<p style=\"text-align: justify;\">Pada akhirnya, pasar obligasi bukan sekadar tempat pemerintah mencari uang. Pasar tersebut merupakan cermin kepercayaan terhadap kemampuan sebuah negara mengelola ekonomi dan keuangannya. Ketika investor bersedia membeli obligasi dengan imbal hasil rendah, mereka pada dasarnya mengatakan bahwa risiko yang mereka lihat relatif terkendali.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Sebaliknya, ketika investor meminta imbal hasil semakin tinggi, pasar sedang meminta kompensasi atas risiko yang dianggap lebih besar. Penyebabnya bisa bermacam-macam, mulai dari inflasi, kebijakan fiskal, kondisi ekonomi global, perubahan suku bunga hingga kekhawatiran terhadap kemampuan pemerintah mengelola utang. Karena itu, kenaikan imbal hasil tidak boleh dibaca hanya dari satu faktor.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Yang perlu diperhatikan adalah arah keseluruhan. Apakah inflasi sedang turun atau naik? Apakah defisit membaik atau memburuk? Apakah pertumbuhan ekonomi cukup kuat? Bagaimana kondisi mata uang? Dan yang tidak kalah penting, apakah investor masih percaya bahwa pemerintah mempunyai strategi yang kredibel untuk menjaga stabilitas keuangan dalam jangka panjang?<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Pasar obligasi memang tidak selalu benar dan tidak setiap gejolak akan berubah menjadi krisis. Namun, ketika tekanan pada obligasi, mata uang, inflasi dan suku bunga mulai bergerak dalam arah yang sama, risiko terhadap perekonomian menjadi lebih besar. Pada saat itulah pasar obligasi berubah dari sekadar indikator keuangan menjadi bagian penting dari cerita ekonomi yang dirasakan oleh pemerintah, perusahaan dan rumah tangga.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>(Vibiznews-Kolom) Pasar obligasi sering kali menjadi tempat pertama yang memperlihatkan kegelisahan investor terhadap kondisi sebuah negara. Pergerakan pasar saham memang lebih mudah terlihat karena diberitakan setiap hari, tetapi perubahan pada pasar obligasi pemerintah dapat membawa konsekuensi yang jauh lebih luas. Ketika investor mulai meminta imbal hasil yang semakin tinggi, pemerintah harus membayar lebih mahal untuk [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":101053,"featured_media":279559,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_exactmetrics_skip_tracking":false,"_monsterinsights_skip_tracking":false,"footnotes":""},"categories":[669],"tags":[345],"class_list":["post-602985","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-column","tag-inggris"],"yoast_head":"<!-- This site is optimized with the Yoast SEO plugin v22.9 - https:\/\/yoast.com\/wordpress\/plugins\/seo\/ -->\n<title>Pasar Obligasi Inggris dan Ancaman Krisis Ekonomi - Vibiznews.com<\/title>\n<meta name=\"robots\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<link rel=\"canonical\" href=\"https:\/\/vibiznews.com\/index.php\/2026\/10\/02\/pasar-obligasi-inggris-dan-ancaman-krisis-ekonomi\/\" \/>\n<meta property=\"og:locale\" content=\"en_US\" \/>\n<meta property=\"og:type\" content=\"article\" \/>\n<meta property=\"og:title\" content=\"Pasar Obligasi Inggris dan Ancaman Krisis Ekonomi - Vibiznews.com\" \/>\n<meta property=\"og:description\" content=\"(Vibiznews-Kolom) Pasar obligasi sering kali menjadi tempat pertama yang memperlihatkan kegelisahan investor terhadap kondisi sebuah negara. Pergerakan pasar saham memang lebih mudah terlihat karena diberitakan setiap hari, tetapi perubahan pada pasar obligasi pemerintah dapat membawa konsekuensi yang jauh lebih luas. Ketika investor mulai meminta imbal hasil