(Vibiznews – Forex) – Ditengah perdagangan forex sesi Asia hari Rabu (17/07), dolar AS yang dibuka lebih rendah dari perdagangan sebelumnya bergerak turun imbas melemahnya imbal hasil obligasi AS dikarenakan meningkatnya kembali tensi perang dagang AS-China.
Indeks dolar yang menunjukkan kekuatan dolar AS terhadap mata uang utama lainnya sedang melemah 0,09 persen dari penutupan sebelumnya ke posisi 97.31 setelah dibuka pada posisi 97.38 dan sempat mendaki ke posisi 97.41.
Perdagangan sebelumnya dolar AS naik setelah data penjualan ritel Juni AS yang lebih kuat dari perkiraan mengurangi harapan bahwa Fed dapat memangkas suku bunga sebesar 50 basis poin (bps) daripada 25 bps pada tinjauan kebijakan akhir bulan.
Poundsterling turun ke level terendah 27-bulan di $1,2396 semalam karena Boris Johnson dan Jeremy Hunt, dua kandidat untuk menjadi perdana menteri Inggris berikutnya, bersaing untuk mengalahkan satu sama lain karena mengambil sikap Brexit yang lebih keras.
Posisi Euro stabil di $1,1212 setelah kehilangan lebih dari 0,4% hari sebelumnya, kerugian terjadi setelah survei oleh lembaga ZEW menunjukkan bahwa sentimen investor Jerman memburuk lebih tajam dari yang diperkirakan pada Juli di tengah sengketa perdagangan yang berkepanjangan antara China dan Amerika Serikat serta ketegangan politik dengan Iran.
Dolar Australia hampir datar di $0,7007, setelah kehilangan 0,4% pada hari Selasa setelah komentar oleh Presiden AS Donald Trump yang menyatakan Amerika Serikat masih memiliki jalan panjang untuk menyimpulkan kesepakatan perdagangan dengan Cina tetapi dapat mengenakan tarif pada barang-barang Cina senilai $325 miliar tambahan jika diperlukan.
Untuk perdagangan selanjutnya menurut analyst Vibiz Research Center, indeks dolar diperkirakan bergerak turun ke posisi support berada di 97.04 – 96.60. Dan jika terjadi pergerakan sebaliknya akan mendaki menemui posisi resisten 97.52 – 98.25.
Jul Allens/ Senior Analyst Vibiz Research Center-Vibiz Consulting Group Editor: Asido Situmorang



