(Vibiznews – Forex) Indeks dolar AS berakhir turun pada hari Senin, terpicu sentimen bearish prospek pelemahan pasar tenaga kerja AS, penguatan mata uang Yen dan kekhawatiran prospek bahwa pasar global akan beralih dari aset berdenominasi dolar.
Indeks dolar AS berakhir turun 0,78% pada 96,87.
Pelemahan dolar AS terjadi pada hari Senin setelah Direktur Dewan Ekonomi Nasional Hassett mengatakan kita harus mengharapkan angka pekerjaan AS yang sedikit lebih rendah, dengan alasan pertumbuhan penduduk yang lebih lambat dan produktivitas yang lebih tinggi.
Penguatan Yen Jepang juga menekan dolar AS, setelah kemenangan telak Perdana Menteri Takaichi memicu ekspektasi intervensi valuta asing karena kebijakan fiskalnya yang longgar.
Dolar AS juga berada di bawah tekanan pada hari Senin setelah laporan Bloomberg mengatakan bahwa regulator Tiongkok telah menyarankan lembaga keuangan untuk mengurangi kepemilikan obligasi pemerintah AS, yang memicu kekhawatiran bahwa investor asing akan mengurangi permintaan mereka terhadap aset dolar AS.
Pasar swap memperkirakan peluang penurunan suku bunga sebesar -25 basis poin pada pertemuan kebijakan berikutnya pada tanggal 17-18 Maret sebesar 19%.
Malam nanti akan dirilis data ADP Employment Change Weekly AS, juga data Retail Sales Desember AS.
Juga akan ada pernyataan dari pejabat Fed Hammack dan Logan.
Analyst Vibiz Research Center memperkirakan untuk perdagangan selanjutnya, indeks dolar AS masih akan menghadapi sentimen bearish pelemahan data tenaga kerja, penguatan mata uang saingannya dan prospek pelemahan dolar AS. Juga jika malam nanti data ADP Employment Change Weekly AS dan Retail Sales Desember AS terealisir turun, akan menekan dolr AS. Namun jika pernyataan pejabat Fed memberikan sinyal hawkish untuk kebijakan suku bunga, akan menguatkan dolar AS. Indeks dolar AS diperkirakan akan bergerak dalam kisaran Support 96,52-96,17. Namun jika naik, akan bergerak dalam kisaran Resistance 97,49-98,11.