yang semakin tinggi, pemerintah harus membayar lebih mahal untuk [&hellip;]\" \/>\n<meta property=\"og:url\" content=\"https:\/\/vibiznews.com\/index.php\/2026\/10\/02\/pasar-obligasi-inggris-dan-ancaman-krisis-ekonomi\/\" \/>\n<meta property=\"og:site_name\" content=\"Vibiznews.com\" \/>\n<meta property=\"article:published_time\" content=\"2026-10-02T08:35:30+00:00\" \/>\n<meta property=\"article:modified_time\" content=\"2026-10-02T12:00:37+00:00\" \/>\n<meta property=\"og:image\" content=\"https:\/\/vibiznews.com\/wp-content\/uploads\/2016\/04\/inggris-2.jpg\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:width\" content=\"1280\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:height\" content=\"960\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:type\" content=\"image\/jpeg\" \/>\n<meta name=\"author\" content=\"Fadjar Dewanto\" \/>\n<meta name=\"twitter:card\" content=\"summary_large_image\" \/>\n<meta name=\"twitter:label1\" content=\"Written by\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data1\" content=\"Fadjar Dewanto\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:label2\" content=\"Est. reading time\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data2\" content=\"9 minutes\" \/>\n<script type=\"application\/ld+json\" class=\"yoast-schema-graph\">{\"@context\":\"https:\/\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\/\/vibiznews.com\/index.php\/2026\/10\/02\/pasar-obligasi-inggris-dan-ancaman-krisis-ekonomi\/\",\"url\":\"https:\/\/vibiznews.com\/index.php\/2026\/10\/02\/pasar-obligasi-inggris-dan-ancaman-krisis-ekonomi\/\",\"name\":\"Pasar Obligasi Inggris dan Ancaman Krisis Ekonomi - Vibiznews.com\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\/\/vibiznews.com\/#website\"},\"primaryImageOfPage\":{\"@id\":\"https:\/\/vibiznews.com\/index.php\/2026\/10\/02\/pasar-obligasi-inggris-dan-ancaman-krisis-ekonomi\/#primaryimage\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\/\/vibiznews.com\/index.php\/2026\/10\/02\/pasar-obligasi-inggris-dan-ancaman-krisis-ekonomi\/#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\/\/vibiznews.com\/wp-content\/uploads\/2016\/04\/inggris-2.jpg\",\"datePublished\":\"2026-10-02T08:35:30+00:00\",\"dateModified\":\"2026-10-02T12:00:37+00:00\",\"author\":{\"@id\":\"https:\/\/vibiznews.com\/#\/schema\/person\/ba2cdc61f74966250426e208a83feabf\"},\"breadcrumb\":{\"@id\":\"https:\/\/vibiznews.com\/index.php\/2026\/10\/02\/pasar-obligasi-inggris-dan-ancaman-krisis-ekonomi\/#breadcrumb\"},\"inLanguage\":\"en-US\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"ReadAction\",\"target\":[\"https:\/\/vibiznews.com\/index.php\/2026\/10\/02\/pasar-obligasi-inggris-dan-ancaman-krisis-ekonomi\/\"]}]},{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"en-US\",\"@id\":\"https:\/\/vibiznews.com\/index.php\/2026\/10\/02\/pasar-obligasi-inggris-dan-ancaman-krisis-ekonomi\/#primaryimage\",\"url\":\"https:\/\/vibiznews.com\/wp-content\/uploads\/2016\/04\/inggris-2.jpg\",\"contentUrl\":\"https:\/\/vibiznews.com\/wp-content\/uploads\/2016\/04\/inggris-2.jpg\",\"width\":1280,\"height\":960,\"caption\":\"Inggris\"},{\"@type\":\"BreadcrumbList\",\"@id\":\"https:\/\/vibiznews.com\/index.php\/2026\/10\/02\/pasar-obligasi-inggris-dan-ancaman-krisis-ekonomi\/#breadcrumb\",\"itemListElement\":[{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":1,\"name\":\"Home\",\"item\":\"https:\/\/vibiznews.com\/\"},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":2,\"name\":\"Pasar Obligasi Inggris dan Ancaman Krisis