Kebijakan Trump Bebani Wall Street, Rekor Dow Jones Terkoreksi oleh Buruknya Keuangan JPMorgan,

118
wall street

(Vibiznews – Index) – Pergerakan harga saham Wall Street berfluktuasi sebelum turun ke posisi lebih rendah pada perdagangan yang berakhir Rabu dinihari (14/1/2026) dengan semua indeks utama terkoreksi dari rekornya.

Dow Jones turun  0,8% menjadi 49.191,99, Nasdaq turun  0,1% menjadi 23.709,87 dan S&P 500 turun 0,2% menjadi 6.963,74.

Dow Jones mundur dari rekor penutupan tertinggi awal pekan di tengah penurunan saham JPMorgan Chase (JPM), dengan raksasa keuangan tersebut anjlok sebesar 4,2%.

Harga saham JPMorgan tertekan setelah laporan laba kuartal keempat yang menurun dibandingkan tahun sebelumnya, meskipun pendapatan yang disesuaikan melebihi perkiraan analis.

Selain itu pergerakan harga yang bergerjolak terjadi di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik di seluruh dunia dan serangkaian usulan dari Presiden Donald Trump.

Trump baru-baru ini menyerukan pembatasan suku bunga kartu kredit selama satu tahun sebesar 10% dan juga mengatakan bahwa perusahaan pertahanan tidak boleh diizinkan untuk menerbitkan dividen atau pembelian kembali saham dan bahwa investor institusional besar harus dilarang membeli rumah keluarga tunggal.

Dari laporan ekonomi AS, indeks harga konsumen di AS meningkat sesuai dengan perkiraan ekonom pada bulan Desember. Indeks harga konsumennya naik 0,3% pada bulan Desember, sesuai dengan ekspektasi ekonom.

Tidak termasuk harga makanan dan energi, harga konsumen inti naik 0,2% pada bulan Desember setelah sebelumnya diperkirakan naik sebesar 0,3%.

Untuk tingkat tahunan, inflasi mencapai 2,7% pada bulan Desember, tidak berubah dari bulan November dan sesuai dengan perkiraan. Inflasi inti tahunan  juga tidak berubah dari bulan sebelumnya di angka 2,6%.

Secara sektoral, saham maskapai penerbangan memimpin pelemahan dengan NYSE Arca Airline Index turun sebesar 2%.

Pelemahan yang signifikan juga terlihat di antara saham perangkat lunak dengan Dow Jones U.S. Software Index anjlok 1,6%.

Pergerakan sebaliknya terlihat pada saham energi dengan kinerja yang positif di tengah lonjakan harga minyak mentah.