(Vibiznews – Index) – Bursa saham Amerika mendapat kekuatan penuh dari pergerakan harga minyak mentah hingga membuat indeks utamanya pada penutupan sesi Jumat (03/04/2020) melompat tinggi melampaui perdagangan sebelumnya. Lonjakan harga minyak mentah menekan tekanan jual awal sesi oleh data klaim pengangguran AS yang mengecewakan.
Harga minyak mentah pada akhir perdagangan sesi Amerika ditutup melonjak hingga naik 20 persen lebih setelah Presiden Donald Trump diberitakan berbicara dengan Presiden Rusia Vladimir Putin dan Pangeran Mahkota Saudi Mohammad Bin Salman untuk mengurangi produksi sekitar 10 juta barel atau bahkan 15 juta barel.
Indeks Dow Jones naik 469,93 poin atau 2,2 persen menjadi 21.413,44, indeks Nasdaq melonjak 126,73 poin atau 1,7 persen menjadi 7.487,31 dan indeks S&P 500 melonjak 56,40 poin atau 2,3 persen menjadi 2.526,90.
Penutupan yang lebih tinggi di Wall Street sebagian besar disebabkan oleh kekuatan saham-saham sektor energi, yang bergerak naik tajam seiring dengan lonjakan harga minyak mentah.
Secara sektoral, saham sektor energi mendapat kekuatan hingga membuat NYSE Arca Oil Index melonjak 9,1 persen, sementara itu NYSE Arca Natural Gas Index and the Philadelphia Oil Service Index naik masing-masing sebesar 6,4 persen dan 6,2 persen.
Kekuatan substansial juga terlihat di antarasaham emas, sebagaimana tercermin oleh kenaikan 4,8 persen oleh NYSE Arca Gold Bugs Index. Reli saham emas karena harga harga logam mulia juga bergerak naik tajam. Saham semikonduktor, bioteknologi dan utilitas juga mencetak kekuatan yang cukup besar, ditutup lebih tinggi bersama dengan sebagian besar sektor utama lainnya.
Tekanan jual awal sesi di Wall Street dipicu oleh laporan Departemen Tenaga Kerja yang menunjukkan lonjakan klaim pengangguran awal dalam pekan yang berakhir 28 Maret. Klaim melonjak ke 6,648 juta melebihi ekspektasi untuk kenaikan 3,5 juta.
Jul Allens/ Senior Analyst Vibiz Research Center-Vibiz Consulting