Ekonomi\"}]},{\"@type\":\"WebSite\",\"@id\":\"https:\/\/vibiznews.com\/#website\",\"url\":\"https:\/\/vibiznews.com\/\",\"name\":\"Vibiznews.com\",\"description\":\"Berita Bisnis | Berita Komoditi | Berita Saham\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"SearchAction\",\"target\":{\"@type\":\"EntryPoint\",\"urlTemplate\":\"https:\/\/vibiznews.com\/?s={search_term_string}\"},\"query-input\":\"required name=search_term_string\"}],\"inLanguage\":\"en-US\"},{\"@type\":\"Person\",\"@id\":\"https:\/\/vibiznews.com\/#\/schema\/person\/ba2cdc61f74966250426e208a83feabf\",\"name\":\"Fadjar Dewanto\",\"image\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"en-US\",\"@id\":\"https:\/\/vibiznews.com\/#\/schema\/person\/image\/\",\"url\":\"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/07fae60539cb2c53642a35b195c6adc2?s=96&d=mm&r=g\",\"contentUrl\":\"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/07fae60539cb2c53642a35b195c6adc2?s=96&d=mm&r=g\",\"caption\":\"Fadjar Dewanto\"},\"description\":\"Editor in Chief Vibiz Media Network, Coordinating Partner of Business Advisory Vibiz Consulting.\",\"sameAs\":[\"http:\/\/www.vibiznews.com\"],\"url\":\"https:\/\/vibiznews.com\/index.php\/author\/fadjar-dewanto\/\"}]}<\/script>\n<!-- \/ Yoast SEO plugin. -->","yoast_head_json":{"title":"Pasar Obligasi Inggris dan Ancaman Krisis Ekonomi - Vibiznews.com","robots":{"index":"index","follow":"follow","max-snippet":"max-snippet:-1","max-image-preview":"max-image-preview:large","max-video-preview":"max-video-preview:-1"},"canonical":"https:\/\/vibiznews.com\/index.php\/2026\/10\/02\/pasar-obligasi-inggris-dan-ancaman-krisis-ekonomi\/","og_locale":"en_US","og_type":"article","og_title":"Pasar Obligasi Inggris dan Ancaman Krisis Ekonomi - Vibiznews.com","og_description":"(Vibiznews-Kolom) Pasar obligasi sering kali menjadi tempat pertama yang memperlihatkan kegelisahan investor terhadap kondisi sebuah negara. Pergerakan pasar saham memang lebih mudah terlihat karena diberitakan setiap hari, tetapi perubahan pada pasar obligasi pemerintah dapat membawa konsekuensi yang jauh lebih luas. Ketika investor mulai meminta imbal hasil yang semakin tinggi, pemerintah harus membayar lebih mahal untuk [&hellip;]","og_url":"https:\/\/vibiznews.com\/index.php\/2026\/10\/02\/pasar-obligasi-inggris-dan-ancaman-krisis-ekonomi\/","og_site_name":"Vibiznews.com","article_published_time":"2026-10-02T08:35:30+00:00","article_modified_time":"2026-10-02T12:00:37+00:00","og_image":[{"width":1280,"height":960,"url":"https:\/\/vibiznews.com\/wp-content\/uploads\/2016\/04\/inggris-2.jpg","type":"image\/jpeg"}],"author":"Fadjar Dewanto","twitter_card":"summary_large_image","twitter_misc":{"Written by":"Fadjar Dewanto","Est. reading time":"9 minutes"},"schema":{"@context":"https:\/\/schema.org","@graph":[{"@type":"WebPage","@id":"https:\/\/vibiznews.com\/index.php\/2026\/10\/02\/pasar-obligasi-inggris-dan-ancaman-krisis-ekonomi\/","url":"https:\/\/vibiznews.com\/index.php\/2026\/10\/02\/pasar-obligasi-inggris-dan-ancaman-krisis-ekonomi\/","name":"Pasar Obligasi Inggris dan Ancaman Krisis Ekonomi - Vibiznews.com","isPartOf":{"@id":"https:\/\/vibiznews.com\/#website"},"primaryImageOfPage":{"@id":"https:\/\/vibiznews.com\/index.php\/2026\/10\/02\/pasar-obligasi-inggris-dan-ancaman-krisis-ekonomi\/#primaryimage"},"image":{"@id":"https:\/\/vibiznews.com\/index.php\/2026\/10\/02\/pasar-obligasi-inggris-dan-ancaman-krisis-ekonomi\/#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/vibiznews.com\/wp-content\/uploads\/2016\/04\/inggris-2.jpg","datePublished":"2026-10-02T08:35:30+00:00","dateModified":"2026-10-02T12:00:37+00:00","author