(Vibiznews – Forex) Indeks dolar AS bergerak turun hari Jumat, 2 Oktober 2026, setelah data ketenagakerjaan AS bulan September yang lebih lemah dari perkiraan.
Indeks dolar AS bergerak turun 0,28% pada 101,09.
Baik data Non Farm Payrolls maupun rata-rata upah per jam mencatat kenaikan yang lebih rendah dari ekspektasi, sehingga mengurangi kemungkinan kenaikan suku bunga The Fed pada akhir bulan ini.
Anjloknya harga minyak mentah WTI sebesar -4% hari ini menurunkan ekspektasi inflasi dan dapat mendorong The Fed untuk melonggarkan kebijakan moneter, yang merupakan faktor pelemahan bagi dolar.
Dolar semakin melemah menyusul laporan pesanan pabrik AS bulan Agustus yang juga berada di bawah perkiraan.
Data Non Farm Payrolls AS bulan September naik sebesar +29.000, lebih rendah dari perkiraan +90.000, sementara data bulan Agustus direvisi turun menjadi +133.000 dari angka awal +162.000.
Tingkat pengangguran bulan September secara tak terduga naik +0,1 menjadi 4,2%, menunjukkan kondisi pasar tenaga kerja yang lebih lemah dibandingkan ekspektasi angka tetap di 4,1%.
Rata-rata upah per jam AS bulan September naik +0,1% secara bulanan (m/m) dan +3,0% secara tahunan (y/y), lebih rendah dari perkiraan +0,3% (m/m) dan +3,1% (y/y).
Pesanan pabrik AS bulan Agustus naik +0,1% (m/m), lebih rendah dari perkiraan +0,2% (m/m), dan pesanan pabrik di luar sektor transportasi naik +0,3% (m/m), lebih rendah dari perkiraan +0,6% (m/m).
Pada Kamis malam, Presiden The Fed Dallas, Lorie Logan, menyatakan: “Saat ini saya memperkirakan kisaran target suku bunga *fed funds* perlu dinaikkan sebesar 50 basis poin (bp) tambahan atau lebih untuk menyeimbangkan prospek dan risiko terkait tujuan mandat ganda kami secara tepat.”
Pasar memperhitungkan adanya peluang sebesar 21% bagi kenaikan suku bunga The Fed sebesar +25 bp pada pertemuan FOMC berikutnya tanggal 27-28 Oktober.
Analyst Vibiz Research Center memperkirakan untuk perdagangan selanjutnya, indeks dolar AS turun terbeani pelemahan data tenaga kerja AS.







