
(Vibiznews – Index) – Bursa Saham Wall Street pada penutupan pasar hari Kamis waktu AS (Jumat pagi WIB, 11 September 2026) berakhir kembali melemah, menandai penurunan selama empat hari perdagangan beruntun. Kejatuhan pasar kali ini dipicu utamanya oleh lonjakan tajam harga minyak mentah dunia yang menembus level USD 100 per barel, serta imbal hasil (yield) obligasi US Treasury tenor 10 tahun yang melonjak ke level tertinggi dalam hampir tiga tahun terakhir.
Indeks Dow Jones Industrial Average ditutup turun -0,60% atau 316,56 poin ke level 52.064,10. Indeks S&P 500 ditutup melemah -0,58% atau 44,66 poin ke level 7.591,70. Sementara itu, indeks Nasdaq Composite ditutup turun -0,65% atau 171,62 poin ke level 26.081,72.
Lonjakan harga minyak dunia menjadi sentimen negatif utama yang membebani pasar pada sesi perdagangan kali ini. Harga minyak mentah WTI melonjak +6,7% ke level USD 102,48 per barel, sementara harga minyak Brent naik +5,9% ke level USD 107,63 per barel. Ini merupakan harga penutupan tertinggi sejak bulan Mei lalu dan langsung memicu ketakutan pasar terhadap potensi inflasi energi yang lebih tinggi.
Tingginya imbal hasil obligasi AS turut menambah tekanan bagi pasar saham. Yield Treasury tenor 10 tahun yang mendekati level 4,95% terus menekan kinerja emiten berbasis teknologi dan pertumbuhan, seiring proyeksi biaya modal yang semakin mengetat bagi perusahaan-perusahaan tersebut.
Kombinasi lonjakan harga energi dan tingginya yield obligasi ini turut mengubah ekspektasi pasar terhadap arah kebijakan suku bunga The Fed. Berdasarkan CME FedWatch Tool, pelaku pasar kini melihat adanya peluang sebesar 70% bahwa The Fed akan menaikkan suku bunga acuan setidaknya 25 basis poin pada pertemuan tanggal 16 September mendatang, akibat rilis data inflasi produsen (PPI) serta kecenderungan harga komoditas yang masih mahal.
Analyst Vibiz Research Center memperkirakan pergerakan bursa Wall Street pada sesi perdagangan selanjutnya akan sangat dipengaruhi oleh arah lanjutan harga minyak dunia dan yield obligasi AS, serta ekspektasi pasar terhadap keputusan suku bunga The Fed pada pertemuan tanggal 16 September mendatang, sembari pasar tetap mencermati perkembangan geopolitik AS-Iran yang masih menjadi sumber utama volatilitas harga energi global.







