(Vibiznews – Index) – Bursa Saham Wallstreet pada penutupan pasar hari Kamis ditutup melemah dengan indeks S&P 500, Nasdaq, dan Dow Jones kompak tertekan oleh aksi jual.
Anjloknya saham-saham teknologi dan pembuat chip membebani pasar meskipun banyak perusahaan mencatat laporan pendapatan kuartalan yang kuat.
Imbal hasil dari Obligasi AS naik merespons rilis data penjualan ritel dan klaim pengangguran yang lebih baik dari perkiraan, serta munculnya kekhawatiran inflasi energi akibat sentimen geopolitik.
Pasar modal juga tertekan oleh kekhawatiran valuasi sektor AI yang dinilai sudah terlalu tinggi.
Indeks S&P 500 ditutup turun -0.51% ke level 7,533.77, Indeks Nasdaq ditutup turun -1.50% ke level 25,881.95 dan indeks Dow Jones Industrial ditutup turun –0.20% ke level 52,552.97.
Meskipun indeks utama melemah, secara internal pergerakan saham cukup solid di mana hampir tiga dari empat saham di S&P 500 sebenarnya mengalami kenaikan. Banyak perusahaan telah melaporkan pendapatan kuartalannya yang berada di atas perkiraan analis, namun besarnya bobot saham-saham teknologi yang anjlok menarik indeks secara keseluruhan.
Pengaruh Data Ekonomi AS menunjukkan fundamental yang kuat. Laporan penjualan ritel (retail sales) di bulan Juni terus tumbuh dengan laju yang solid. Laporan mingguan klaim pengangguran awal (initial jobless claims) AS juga tercatat turun ke level terendah dalam lebih dari dua bulan terakhir, sehingga pasar tenaga kerja terlihat tetap menguat di atas ekspektasi.
Saham-saham yang mengerakkan bursa hari Kamis:
Saham-saham teknologi dan *chipmaker* melemah tajam pada hari Kamis. Sandisk ditutup turun –12.6%, Western Digital anjlok –9.2%, dan Micron Technology turun –5.6%, membawa kerugian signifikan bagi indeks Nasdaq.
Taiwan Semiconductor Manufacturing Co. (TSM) menjadi sorotan positif setelah merilis laporan laba kuartal terakhir yang lebih kuat dari perkiraan, meski sahamnya tidak mampu menahan kejatuhan sektor cip secara keseluruhan.
Analyst Vibiz Research Center memperkirakan pergerakan bursa Wall-Street akan sangat memperhatikan pengaruh sisa laporan pendapatan (earnings) dari perusahaan-perusahaan berkapitalisasi besar dan memantau ketat rilis data ekonomi AS terkait pergerakan inflasi ke depannya.






