Tekanan harga di Amerika Serikat diperkirakan masih bertahan pada awal tahun ini. Inflasi Januari kemungkinan menunjukkan bahwa proses penurunan harga berlangsung lebih lambat dari harapan, seiring perusahaan menaikkan harga setelah musim liburan dan dampak kebijakan perdagangan yang belum sepenuhnya mereda.
Data Indeks Harga Konsumen (Consumer Price Index/CPI) yang akan dirilis Departemen Tenaga Kerja AS diproyeksikan naik 0,3% secara bulanan, sama seperti kenaikan pada Desember, berdasarkan survei ekonom. Sementara secara tahunan, inflasi diperkirakan melambat tipis menjadi 2,5% dari 2,7% pada bulan sebelumnya.
Meski secara tahunan tampak menurun, dinamika bulanan menjadi perhatian utama pasar dan bank sentral. Angka 0,3% per bulan jika berlanjut akan menghasilkan laju inflasi tahunan yang tetap berada di atas target Federal Reserve sebesar 2%.
Pola Musiman dan “Efek Januari”
Awal tahun kerap diwarnai penyesuaian harga oleh pelaku usaha. Setelah periode diskon dan promosi akhir tahun, banyak perusahaan memperbarui daftar harga untuk mengimbangi kenaikan biaya operasional.
“Perusahaan cenderung menaikkan harga di awal tahun, setelah musim liburan,” ujar Diego Anzoategui, ekonom di Morgan Stanley. “Faktor musiman tidak sepenuhnya menghilangkan pola ini, sehingga inflasi yang sudah disesuaikan musiman cenderung lebih tinggi dibandingkan bulan-bulan lain dalam setahun.”
Fenomena yang sering disebut sebagai “efek Januari” ini secara historis membuat angka CPI bulan pertama tahun kalender kerap melampaui ekspektasi pasar. Biro Statistik Tenaga Kerja (BLS) memang menggunakan model penyesuaian musiman untuk menghilangkan fluktuasi rutin, namun para ekonom menilai model tersebut belum sepenuhnya menghapus lonjakan awal tahun.
Dalam laporan Januari kali ini, BLS juga akan memperbarui faktor penyesuaian musiman untuk mencerminkan pola harga terbaru hingga 2025. Langkah tersebut berpotensi memicu revisi terhadap data lima tahun terakhir. Namun, analis memperkirakan pembaruan tersebut tidak akan menghilangkan pola kenaikan khas Januari.
Pasar Tenaga Kerja Masih Solid
Laporan inflasi ini hadir di tengah data ketenagakerjaan yang menunjukkan ekonomi AS tetap tangguh. Pertumbuhan lapangan kerja pada Januari tercatat lebih kuat dari perkiraan, sementara tingkat pengangguran turun menjadi 4,3% dari 4,4% pada Desember.
Pasar tenaga kerja yang stabil menjadi faktor penting dalam menjaga daya beli rumah tangga. Dengan tingkat pengangguran relatif rendah dan upah yang tetap tumbuh, konsumen memiliki ruang untuk menyerap kenaikan harga.
Bagi Federal Reserve, kondisi ini menciptakan dilema. Di satu sisi, inflasi memang telah turun jauh dari puncaknya. Di sisi lain, ketahanan ekonomi dan pasar tenaga kerja berisiko membuat inflasi tetap “lengket” di atas target.
The Fed saat ini mempertahankan suku bunga acuan overnight pada kisaran 3,50%–3,75%. Dengan inflasi yang belum sepenuhnya kembali ke target 2%, bank sentral memiliki sedikit urgensi untuk segera memangkas suku bunga.
Dampak Tarif Perdagangan Masih Terasa
Para ekonom juga menilai bahwa sebagian tekanan harga berasal dari dampak lanjutan kebijakan tarif perdagangan yang luas. Biaya impor yang lebih tinggi tidak sepenuhnya langsung diteruskan ke konsumen pada saat pertama kali diberlakukan. Namun, seiring permintaan domestik tetap kuat, perusahaan memiliki ruang lebih besar untuk meneruskan kenaikan biaya tersebut.
