(Vibiznews – Property) – Setelah mengalami pertumbuhan yang stagnan pada tahun-tahun sebelumnya, tahun 2020 diprakirakan akan menjadi tahun bangkitnya bagi industri dan pasar properti di Indonesia. Sejumlah pelaku industri nampaknya menaruh harapan baru untuk tahun 2020.
Baru-baru ini, Ketua Umum DPD Real Estate Indonesia DKI Jakarta Arvin F. Iskandar mengatakan: “Tahun 2020 dirasa menjadi awal bangkitnya pasar properti.” Sementara, pada tahun lalu pasar properti cenderung mengalami kelesuan menyusul adanya penyelenggaraan pemilu dan stabilitas ekonomi, demikian dikatakannya kepada media dalam konferensi pers (5/2) untuk ajang pameran properti Indonesia Properti Expo (IPEX) yang akan diadakan pada 15—23 Februari mendatang di Jakarta.
Ditambahkannya, berkembangnya fasilitas Kredit Pemilikan Rumah (KPR) dengan suku bunga lebih rendah serta bertambahnya tawaran dari pengembang akan menjadi energi tambahan bagi industri properti. “Ini akan menjadi momen yang tepat bagi industri dan pengembang,” yakin Arvin.
Ajang pameran properti Indonesia Properti Expo 2020 ini diinfokan akan diikuti 116 peserta, dengan total 650 proyek mulai dari apartemen, rumah tapak, hingga resor. Rentang harga hunian yang ditawarkan mulai dari Rp 140 juta sampai rumah dengan harga Rp 2 miliar-Rp 3 miliar.
Dari jumlah tersebut, sebanyak 40 persen proyek properti merupakan rumah subsidi dengan cakupan wilayah sekitar 70-80 persen di Jabodetabek.
Dalam konferensi pers tersebut, Director of Realty PT PP Urban Budi Suanda juga menyatakan optimis bahwa tahun ini merupakan awal dari bangkitnya pasar properti. Menurutnya, hal ini karena kondisi makro ekonomi yang dinilai cukup stabil.
Selain itu, adanya kebijakan pemerintah yang dinilai semakin positif, serta pasar kaum milenial yang semakin sadar untuk segera memiliki hunian akan semakin menggairahkan industri properti pada tahun ini.
Kemudian, untuk menyasar segmen millenial, Budi mengungkapkan pihaknya akan memasarkan produk yang difokuskan untuk menyasar segmen tersebut.
Analis Vibiz Research Center melihat relaksasi Loan To Value (LTV) ratio yang dilakukan BI pada tahun lalu dapat memberikan sentimen positif agar sektor properti kembali bergairah. Selain itu, dengan stabilnya pertumbuhan ekonomi Indonesia, pengakuan rating Indonesia dari lembaga internasional -seperti Fitch dan JCR- yang semakin baik, serta kembalinya kestabilan politik dalam negeri, hal-hal tersebut akan memberikan dorongan untuk industri properti bangkit lagi. Terutamanya untuk pasar segmen menengah ke bawah dengan dominasi konsumen milenial.
Alfred Pakasi/VBN/MP Vibiz Consulting
Editor: Asido



