Tahun 2026 dibuka dengan dinamika global yang langsung menguji ketahanan pasar keuangan. Penangkapan Presiden Venezuela Nicolás Maduro oleh Amerika Serikat menjadi pemicu awal meningkatnya kembali ketegangan geopolitik, khususnya di sektor energi. Namun di luar headline yang dramatis, perekonomian global justru memasuki fase yang lebih struktural: transisi menuju pertumbuhan yang lebih seimbang, inflasi yang lebih terkendali, serta arah kebijakan moneter yang semakin jelas setelah beberapa tahun penuh guncangan.
Bagi investor dan pelaku pasar, 2026 bukan sekadar kelanjutan dari tren sebelumnya, melainkan titik peralihan penting. Risiko geopolitik masih tinggi, fragmentasi perdagangan global belum mereda, dan ketidakpastian kebijakan tetap menjadi faktor utama. Namun, dibandingkan periode pasca-pandemi hingga lonjakan inflasi global, lanskap ekonomi dunia kini menawarkan visibilitas yang lebih baik terhadap arah kebijakan makro.
Pasar Minyak: Venezuela Kembali Disorot, Tekanan Pasokan Masih Mendominasi
Pasar minyak mengawali 2026 dengan sorotan tajam pada Venezuela. Penangkapan Nicolás Maduro oleh AS memunculkan kembali risiko pasokan jangka pendek, mengingat posisi Venezuela sebagai negara dengan salah satu cadangan minyak terbesar di dunia. Meski demikian, reaksi pasar relatif terbatas. Investor tampaknya menilai bahwa risiko geopolitik ini telah sebagian tercermin dalam harga, terutama setelah pembatasan terhadap kapal tanker yang terkena sanksi AS.
Dalam perspektif jangka panjang, skenario transisi politik yang lebih stabil justru berpotensi membuka jalan bagi pemulihan produksi minyak Venezuela. Namun proses tersebut diperkirakan memakan waktu bertahun-tahun dan membutuhkan investasi asing dalam skala besar dimana hal ini sulit direalisasikan dalam waktu dekat, terutama mengingat kondisi politik dan regulasi domestik.
Di sisi lain, faktor yang jauh lebih dominan bagi harga minyak adalah kondisi pasokan global. Peningkatan produksi OPEC+ telah menyebabkan pelemahan signifikan di pasar fisik minyak Timur Tengah, mencerminkan pasar yang masih kelebihan pasokan. Dengan latar belakang ini, prospek minyak global untuk 2026 tetap bearish. Harga Brent diproyeksikan rata-rata berada di sekitar US$57 per barel, menandakan bahwa sentimen fundamental lebih berpengaruh dibandingkan risiko geopolitik episodik.
Ekonomi AS Kuat, Fed Punya Ruang Pangkas Suku Bunga di 2026
Di Amerika Serikat, data ekonomi terbaru menunjukkan perekonomian masih tumbuh solid di akhir 2025. Inflasi melambat dan pasar tenaga kerja mulai mendingin, memberikan sinyal bahwa kebijakan moneter ketat mulai bekerja. Namun, di balik headline positif tersebut, struktur pertumbuhan memperlihatkan ketidakseimbangan yang semakin nyata.
Pertumbuhan PDB kuartal ketiga 2025 yang mencapai 4,3% (tahunan) banyak ditopang oleh perdagangan neto dan belanja pemerintah Adalah dua faktor yang berpotensi berbalik arah pada kuartal-kuartal berikutnya. Konsumsi rumah tangga dan investasi memperlihatkan pola pemulihan berbentuk huruf K. Kelompok berpendapatan tinggi terus meningkatkan belanja seiring lonjakan kekayaan finansial, sementara rumah tangga menengah dan bawah masih dibayangi ketidakpastian pekerjaan dan tekanan tarif terhadap daya beli.
Di sisi investasi, euforia kecerdasan buatan (AI) mendorong lonjakan belanja teknologi, menciptakan kontras tajam dengan melemahnya investasi perumahan dan belanja modal non-teknologi. Dengan dinamika tersebut, laju pertumbuhan ekonomi AS diperkirakan melambat mendekati 2% pada 2026 lebih berkelanjutan, tetapi jauh dari performa luar biasa pasca-pandemi.
Inflasi inti yang turun ke 2,6% memang memberikan ruang kebijakan bagi Federal Reserve, meskipun sebagian penurunan tersebut dinilai bersifat teknis. Perlambatan pertumbuhan upah, pendinginan pasar sewa, dan harga energi yang lebih rendah memperkuat argumen bahwa inflasi tetap berada di jalur menuju target 2%. Dalam skenario dasar, The Fed diperkirakan masih akan memangkas suku bunga kebijakan dua kali lagi sepanjang 2026.
Zona Euro: Harapan Baru dari Stimulus Fiskal
Zona euro memasuki 2026 dengan anggota baru, Bulgaria, sehingga kini mencakup 21 negara. Kawasan ini menutup 2025 dengan data aktivitas yang melemah, tercermin dari penurunan PMI komposit. Namun, ekspektasi pertumbuhan justru membaik dan mencapai level tertinggi sejak invasi Rusia ke Ukraina, mencerminkan optimisme terhadap stimulus fiskal Jerman.
