Harga Minyak Melonjak, The Fed Naikkan Suku Bunga atau Tahan?

136

Lonjakan harga minyak global kembali menempatkan Federal Reserve dalam posisi yang tidak nyaman. Di satu sisi, tekanan inflasi berpotensi meningkat. Di sisi lain, risiko perlambatan ekonomi semakin nyata. Konflik Iran yang memicu gangguan pasokan energi global kini menjadi ujian baru bagi arah kebijakan moneter Amerika Serikat.

Ketua The Fed Jerome Powell menegaskan bahwa respons bank sentral terhadap lonjakan harga energi kali ini tidak akan bersifat otomatis. Sebaliknya, semuanya akan bergantung pada satu faktor kunci: durasi guncangan tersebut.

“Semua akan bergantung pada seberapa lama situasi ini berlangsung, bagaimana dampaknya terhadap harga, dan bagaimana konsumen bereaksi,” ujar Powell dalam konferensi pers pekan lalu. “Dampak ekonominya bisa besar, bisa kecil. Kita belum tahu.”

Pernyataan ini mencerminkan ketidakpastian yang tinggi, sekaligus menegaskan bahwa The Fed saat ini berada dalam mode “wait and see” menunggu arah yang lebih jelas sebelum mengambil langkah kebijakan.

Pelajaran dari Sejarah: Tidak Ada Respons Tunggal

Secara historis, terdapat pandangan umum bahwa The Fed cenderung tidak merespons langsung lonjakan harga minyak. Pendekatan yang dikenal sebagai look through ini berarti bank sentral memilih untuk mengabaikan kenaikan harga energi yang bersifat sementara, selama ekspektasi inflasi tetap terkendali.

Namun, sejarah menunjukkan bahwa pendekatan ini tidak selalu konsisten.

Riset yang dipimpin oleh Matthew Luzzetti dari Deutsche Bank Securities mengungkap bahwa respons The Fed terhadap guncangan minyak sangat bergantung pada konteks ekonomi saat itu, terutama apakah inflasi atau pertumbuhan yang lebih menjadi perhatian utama.

Pada krisis energi 1973–1974, yang dipicu oleh Perang Yom Kippur dan embargo minyak Arab, harga minyak melonjak empat kali lipat. Saat itu, Ketua The Fed Arthur Burns memilih untuk tidak menaikkan suku bunga secara agresif karena khawatir akan memperburuk pengangguran.

Fokus kebijakan saat itu adalah menjaga pertumbuhan, bukan menekan inflasi. Namun keputusan tersebut kemudian dianggap sebagai kesalahan, karena inflasi justru semakin tidak terkendali.

Pelajaran ini menjadi titik balik penting. Pada akhir 1970-an, ketika Revolusi Iran kembali memicu lonjakan harga minyak, The Fed di bawah kepemimpinan Paul Volcker mengambil pendekatan yang sangat berbeda.

Volcker secara agresif menaikkan suku bunga hingga mencapai 20% pada 1980, dengan prioritas utama menekan inflasi—meskipun harus mengorbankan pertumbuhan ekonomi dan memicu resesi.

Pendekatan ini memperkuat kredibilitas The Fed sebagai penjaga stabilitas harga, dan menjadi fondasi kebijakan moneter modern.

Era Modern: Inflasi Kembali Jadi Fokus

Dalam beberapa dekade berikutnya, pendekatan The Fed menjadi lebih seimbang. Selama Perang Teluk, di bawah kepemimpinan Alan Greenspan, bank sentral awalnya fokus pada inflasi, tetapi kemudian beralih ke mendukung pertumbuhan ketika ekonomi mulai melemah.

Kasus terbaru terjadi pada 2022, saat Invasi Rusia ke Ukraina mendorong harga minyak di atas $100 per barel. Kali ini, The Fed kembali mengutamakan inflasi.

Di bawah Powell, bank sentral meluncurkan siklus kenaikan suku bunga paling agresif sejak era Volcker. Namun penting dicatat, pemicunya bukan hanya harga minyak, melainkan lonjakan inflasi pasca pandemi yang sudah lebih dulu terjadi.

Hal ini menegaskan bahwa dalam konteks modern, kredibilitas The Fed dalam mengendalikan inflasi menjadi prioritas utama.

Perang Iran: Risiko Guncangan yang Lebih Persisten

Konflik Iran saat ini menghadirkan tantangan yang berbeda. Tidak seperti guncangan sementara, perang yang berlarut-larut berpotensi menciptakan tekanan harga energi yang lebih persisten.

Gubernur The Fed Chris Waller menyoroti risiko ini. Ia menyatakan bahwa jika harga minyak tetap tinggi dalam jangka waktu lama, dampaknya akan merambat ke berbagai sektor ekonomi.

“Minyak adalah input bagi banyak produk. Jika harganya tetap tinggi selama berbulan-bulan, maka dampaknya akan meluas,” ujar Waller dalam wawancara dengan CNBC.

Menurutnya, perbedaan utama terletak pada durasi. Kenaikan harga yang bersifat sementara tidak memerlukan respons kebijakan agresif. Namun jika tekanan harga menjadi persisten, maka risiko inflasi yang lebih luas akan meningkat.

Waller juga mengingatkan bahwa pada 1970-an, The Fed awalnya menganggap lonjakan harga energi sebagai fenomena sementara. Namun kenyataannya, guncangan tersebut berlangsung berulang kali dan menjadi permanen, sehingga memperburuk inflasi.

