(Vibiznews – Index) – Harga saham di bursa Amerika perdagangan awal pekan terjun bebas hingga berakhir dengan indeks utama anjlok parah, bahkan Dow Jones amblas ke posisi penutupan terendah dalam lebih dari dua bulan. Aksi jual saham di Wall Street masih terus berlanjut oleh kekhawatiran meluasnya penyebaran virus corona diluar China.
Lonjakan kasus koronavirus yang dikonfirmasi di Italia dan Korea Selatan serta kasus-kasus baru di negara-negara Timur Tengah seperti Irak dan Afghanistan juga menambah kekhawatiran tentang wabah yang meningkat menjadi pandemi.
Investor sempat mengabaikan kekhawatiran tentang coronavirus awal bulan ini, sehingga mendorong saham ke rekor tertinggi baru. Namun, penyebaran virus yang terus berlanjut bersama dengan beberapa perusahaan yang melaporkan dampak corona pada keuangan yang buruk tampaknya membuat investor menilai kembali posisi mereka.
Indeks Dow Jones anjlok 1.031,61 poin atau 3,6 persen menjadi 27.960,80, indeks Nasdaq anjlok 355,31 poin atau 3,7 persen menjadi 9.221,28 dan indeks S&P 500 turun 111,86 poin atau 3,4 persen menjadi 3.225,89.
Secara sektoral, saham-saham energi berubah dalam beberapa kinerja terburuk bergerak turun tajam seiring dengan harga minyak mentah. Akibatnya Philadelphia Oil Service Index anjlok 7,2 persen, NYSE Arca Oil Index anjlok 5 persen dan NYSE Arca Natural Gas Index merosot sebesar 4,2 persen.
Kekhawatiran tentang permintaan global juga berkontribusi terhadap kelemahan substansial di antara saham baja, sehingga terjadi penurunan 4,7 persen pada NYSE Arca Steel Index. Indeks jatuh ke level penutupan terendah dalam lebih dari empat bulan.
Saham semikonduktor, perangkat keras komputer, saham perantara dan transportasi juga alami kelemahan signifikan pada hari itu. Sementara itu, saham emas termasuk di antara beberapa kelompok yang melawan tren turun, dengan NYSE Arca Gold Bugs Index naik 1,5 persen ke level penutupan terbaik dalam lebih dari tiga tahun.
Jul Allens/ Senior Analyst Vibiz Research Center-Vibiz Consulting



