(Vibiznews-Forex) – Di tengah perdagangan forex sesi Eropa hari Rabu (3/2/2021) posisi euro dalam pair EURUSD masih alami tekanan setelah 2 sesi berturut terkoreksi ke pelemahan dalam 9 pekan. Kurs euro melemah terhadap dolar AS di tengah kuatnya aset risiko dengan kenaikan posisi imbal hasil obligasi AS.
Kekuatan beberapa rilis data ekonomi yang dirilis tidak mampu memberikan tenaga yang kuat pagi pair, meningkatnya data PMI service kawasan dan juga negara anggota eurozone terbatas. Karena data yang ditunjukkan masih berada di bawah batas 50,00 poin alias area kontraksi.
Terdapat juga data tingkat inflasi tahunan di Kawasan Euro melonjak menjadi 0,9% pada Januari, tingkat tertinggi sejak Februari 2020, dan mengakhiri deflasi selama 5 bulan. Inflasi inti tahunan, tidak termasuk harga energi, makanan, alkohol & tembakau yang bergejolak dan di mana ECB melihat keputusan kebijakannya, melonjak menjadi 1,4% dari rekor terendah 0,2% di masing-masing empat bulan sebelumnya.

Indeks dolar yang menunjukkan kekuatan dolar AS terhadap banyak rival utamanya sedang dollar bergerak kuat di pasar uang Eropa melanjutkan gain 2 sesi sebelumnya; dollar mendapat sentimen dari pandangan investor bahwa AS lebih siap pulih ekonominya dibandingkan Eropa yang mengangkat imbal hasil obligasinya.
Secara teknikal menurut analyst Vibiz Research Center pair EURUSD melemah, pair kini berada di posisi 1.2017 dan tertekan terus mendekati support kuat di 1.2006 – 1.1970. Namun jika menguat kembali, pair akan naik menuju posisi 1.2049 dan jika tembus mendaki ke resisten kuat di 1.2083-1.2115.
Jul Allens/ Senior Analyst Vibiz Research Center-Vibiz Consulting



