Bursa Wall Street Selasa Melemah Tertekan Aksi Jual Saham Teknologi dan Semikonduktor

67
wall street

(Vibiznews – Index) – Bursa Saham Wall Street pada penutupan pasar hari Selasa waktu AS (18 Agustus 2026) berakhir kompak melemah, memperpanjang tren koreksi bursa AS selama tiga hari perdagangan berturut-turut setelah sempat menyentuh level rekor tertinggi pada pekan lalu. Tekanan utama datang dari lonjakan tajam imbal hasil (yield) obligasi pemerintah AS serta aksi jual massal di sektor teknologi dan semikonduktor.

Indeks S&P 500 ditutup turun -0,69% atau 53,30 poin ke level 7.691,76. Indeks Nasdaq Composite ditutup anjlok -1,33% atau 355,20 poin ke level 26.289,71. Indeks Dow Jones Industrial Average ditutup melemah -0,22% atau 116,38 poin ke level 53.343,40. Sementara itu, indeks Russell 2000 yang mewakili saham berkapitalisasi kecil ikut tertekan turun -1,30% atau 39,65 poin ke level 3.017,89.

Kejatuhan massal saham cip dan memori menjadi pemberat utama pergerakan pasar pada sesi perdagangan kali ini. Sektor teknologi tertekan hebat dipimpin oleh rontoknya saham-saham semikonduktor, dengan SanDisk anjlok -9%, Seagate Technology jatuh -9%, Western Digital merosot -7%, dan Nvidia turun lebih dari -2% akibat aksi ambil untung (profit taking) besar-besaran dari tren kecerdasan buatan (AI) yang sebelumnya reli kencang.

Dari sisi makro, sentimen negatif dipicu oleh imbal hasil (yield) obligasi AS tenor 30 tahun yang melonjak ke level tertinggi sejak 2007, menyentuh kisaran 5,34%. Kekhawatiran terhadap inflasi jangka panjang kembali terangkat seiring naiknya harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) ke level USD 84,90 per barel, akibat kebuntuan geopolitik antara AS dan Iran terkait jalur logistik strategis di Selat Hormuz.

Analyst Vibiz Research Center memperkirakan pergerakan bursa Wall Street pada sesi perdagangan selanjutnya akan sangat dipengaruhi oleh arah pergerakan yield obligasi AS serta kelanjutan tekanan jual di sektor teknologi dan semikonduktor, sembari pasar tetap mencermati perkembangan negosiasi geopolitik AS-Iran dan pergerakan harga minyak dunia yang berpotensi memberikan sentimen lanjutan bagi arah bursa dalam beberapa hari mendatang.