Bursa Wall Street Kamis Ditutup Merosot Tertekan Lonjakan Yield Treasury AS

64

(Vibiznews – Index) – Bursa Saham Wall Street pada penutupan pasar hari Rabu waktu AS (23 September 2026) berakhir ambruk signifikan, memutus reli rekor yang berlangsung beruntun pada sesi-sesi sebelumnya. Koreksi tajam ini dipicu oleh melonjkaknya imbal hasil obligasi AS ke level tertinggi dalam 19 tahun terakhir, ditambah kembali naiknya harga komoditas energi dunia.

Indeks Dow Jones Industrial Average ditutup anjlok -0,68% atau 352,10 poin ke level 51.511,59. Indeks S&P 500 ditutup merosot -0,75% atau 58,61 poin ke level 7.706,03. Sementara itu, indeks Nasdaq Composite ditutup terpuruk -1,13% atau 308,24 poin ke level 26.936,04, setelah sempat mencetak rekor tertinggi pada sesi-sesi sebelumnya.

Lonjakan masif yield obligasi AS menjadi tekanan utama yang membebani pasar pada sesi perdagangan kali ini. Aksi jual besar-besaran melanda pasar obligasi negara, dengan imbal hasil (yield) surat utang US Treasury tenor 10 tahun melonjak drastis hingga menembus level 5,11%, rekor tertinggi sejak Juli 2007. Kenaikan yield instrumen berisiko rendah ini secara instan memukul valuasi saham-saham pertumbuhan yang berbiaya modal tinggi.

Data aktivitas bisnis AS yang panas turut menambah kecemasan pasar. Rilis data bulanan survei S&P menunjukkan aktivitas bisnis sektor swasta dan tekanan biaya input meningkat di atas ekspektasi. Kondisi ekonomi yang dinilai terlalu kuat ini mempertebal kekhawatiran pasar bahwa Federal Reserve akan melanjutkan kenaikan suku bunga lanjutan secara hawkish, alih-alih segera memangkasnya seperti yang diharapkan investor.

Harga minyak mentah dunia kembali melonjak setelah tren penurunan yang sempat berlangsung beberapa hari terakhir mendadak terhenti dan berbalik arah. Harga minyak Brent naik tajam sekitar +3,9% ke level USD 103,08 per barel, akibat pembentukan kembali kekhawatiran pasar terhadap risiko re-inflasi energi global.

Ketegangan geopolitik antara AS dan Iran turut memperparah sentimen risk-off di pasar. Presiden Iran di sela-sela Sidang Umum PBB menyatakan bahwa negaranya tidak akan tunduk pada tekanan sanksi ekonomi AS. Retorika ini merusak harapan damai yang sempat muncul sebelumnya dan menaikkan premi risiko geopolitik pada harga minyak global.

Aksi ambil untung (profit taking) turut mewarnai perdagangan hari Rabu, dengan saham-saham raksasa teknologi seperti Alphabet dan Amazon memimpin pelemahan sub-sektor teknologi informasi, menyusul rekor harga tertinggi yang sempat dicetak pada pekan ini.

Analyst Vibiz Research Center memperkirakan pergerakan bursa Wall Street pada sesi perdagangan selanjutnya akan sangat dipengaruhi oleh arah lanjutan yield obligasi AS pasca menyentuh level tertinggi dalam 19 tahun, data ekonomi AS lanjutan yang akan menjadi acuan kebijakan suku bunga The Fed, serta perkembangan ketegangan geopolitik AS-Iran dan pergerakan harga minyak dunia yang masih berpotensi membayangi sentimen pasar dalam beberapa hari mendatang.