(Vibiznews – Forex) – Posisi dolar AS melemah pada akhir pekan lalu di tengah data AS yang suram sehingga memicu aksi profit taking, setelah sempat menjulang tinggi ke possi terkuat 10 bulan. Dari data PMI pekan lalu, output bisnis berkontraksi di negara Amerika Serikat untuk pertama kalinya sejak 2013.
Kemungkinan efek epidemi virus corona pada pertumbuhan ekonomi global membuat suasana pasar akan tertekan pekan ini. Dimana pekan lalu pasar ekuitas global ditutup di zona merah, sementara itu imbal hasil Treasury AS 30-tahun jatuh ke rekor terendah 1,89%. Sehingga timbullah kekhawatiran akan resesi melanda Jepang dan AS.
Euro dalam pair EURUSD telah menyelesaikan minggu ini di sekitar 1,0850, retracement 23,6% dari kemerosotan harian terbaru. Terjadi suatu koreksi dan kemungkinan terjadi pergerakan kuat yang terbatas.
Poundsterling dalam pari GBPUSD memantul dari posisi rendah tahunan baru, namun tetap di bawah kisaran 1,30. Data PMI manufaktur Inggris secara tak terduga melonjak. Uni Eropa dan Inggris akan memulai pembicaraan perdagangan pada bulan Maret, dimana Brexit kembali menjadi sorotan.
Aussie dalam pair AUDUSD tetap di antara rival dolar AS yang terlemah, karena ekonomi Australia sedang dilanda kegelisahan China. Yen Jepang pulih hanya sedikit setelah runtuh pada hari-hari sebelumnya, di tengah kekhawatiran resesi di Jepang.
Berikut katalis penggerak pasar lainnya yang perlu diperhatikan:
- Update korban virus corona: jumlah total yang terinfeksi coronavirus mencapai 76.946 dengan 648 kasus baru yang dikonfirmasi pada 22 Februari dan korban tewas meningkat menjadi 2.442.Di Italia korban melonjak dari tiga pada hari Jumat pagi menjadi lebih dari 130 pada hari Minggu. Sementara itu, Pusat Pencegahan dan Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (KCDC) Korea Selatan mengumumkan bahwa ada 123 kasus baru yang dikonfirmasi di negara ini sehingga jumlah total menjadi 556.
- Berita ekonomi yang lumayan berdampak pada sesi Eropa, terdapat rilis data German Ifo Bussines Climate.
Jul Allens/ Senior Analyst Vibiz Research Center, Vibiz Consulting