":{"@id":"https:\/\/vibiznews.com\/#\/schema\/person\/ba2cdc61f74966250426e208a83feabf"},"breadcrumb":{"@id":"https:\/\/vibiznews.com\/index.php\/2026\/10\/02\/pasar-obligasi-inggris-dan-ancaman-krisis-ekonomi\/#breadcrumb"},"inLanguage":"en-US","potentialAction":[{"@type":"ReadAction","target":["https:\/\/vibiznews.com\/index.php\/2026\/10\/02\/pasar-obligasi-inggris-dan-ancaman-krisis-ekonomi\/"]}]},{"@type":"ImageObject","inLanguage":"en-US","@id":"https:\/\/vibiznews.com\/index.php\/2026\/10\/02\/pasar-obligasi-inggris-dan-ancaman-krisis-ekonomi\/#primaryimage","url":"https:\/\/vibiznews.com\/wp-content\/uploads\/2016\/04\/inggris-2.jpg","contentUrl":"https:\/\/vibiznews.com\/wp-content\/uploads\/2016\/04\/inggris-2.jpg","width":1280,"height":960,"caption":"Inggris"},{"@type":"BreadcrumbList","@id":"https:\/\/vibiznews.com\/index.php\/2026\/10\/02\/pasar-obligasi-inggris-dan-ancaman-krisis-ekonomi\/#breadcrumb","itemListElement":[{"@type":"ListItem","position":1,"name":"Home","item":"https:\/\/vibiznews.com\/"},{"@type":"ListItem","position":2,"name":"Pasar Obligasi Inggris dan Ancaman Krisis Ekonomi"}]},{"@type":"WebSite","@id":"https:\/\/vibiznews.com\/#website","url":"https:\/\/vibiznews.com\/","name":"Vibiznews.com","description":"Berita Bisnis | Berita Komoditi | Berita Saham","potentialAction":[{"@type":"SearchAction","target":{"@type":"EntryPoint","urlTemplate":"https:\/\/vibiznews.com\/?s={search_term_string}"},"query-input":"required name=search_term_string"}],"inLanguage":"en-US"},{"@type":"Person","@id":"https:\/\/vibiznews.com\/#\/schema\/person\/ba2cdc61f74966250426e208a83feabf","name":"Fadjar Dewanto","image":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"en-US","@id":"https:\/\/vibiznews.com\/#\/schema\/person\/image\/","url":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/07fae60539cb2c53642a35b195c6adc2?s=96&d=mm&r=g","contentUrl":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/07fae60539cb2c53642a35b195c6adc2?s=96&d=mm&r=g","caption":"Fadjar Dewanto"},"description":"Editor in Chief Vibiz Media Network, Coordinating Partner of Business Advisory Vibiz Consulting.","sameAs":["http:\/\/www.vibiznews.com"],"url":"https:\/\/vibiznews.com\/index.php\/author\/fadjar-dewanto\/"}]}},"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/vibiznews.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/602985","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/vibiznews.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/vibiznews.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/vibiznews.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/101053"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/vibiznews.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=602985"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/vibiznews.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/602985\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":602986,"href":"https:\/\/vibiznews.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/602985\/revisions\/602986"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/vibiznews.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/279559"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/vibiznews.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=602985"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/vibiznews.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=602985"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/vibiznews.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=602985"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}