Referendum Brexit yang akan dilakukan pada tanggal 23 Juni pekan depan di Inggris menjadi pusat perhatian dunia sepekan terakhir, baik pasar keuangan global juga bank sentral dunia. Referendum ini akan menentukan nasib keanggotaan negara Inggris di Uni Eropa, dimana Brexit berarti Inggris meninggalkan UE.
Menjelang referendum tersebut ada banyak media melakukan jajak pendapat untuk memilih mendukung Brexit atau Inggris tetap di Uni Eropa. Kondisi ini di pasar keuangan global membuat pergerakan pasar sangat volatile, sedangkan bagi bank sentral kondisi tersebut membuat pemangku kebijakan moneter tersebut menahan diri untuk mengubah kebijakannya.
Di pasar keuangan yang paling parah terjadi pada pasar obligasi hingga terjun ke pergerakan yang negatif. Di Amerika Serikat perdagangan hari Rabu (15/6) imbal hasil atau yield obligasi jangka panjang 10 tahun terjun ke posisi terendah dalam 4 bulan terakhir yaitu di posisi 1,541 persen.
Lalu di perdagangan obligasi sesi Asia, yield obligasi pemerintah Jepang (JGB) anjlok ke posisi negatif, terjun ke posisi -0,198 persen. Sebelumnya imbal hasil obligasi jangka panjang 10 tahun tersebut jatuh ke posisi terendah sepanjang sejarah di -0,202 persen.
Selanjutnya obligasi Jerman atau Jerman Bund yang sejak pekan lalu sudah jatuh ke posisi negatif oleh aksi beli obligasi perusahaan di kawasan Euro oleh bank sentral Eropa (ECB), semakin terjun ke posisi rekor terendah di negatif 0,035 persen setelah sempat berbalik positif pada perdagangan hari Rabu.
Terhadap kebijakan bank sentral dunia, hari ini 2 bank sentral dunia yang besar yaitu Federal Reserve (Amerika) dan BOJ (Jepang ) memutuskan tidak mengubah posisi suku bunganya. Fed yang jauh sebelumnya diberitakan akan menaikkan suku bunganya hari ini terkubur oleh sentimen Brexit.
Kondisi pasar keuangan global menjadi panik sehingga portofolio investasi mereka dialihkan kepada aset safe haven seperti komoditas emas, kurs Yen Jepang dan juga dollar AS.
H Bara/VMN/VBN/Analyst-Vibiz Research Center
Editor: Asido Situmorang