Meskipun pertumbuhan kuartal keempat 2025 diperkirakan lebih lemah dibandingkan kuartal sebelumnya, ekonomi zona euro diproyeksikan mengalami percepatan bertahap sepanjang 2026, dengan pertumbuhan PDB rata-rata sekitar 1,2%. Inflasi diperkirakan terus menurun, didukung oleh harga energi yang lebih rendah dan perlambatan kenaikan upah. Dengan inflasi yang diproyeksikan berada di sekitar 1,9%, Bank Sentral Eropa diperkirakan mempertahankan suku bunga di level 2% sepanjang tahun ini.
Inggris : BoE Sinyalkan Pemangkasan Suku Bunga Lanjutan
Bank of England memangkas suku bunga pada Desember, dan sejumlah indikator menunjukkan bahwa pelonggaran kebijakan moneter masih berlanjut. Inflasi pangan, yang selama ini menjadi perhatian utama kubu hawkish, mulai melandai seiring tren di negara-negara Eropa lainnya.
Tekanan di pasar tenaga kerja semakin jelas. Jumlah lowongan kerja berada di bawah level pra-pandemi di sebagian besar sektor, sementara PHK mulai meningkat. Tingkat pengangguran naik dan pertumbuhan upah melambat dengan cepat. Data ekonomi juga mengindikasikan pelemahan pada kuartal keempat, meskipun interpretasinya masih perlu kehati-hatian karena pola PDB Inggris cenderung lebih kuat di paruh pertama tahun.
Meski demikian, Bank of England tetap berhati-hati. Survei internal Bank menunjukkan penurunan ekspektasi pertumbuhan upah di kalangan korporasi mulai tertahan. Dengan keterbatasan data hingga awal Februari, peluang pemangkasan suku bunga dalam waktu dekat masih terbatas. Namun, tekanan di pasar tenaga kerja membuat pemangkasan pada Maret menjadi skenario dasar, diikuti satu pemangkasan lagi pada Juni.
China dan Asia: Stimulus Domestik di Tengah Tekanan Eksternal
Perekonomian Tiongkok masih menghadapi perlambatan yang bersifat luas, meskipun indikator PMI Desember memberikan sinyal stabilisasi. Fokus kebijakan tetap pada upaya mendorong konsumsi domestik melalui perpanjangan kebijakan tukar tambah, stabilisasi sektor properti, serta potensi langkah untuk meningkatkan pendapatan dan memperkuat jaring pengaman sosial.
Di sisi eksternal, ketegangan perdagangan kembali meningkat. Meksiko menaikkan tarif terhadap produk Tiongkok, sementara Beijing membalas dengan menaikkan tarif produk susu Uni Eropa. Namun, Tiongkok juga memangkas tarif impor atas ratusan produk strategis, termasuk material canggih, sebagai bagian dari upaya menjaga momentum pengembangan teknologi.
Di kawasan Asia lainnya, pertumbuhan tetap tangguh meskipun menunjukkan divergensi yang jelas. Negara-negara berbasis teknologi seperti Korea Selatan, Taiwan, dan Singapura mencatat aktivitas manufaktur yang kuat. Singapura menjadi sorotan dengan pertumbuhan PDB 4,8% pada 2025, jauh melampaui ekspektasi awal tahun. Sebaliknya, India menghadapi tekanan dari pelemahan rupee, defisit perdagangan yang melebar, dan arus keluar portofolio, meskipun penurunan nilai tukar riil dinilai dapat membatasi pelemahan lebih lanjut.
Jepang: Risiko Geopolitik dan Rantai Pasok
Jepang menghadapi peningkatan risiko geopolitik setelah Tiongkok membatasi ekspor barang guna ganda yang berpotensi memiliki aplikasi militer. Dengan ketergantungan sekitar 70% terhadap logam tanah jarang dari Tiongkok, sektor manufaktur Jepang berada dalam posisi rentan. Meski dampak jangka pendek dapat diredam oleh cadangan strategis, risiko eskalasi konflik ekonomi tetap menjadi perhatian utama.
Dolar AS, Suku Bunga Global Menuju Normalisasi di 2026
Dolar AS menutup 2025 di dekat level terendah tahunan, lebih disebabkan oleh aktivitas lindung nilai ketimbang aksi jual aset AS. Dengan prospek tambahan pemangkasan suku bunga The Fed dan pemulihan bertahap di Eropa, tren pelemahan dolar diperkirakan berlanjut secara terbatas pada 2026.
Di pasar obligasi, 2026 dipandang sebagai tahun menuju normalisasi. Imbal hasil Treasury AS tenor 10 tahun diperkirakan bergerak di kisaran 4,25–4,5%, sementara di Eropa, belanja fiskal Jerman berpotensi mendorong swap rate 10 tahun mendekati 3%.
2026 Tahun Transisi bagi Investor Global
Tahun 2026 bukanlah tahun tanpa risiko. Geopolitik, fragmentasi ekonomi, dan ketidakpastian kebijakan masih membayangi. Namun, dibanding beberapa tahun terakhir, arah kebijakan global kini lebih terdefinisi. Bagi investor, kunci 2026 bukan sekadar mengejar imbal hasil, melainkan mengelola transisi menuju dunia dengan pertumbuhan lebih seimbang dan suku bunga yang lebih “normal” sebuah fase yang menuntut kehati-hatian, disiplin, dan strategi jangka panjang.



