
Lebih dari empat tahun setelah lonjakan harga terbesar dalam beberapa dekade menghantam perekonomian Amerika Serikat, bayang-bayang inflasi 2021 masih menjadi faktor penentu utama kebijakan moneter Federal Reserve. Meski tekanan harga telah mereda signifikan dari puncaknya, para pembuat kebijakan bank sentral AS tetap berhati-hati untuk melonggarkan kebijakan terlalu cepat, khawatir inflasi kembali menjauh dari target jangka panjang 2%.
Pada pertemuan terakhirnya, Federal Reserve kembali menahan suku bunga acuan, memperpanjang periode jeda setelah sebelumnya memangkas suku bunga sebesar 25 basis poin dalam tiga pertemuan berturut-turut. Keputusan tersebut mencerminkan dilema klasik bank sentral: menyeimbangkan risiko inflasi yang masih membandel dengan tanda-tanda perlambatan di pasar tenaga kerja.
Inflasi AS belum pernah turun secara konsisten di bawah 2% sejak 2021. Indeks Harga Konsumen (Consumer Price Index/CPI) tercatat naik 2,7% secara tahunan pada Desember. Angka ini memang jauh lebih rendah dibandingkan puncak tertinggi hampir 9% pada 2022 level tertinggi dalam empat decade namun tetap cukup tinggi untuk membuat The Fed enggan menyatakan kemenangan penuh atas inflasi.
Inflasi dalam Keputusan Moneter The Fed
Bagi para pejabat The Fed, lonjakan inflasi pascapandemi bukan sekadar episode statistik, melainkan pengalaman kebijakan yang membentuk cara pandang mereka hingga saat ini. Pada awal pandemi 2020, bank sentral secara agresif memangkas suku bunga hingga mendekati nol dan meluncurkan stimulus moneter besar-besaran untuk mencegah kolapsnya ekonomi dan lonjakan pengangguran massal.
Namun, yang tidak diantisipasi sepenuhnya adalah gangguan rantai pasok global, perubahan pola konsumsi, serta stimulus fiskal besar yang pada akhirnya mendorong inflasi melonjak tajam. Kesalahan penilaian awal yang menganggap tekanan harga bersifat sementara—kini menjadi pelajaran mahal bagi pembuat kebijakan moneter.
“Meski kita telah membuat banyak kemajuan dalam menekan inflasi, tingkat inflasi masih berada di atas target kami,” ujar Thomas Barkin, Presiden Federal Reserve Bank of Richmond, dalam pidato terbarunya di South Carolina. “Kondisi itu telah berlangsung sejak 2021.”
Pernyataan tersebut mencerminkan kehati-hatian yang kini mendominasi sikap The Fed. Alih-alih merespons setiap sinyal perlambatan ekonomi dengan pelonggaran agresif, bank sentral memilih pendekatan bertahap dan berbasis data.
Menahan Suku Bunga, Menjaga Kredibilitas
Federal funds rate yakni suku bunga acuan AS menjadi jangkar bagi biaya pinjaman di seluruh perekonomian, mulai dari kredit perumahan, pinjaman kendaraan, hingga pembiayaan korporasi. Secara teori, penurunan suku bunga dapat mendorong belanja dan investasi, sementara kenaikan suku bunga berfungsi menekan inflasi.
Namun, pengalaman 2021–2022 membuat The Fed lebih fokus menjaga kredibilitasnya dalam mengendalikan harga. Kekhawatiran utama adalah bahwa pelonggaran kebijakan terlalu cepat dapat menghidupkan kembali ekspektasi inflasi yang sulit dikendalikan.
“Gagal mencapai target inflasi secara berkelanjutan adalah sesuatu yang harus dipandang dengan sangat serius,” kata Barkin. Menurutnya, meskipun ada faktor satu kali seperti tarif impor atau keterlambatan pengukuran biaya perumahan, inflasi yang bertahan di atas target tidak bisa dianggap remeh.
Pandangan serupa disampaikan Raphael Bostic, Presiden Federal Reserve Bank of Atlanta. Dalam wawancara dengan CNBC, Bostic menegaskan bahwa inflasi masih terlalu tinggi menurut standar The Fed.
