(Vibiznews – Indeks) – Perdagangan saham di bursa Jepang masih alami tekanan profit taking lanjutan untuk 3 sesi berturut pada hari Jumat (19/2/2021), yang mengalahkan optimisme atas pemulihan ekonomi yang cepat. Indeks Nikkei turun ke posisi terendah sepekan dan secara mingguan masih cetak gain untuk minggu ketiga berturut-turut.
Sentimen juga terbebani oleh laporan bahwa pemerintah AS di Washington akan mempertahankan tarif yang dikenakan pada barang-barang China oleh mantan pemerintahan Trump untuk saat ini dan bahwa DPR AS meluncurkan kembali undang-undang yang akan melarang impor dari wilayah Xinjiang China.
Nikkei juga dilemahkan oleh rilis data indeks harga konsumen Jepang yang masih kontraksi, indeks harga konsumen turun 0,6% yoy karena pandemi terus menyeret konsumsi, sementara itu aktivitas pabrik tumbuh untuk pertama kalinya dalam 22 bulan dan sektor swasta menyusut dengan kecepatan yang lebih rendah.

Indeks harian Nikkei ditutup 218,17 poin atau 0,72% menjadi 30017,92, terendah sejak 12 Februari. Demikian untuk indeks Topix turun 0,67% menjadi 1.928,95 serta turun 0,25% untuk minggu ini. Demikian untuk indeks Nikkei berjangka bulan Maret 2021 bergerak turun 190 poin atau 0,63% menjadi 30040.
Saham Fast Retailing, yang memiliki bobot tertinggi di Nikkei, anjlok 2,4%, membalikkan kenaikan awal karena investor profit taking menyusul kenaikan hampir 10% minggu ini. Beberapa saham terkait perjalanan juga tergelincir setelah naik awal pekan ini, saham ANA Holdings turun 3,9%, sedangkan Japan Airlines turun 3,7%. Central Japan Railway kehilangan 3,7%.
Jul Allens / Senior Analyst Vibiz Research Center-Vibiz Consulting