Dua Skenario Ekonomi: Cepat Reda atau Berkepanjangan

Pandangan serupa disampaikan oleh Presiden The Fed San Francisco Mary Daly, yang mengidentifikasi dua kemungkinan skenario ke depan.

Dalam skenario pertama, konflik Iran mereda dalam waktu dekat. Harga energi turun, dan dampaknya terhadap ekonomi AS bersifat terbatas. Dalam kondisi ini, The Fed kemungkinan akan tetap menggunakan pendekatan look through, yaitu mengabaikan kenaikan inflasi yang bersifat sementara.

Namun dalam skenario kedua, konflik berlangsung lebih lama. Gangguan pasokan energi berlanjut, harga tetap tinggi, dan tekanan biaya meningkat.

Jika skenario ini terjadi, maka risiko inflasi yang lebih tinggi, pertumbuhan yang lebih lambat, dan pelemahan pasar tenaga kerja akan meningkat secara simultan.

“Kondisi ini akan memperbesar trade-off dalam kebijakan moneter,” tulis Daly. Artinya, The Fed akan menghadapi dilema yang lebih kompleks antara menjaga stabilitas harga dan mendukung pertumbuhan ekonomi.

Pasar dan Ekspektasi: The Fed Diperkirakan Menahan Suku Bunga

Di tengah ketidakpastian ini, pasar cenderung memperkirakan bahwa The Fed akan menahan suku bunga dalam waktu dekat.

Matthew Luzzetti menilai bahwa bank sentral kemungkinan akan diberi ruang oleh pasar untuk mengabaikan sementara guncangan dari sisi penawaran, seperti lonjakan harga energi.

Namun, ia juga mengingatkan bahwa inflasi telah berada di atas target terlalu lama. Data terbaru menunjukkan bahwa proses penurunan inflasi tidak secepat yang diharapkan.

Di sisi lain, meskipun pertumbuhan ekonomi AS masih relatif kuat, risiko perlambatan tetap ada terutama jika harga energi terus meningkat.

Dalam skenario harga minyak bertahan di sekitar $100 per barel, dampak negatif terhadap konsumsi masih dapat diimbangi oleh stimulus fiskal. Namun jika harga mencapai $150 per barel, tekanan terhadap daya beli konsumen akan menjadi jauh lebih besar.

Bahkan, jika harga minyak bertahan di atas $100 per barel selama beberapa bulan, kondisi tersebut dapat memasuki “zona berbahaya” yang berpotensi menekan pertumbuhan ekonomi secara signifikan.

Faktor Geopolitik: Harapan dari Diplomasi

Di tengah ketegangan, terdapat secercah harapan dari jalur diplomasi. Presiden Donald Trump menyatakan bahwa Amerika Serikat sedang melakukan pembicaraan dengan Iran, dengan sejumlah poin kesepakatan yang berpotensi mengakhiri konflik.

Ia juga menyampaikan optimisme bahwa Selat Hormuz—jalur strategis yang menjadi kunci distribusi minyak global akan segera dibuka kembali.

Jika hal ini terjadi, tekanan pada harga minyak diperkirakan akan mereda dengan cepat.

Trump bahkan memprediksi bahwa harga minyak dapat “turun drastis” setelah jalur tersebut kembali normal.

Namun, pasar tetap berhati-hati. Ketidakpastian geopolitik masih tinggi, dan perkembangan situasi dapat berubah dengan cepat.

Arah Kebijakan The Fed: Fleksibel, Tapi Waspada

Dalam pertemuan terakhir, The Fed memutuskan untuk menahan suku bunga, mencerminkan pendekatan yang hati-hati.

Jerome Powell menegaskan bahwa meskipun opsi kenaikan suku bunga sempat dibahas, mayoritas pejabat tidak melihatnya sebagai skenario utama.

Namun, ia juga menegaskan bahwa semua opsi tetap terbuka.

“Kami tidak mengeluarkan opsi apa pun dari meja,” kata Powell.

Pernyataan ini menunjukkan bahwa The Fed akan tetap fleksibel dalam merespons perkembangan ekonomi, terutama jika tekanan inflasi meningkat akibat harga energi.

Dilema yang Belum Memiliki Jawaban

Lonjakan harga minyak akibat konflik Iran menempatkan The Fed dalam dilema klasik: antara menekan inflasi atau menjaga pertumbuhan.

Sejarah memberikan pelajaran berharga, tetapi tidak menawarkan jawaban pasti. Setiap episode guncangan energi memiliki karakteristik yang berbeda, dan respons kebijakan harus disesuaikan dengan kondisi saat ini.

Dalam jangka pendek, arah kebijakan The Fed akan sangat bergantung pada evolusi konflik dan dampaknya terhadap harga energi.

Jika tekanan bersifat sementara, The Fed kemungkinan akan tetap bersabar. Namun jika guncangan menjadi persisten, bank sentral mungkin tidak memiliki pilihan selain kembali ke kebijakan yang lebih ketat.

Bagi pasar, satu hal yang jelas: ketidakpastian akan tetap tinggi.

Dan dalam lingkungan seperti ini, setiap pergerakan harga minyak bukan hanya menjadi indikator ekonomi tetapi juga penentu arah kebijakan moneter global.