(Vibiznews – Indeks) – Menutup perdagangan saham pekan ini dibursa Jepang jelang libur publik selama 2 sesi pada hari Rabu (22/07/2020), indeks Nikkei turun dari posisi tertinggi dalam sepekan oleh aksi profit taking pasar. Anjloknya saham di Nikkei menghiraukan posisi pelemahan yen terhadap dolar AS.
Sentimen investor di bursa Jepang memburuk merespon berita semakin meningkatnya laju pertambahan kasus baru covid-19 seluruh dunia dengan Jepang sendiri melaporkan pada hari Selasa bertambah 757 kasus baru. Kementerian Kesehatan menyetujui penggunaan deksametason obat steroid untuk pengobatan pasien terinfeksi.
Dari laporan ekonomi, data PMI bisnis jasa Jepang versi Bank au Jibun naik menjadi 45,2 pada Juli 2020 dari 45,0 akhir pada bulan sebelumnya, sementara data PMI Manufaktur Jepang meningkat menjadi 42,6 pada bulan Juli 2020 dari 40,1 pada bulan Juni, namun masih dalam area kontraksi.
Indeks Nikkei ditutup turun 132,61 poin atau 0,58% lebih rendah ke posisi 22751,61 setelah menguat 0,73% di sesi sebelumnya. Demikian juga indeks Topix melemah 9,78 poin atau 0,62% ke posisi 1.582,74. Untuk indeks Nikkei berjangka bulan September 2020 kini sedang bergerak negatif dengan turun 90 poin atau 0,39% ke posisi 22.750.
Meningkatnya kasus baru covid-19 memberikan tekanan kuat bagi saham operator angkutan kereta api terbesar dan juga saham farmasi. Saham East Japan Railway turun 2,9% ke level terendah tujuh tahun, sementara saham West Japan Railway anjlok 1,7% ke posisi terendah sejak 2014, mencerminkan kurangnya kepercayaan investor terhadap kampanye pemerintah untuk mempromosikan pariwisata domestik.
Saham pembuat obat, di antara saham yang berkinerja terbaik pada tahap awal pandemi tertekan profit taking hingga turun 1,5% secara sektoral. Saham farmasi yang paling merugi yaitu saham Daiichi Sankyo anjlok 4,6%.
Jul Allens / Senior Analyst Vibiz Research Center-Vibiz Consulting


