(Vibiznews – Indeks) – Bursa saham Jepang memperpanjang kerugian sesi sebelumnya pada perdagangan hari Rabu (21/4/2021) karena kekhawatiran investor akan potensi penutupan di kota-kota terbesar negara itu menimbulkan keraguan atas prospek pembukaan kembali ekonomi. Indeks Nikkei semakin tertekan dan turun ke posisi terendah sebulan.
Pemerintah Jepang sedang mempertimbangkan keadaan darurat untuk Tokyo dan Osaka dikarenakan jumlah kasus baru COVID-19 melonjak, langkah yang akan memungkinkan otoritas prefektur untuk memberlakukan pembatasan untuk mencoba menghentikan penyebaran infeksi. Dalam sebuah laporan Institut Riset Nomura bahwa total kerugian ekonomi dari keadaan darurat baru di tiga wilayah akan menjadi 1,156 triliun yen ($10,71 miliar).

Indeks harian Nikkei ditutup anjlok 591,83 poin atau 2,03% menjadi 2.8508,55, terendah sejak sesi 20 Maret. Demikian untuk indeks Topix turun 1,98% menjadi 1.888,18. Untuk indeks Nikkei berjangka bulan Juni 2021 bergerak negatif dengan turun 600 poin atau 2,06% ke posisi 28540.
Secara sektoral mayoritas tertekan, pelemahan hari ini dipimpin oleh saham pembuat baja dan sektor material. Saham Nippon Steel jatuh 5,4%, sementara saham JFE Holdings dan saham Kobe Steel masing-masing turun 5,39% dan 4,87%. Saham Toshiba turun 3,3% setelah menolak tawaran pembelian $20 miliar dari CVC Capital Partners.
Saham Rakuten Group anjlok 5,5% dan menjadi top looser di Nikkei, menyusul laporan bahwa Amerika Serikat dan Jepang akan bersama-sama memantau perusahaan e-commerce tersebut setelah satu unit bisnis Tencent Holding ini menjadi pemegang saham utama.
Jul Allens / Senior Analyst Vibiz Research Center-Vibiz Consulting