“Kita telah membuat kemajuan yang baik, tetapi dalam dua tahun terakhir kita cenderung terjebak di kisaran akhir 2% hingga awal 3%,” ujarnya. “Menurut saya, kita perlu menunggu dan bersikap lebih sabar.”
Pasar Tenaga Kerja Jadi Penyeimbang
Di sisi lain, The Fed tidak dapat mengabaikan mandat keduanya: mencapai tingkat lapangan kerja maksimum. Data terbaru menunjukkan perlambatan perekrutan tenaga kerja dibandingkan periode pascapandemi, meskipun tingkat pengangguran masih relatif rendah.
Perlambatan ini memicu perdebatan internal di dalam FOMC mengenai seberapa lama kebijakan moneter ketat dapat dipertahankan tanpa merusak pasar tenaga kerja. Sebagian pejabat mulai membuka ruang bagi pemangkasan suku bunga lebih lanjut jika tanda-tanda pelemahan ekonomi semakin jelas.
Gubernur The Fed Michelle Bowman termasuk di antara suara yang lebih dovish. Ia menyatakan keyakinannya bahwa inflasi akan terus bergerak turun menuju target 2% dalam beberapa bulan mendatang dan mendukung pemangkasan suku bunga hingga tiga kali dalam satu tahun ke depan.
“Jika tidak ada perbaikan yang jelas dan berkelanjutan dalam kondisi pasar tenaga kerja, kita harus siap menyesuaikan kebijakan agar lebih mendekati tingkat netral,” ujar Bowman. Ia juga menekankan pentingnya tidak bereaksi berlebihan terhadap satu laporan inflasi, terutama jika data tersebut dipengaruhi faktor musiman.
Ekspektasi Pasar dan Transisi Kepemimpinan
Pasar keuangan saat ini relatif sejalan dengan sikap hati-hati The Fed. Berdasarkan FedWatch Tool dari CME Group, pelaku pasar memperkirakan peluang pemangkasan suku bunga pada Juni sekitar 66%. Hingga saat itu, FOMC diperkirakan akan mempertahankan suku bunga pada dua pertemuan berikutnya.
Periode ini juga bertepatan dengan transisi kepemimpinan di The Fed, seiring berakhirnya masa jabatan Ketua Jerome Powell. Ketidakpastian mengenai arah kebijakan di bawah kepemimpinan baru semakin memperkuat preferensi pasar terhadap pendekatan yang konservatif dan berbasis data.
Pelajaran dari Transkrip Pandemi
Kehati-hatian The Fed saat ini semakin dapat dipahami jika menilik kembali transkrip rapat FOMC awal pandemi yang baru saja dirilis. Dalam pertemuan darurat 15 Maret 2020, para pejabat The Fed sepakat bahwa risiko terbesar adalah deflasi dan lonjakan pengangguran, bukan inflasi.
“Dampak bersih dari virus ini kemungkinan besar bersifat disinflasioner,” ujar Richard Clarida, yang saat itu menjabat sebagai Wakil Ketua The Fed. Pandangan tersebut mencerminkan konsensus kala itu bahwa pandemi akan menekan permintaan agregat.
Namun, kenyataan berjalan berbeda. Gangguan pasokan dan stimulus besar-besaran justru memicu inflasi tinggi sebuah kesalahan proyeksi yang kini membentuk kehati-hatian ekstrem dalam setiap keputusan kebijakan.
“Inflasi mengingatkan kita pada pelajaran pahit dari era 1970-an,” kata Barkin. “Inflasi terasa tidak adil, menciptakan ketidakpastian, dan sangat melelahkan bagi dunia usaha maupun konsumen.”
Inflasi Masih Menjadi Kompas The Fed
Bagi Federal Reserve, inflasi 2021 bukan sekadar masa lalu, melainkan kompas kebijakan saat ini. Selama tekanan harga belum benar-benar kembali ke target 2%, ruang untuk pemangkasan suku bunga akan tetap terbatas.
Bagi pasar global, pesan dari Washington jelas: era pelonggaran moneter agresif telah berlalu, dan setiap langkah pelonggaran ke depan akan dilakukan dengan sangat hati-hati. Dalam dunia pascapandemi yang penuh ketidakpastian, The Fed tampaknya memilih satu prinsip utama yakni lebih baik bergerak lambat daripada mengulang kesalahan yang sama.


