(Vibiznews – Bonds) Imbal hasil Trasury AS naik pada hari Jumat, 9 Oktober 2026, saat para investor mengakhiri pekan yang penuh gejolak.
Imbal hasil Treasury AS tenor 10 tahun, acuan utama untuk suku bunga kredit perumahan (KPR), kredit kendaraan bermotor, dan utang kartu kredit, tercatat naik 2 basis poin menjadi 5,257%.
Imbal hasil obligasi Treasury AS tenor panjang 30 tahun, yang cenderung bergerak mengikuti peristiwa geopolitik, naik mendekati 1 basis poin menjadi 5,616%.
Imbal hasil obligasi Treasury tenor 2 tahun, yang lebih erat mengikuti keputusan suku bunga jangka pendek Federal Reserve, naik hampir 5 basis poin menjadi 4,804%.
Satu basis poin setara dengan 0,01% (atau seperseratus dari 1%), dan pergerakan imbal hasil serta harga obligasi berbanding terbalik satu sama lain.
Pergerakan ini terjadi setelah imbal hasil Treasury sempat turun pada sesi perdagangan sebelumnya. Sebelumnya pada pekan yang sama, imbal hasil tenor 10 tahun dan 30 tahun masing-masing sempat menyentuh level tertinggi sejak tahun 2002.
Pada hari Kamis, Departemen Keuangan menjual surat utang (notes) bertenor 30 tahun senilai $22 miliar, di mana penawar tidak langsung—termasuk bank sentral—menyerap lebih dari 72% hasil lelang; angka ini melampaui rata-rata 68% dari sepuluh lelang sebelumnya. Sehari sebelumnya, departemen tersebut telah menjual surat utang bertenor 10 tahun senilai $39 miliar.
Gubernur Federal Reserve Christopher Waller pada hari Kamis juga mengisyaratkan perlunya kenaikan suku bunga lebih lanjut untuk mengatasi inflasi yang membandel, yang telah bertahan di atas target 2% The Fed selama lebih dari lima tahun. Namun, saat berbicara di forum Bank Sentral Turki di Istanbul, Waller menyatakan bahwa kenaikan suku bunga tersebut mungkin tidak harus dilakukan dalam waktu dekat.
Di tengah kekhawatiran utama mengenai inflasi, para investor terus memantau konflik di Timur Tengah serta dampaknya terhadap harga minyak.
Presiden Trump pada hari Kamis menyatakan bahwa AS tidak akan melancarkan serangan apa pun terhadap Iran sebelum pemilihan paruh waktu bulan depan; pernyataan ini mencerminkan sikap yang lebih diplomatis di tengah penurunan dukungan publik terhadap perang di Timur Tengah.
Harga energi, yang sempat melonjak tajam sejak pecahnya konflik pada 28 Februari, kembali naik setelah sempat turun akibat komentar Trump. Kontrak berjangka West Texas Intermediate (WTI) naik sekitar 0,3% ke level sekitar $91 per barel, sementara minyak mentah Brent—yang menjadi acuan harga global—naik 0,5% ke level sekitar $104 per barel.








