(Vibiznews – Index) – Bursa saham AS berhasil cetak gain yang lumayan pada perdagangan yang berakhir Rabu dinihari (16/3/2022) merespon penurunan harga minyak dan data inflasi produsen yang lebih rendah dari perkiraan. Semua indeks utama rebound dan melonjak cukup signifikan, Nasdaq naik dari posisi terendah 10 bulan.
Indeks Dow Jones melonjak 599,10 poin atau 1,8 persen menjadi 33.544,34, indeks Nasdaq melonjak 367,40 poin atau 2,9 persen menjadi 12.948,62 dan indeks S&P 500 melonjak 89,34 poin atau 2,1 persen menjadi 4.262,45.
Kekuatan saham Wall Street diperoleh dari aksi bargain hunting investor pasca turunnya harga minyak mentah dan data indeks harga produsen (PPI) AS, meredakan kekhawatiran atas meningkatnya tekanan inflasi dan prospek bahwa Fed akan bergerak lebih agresif untuk menaikkan suku bunga.
Harga minyak mentah berjangka WTI terus turun diperdagangkan di bawah $100 per barel, memperpanjang penurunan 5,8% pada hari Senin dan sekarang lebih dari 25% di bawah level tertinggi 14-tahun baru-baru ini di $130,5 yang dicapai minggu lalu. Investor terus mengikuti negosiasi antara Ukraina dan Rusia dan mulai khawatir tentang permintaan di China setelah gelombang baru infeksi virus corona memicu lockdown.
Departemen Tenaga Kerja melaporkan indeks harga produsen untuk permintaan akhir naik 0,8 persen pada Februari setelah melonjak 1,2 persen pada Januari, data ini lebih rendah dari perkiraan untuk naik 0,9 persen.
Secara sektoral, saham maskapai penerbangan menunjukkan kinerja terbaik pasar hari ini, dengan NYSE Arca Airline Index melonjak 5,6 persen. Saham United Airlines, Delta Air Lines dan Southwest Airlines melonjak setelah ketiga maskapai menaikkan prospek pendapatan mereka.
Kekuatan yang signifikan juga terlihat di antara saham semikonduktor, dengan Philadelphia Semiconductor Index melonjak 4,4 persen setelah sebelumnya ada di level penutupan terendah dalam hampir sepuluh bulan.
Saham ritel juga menunjukkan pergerakan substansial ke atas hari ini, mendorong Indeks Ritel AS Dow Jones naik 3,1 persen. Sementara itu terjadi pergerakan sebaliknya pada saham energi imbas penurunan harga minyak mentah.