Barang-barang seperti pakaian, perabot rumah tangga, dan produk rekreasi diperkirakan masih mencerminkan dampak tarif. “Dengan permintaan yang tetap kuat, kami tidak melihat alasan kuat bagi perusahaan untuk berhenti meneruskan biaya tarif kepada konsumen, dengan hanya sekitar 40% kenaikan biaya yang berhasil diserap kembali,” kata Andy Schneider, ekonom senior AS di BNP Paribas.
Selain itu, pelemahan dolar AS berbasis perdagangan selama setahun terakhir juga dapat menambah tekanan harga impor.
Ekonom JPMorgan dalam catatannya menyebutkan bahwa kombinasi pass-through tarif dan faktor nilai tukar berpotensi membuat inflasi kembali menguat sementara waktu tahun ini.
Harga Pangan dan Energi
Harga pangan diperkirakan kembali meningkat pada Januari setelah melonjak 0,7% pada Desember. Sebagian ekonom mengaitkan lonjakan tersebut dengan gangguan pengumpulan data harga selama penutupan pemerintahan tahun lalu yang menyebabkan volatilitas.
Kebijakan pelonggaran dan pemangkasan tarif atas beberapa produk pangan impor, termasuk sayuran dan pisang, dinilai dapat membantu meredakan tekanan harga dalam jangka menengah. Selain itu, kekhawatiran awal bahwa kebijakan imigrasi ketat akan memicu kekurangan tenaga kerja pertanian secara luas tampaknya belum sepenuhnya terwujud.
“Meskipun banyak pekerja migran kemungkinan meninggalkan pekerjaan karena takut deportasi dan arus pekerja baru melambat tajam, kebijakan imigrasi tidak berdampak sebesar yang dikhawatirkan terhadap tenaga kerja pertanian,” ujar Dean Baker, peneliti senior di Center for Economic and Policy Research.
Di sisi energi, harga bensin diperkirakan turun. Namun, biaya listrik justru berpotensi meningkat akibat lonjakan permintaan dari pusat data yang mendukung perkembangan kecerdasan buatan. Permintaan listrik yang tinggi untuk infrastruktur digital menjadi sumber tekanan baru pada komponen utilitas rumah tangga.
Inflasi Inti Masih di Atas Target
Jika komponen pangan dan energi yang volatil dikeluarkan, CPI inti diperkirakan naik 0,3% secara bulanan setelah meningkat 0,2% pada Desember. Secara tahunan, inflasi inti diperkirakan berada di kisaran 2,5%, turun tipis dari 2,6%.
Komponen seperti sewa rumah, layanan kesehatan, obat resep, dan asuransi kendaraan bermotor diperkirakan masih menunjukkan kenaikan solid. Inflasi sektor jasa, yang sangat dipengaruhi oleh kondisi pasar tenaga kerja, menjadi komponen paling persisten dalam beberapa bulan terakhir.
Sebagian ekonom memperkirakan kenaikan harga hotel dan tarif penerbangan yang melonjak pada Desember akan sedikit mereda pada Januari. Namun, tekanan pada sewa dan biaya layanan medis diperkirakan tetap stabil.
Inflasi Melambat, Tapi Belum Cukup Aman
Dengan inflasi yang masih di atas target dan ekonomi tetap tumbuh, Federal Reserve kemungkinan memilih pendekatan hati-hati. Alih-alih segera memangkas suku bunga, bank sentral dapat mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama guna memastikan tekanan harga benar-benar mereda.
Bagi pasar keuangan global, sinyal tersebut berarti ekspektasi pelonggaran moneter agresif perlu disesuaikan. Suku bunga yang lebih tinggi dalam periode lebih panjang dapat mendukung dolar AS dan menahan reli aset berisiko.
Namun, selama inflasi tidak kembali melonjak tajam, skenario kenaikan suku bunga tambahan juga tampak kecil kemungkinannya. Fokus kebijakan kini bergeser dari meredam lonjakan inflasi ke memastikan inflasi secara bertahap dan berkelanjutan kembali ke target.
Dengan demikian, data Januari bukan hanya sekadar pembacaan bulanan, melainkan indikator penting apakah inflasi AS benar-benar berada di jalur menuju stabilitas harga atau justru memasuki fase baru inflasi moderat yang lebih persisten.



