(Vibiznews – Index) Perdagangan Indeks Nikkei Jepang hari ini, Kamis, 3 September 2026, ditutup melemah tipis setelah melalui sesi perdagangan yang sangat fluktuatif, menandai kelanjutan konsolidasi pasar pasca ambles 2,85% pada hari sebelumnya.
Indeks Nikkei 225 ditutup melemah 0,17% dan berakhir di level 64.214,48. Bursa saham Tokyo sempat dibuka menguat signifikan hingga menyentuh level tertinggi hariannya di 64.724,81 pada awal sesi pagi, akibat aksi borong balik investor. Namun, indeks terus tertekan sepanjang paruh kedua dan sempat anjlok hingga ke level terendah 63.772,80, sebelum akhirnya berhasil memangkas sebagian kerugian menjelang penutupan.
Sesi pagi mendapat dorongan sentimen positif dari Wall Street menyusul meredanya kekhawatiran inflasi AS berkat data ketenagakerjaan ADP yang lebih lambat dari perkiraan. Kondisi ini memicu aksi beli kembali saham-saham cip dan AI yang sempat terpukul jatuh. Raksasa teknologi seperti SoftBank Group melesat 2,9%, sementara produsen peralatan cip Tokyo Electron dan Kioxia Holdings turut memimpin penguatan awal. Kekhawatiran pasar terhadap eskalasi konflik di Timur Tengah juga sedikit mereda setelah adanya indikasi bahwa ketegangan militer terbaru tidak akan berlangsung lama, membantu menstabilkan harga minyak mentah dan mendinginkan kepanikan investor global yang terjadi sehari sebelumnya.
Meski demikian, laju penguatan saham terhambat oleh realitas pasar obligasi domestik. Imbal hasil obligasi JGB tenor 10 tahun bertahan di kisaran 3%, mencatatkan level tertinggi sejak tahun 1996. Tingginya biaya pinjaman ini secara struktural terus menekan valuasi ekuitas di Bursa Efek Tokyo. Para pelaku pasar juga bersikap ekstra hati-hati menjelang pertemuan kebijakan moneter BOJ pada 17-18 September mendatang, setelah pernyataan Gubernur BOJ Kazuo Ueda yang memperingatkan risiko kenaikan harga memperkuat ekspektasi pasar bahwa bank sentral akan menaikkan suku bunga acuan, sebuah sinyal hawkish yang cenderung menekan emiten eksportir besar Jepang.
Di sisi lain, nilai tukar yen merangkak naik ke level tertinggi dalam tiga minggu terakhir terhadap dolar AS, berada di batas atas kisaran 158. Penguatan mata uang lokal ini secara langsung memicu aksi penyeimbangan kembali portofolio, karena berpotensi menggerus prospek laba perusahaan eksportir raksasa Jepang, sehingga turut membatasi ruang gerak indeks pada penutupan hari ini.








