(Vibiznews – Forex) – Pair USDJPY pada sesi Asia Senin (26/4/2021) kembali bergerak lemah dengan memperpanjang momentum penurunan 5 sesi berturut sebelumnya, namun masih bergerak di area resisten. Pelemahan pair merespon tekanan jual pada perdagangan aset risiko dan turunnya posisi yield obligasi AS jangka panjang.
Aliran dana safe haven mendukung posisi yen di tengah meningkatnya kekhawatiran atas penguncian terkait virus corona di kota-kota terbesar Jepang. Perdana Menteri Yoshihide Suga pada hari Jumat akan mengumumkan keadaan darurat di Tokyo dan 3 prefektur Jepang barat Osaka, Kyoto dan Hyogo mempertimbangkan lonjakan kasus harian di Jepang yang melampaui 5.000 untuk hari kelima berturut-turut hingga hari Minggu.
Tekanan pada perdagangan aset risiko terlihat dari indeks berjangka AS berjangka dan perdagangan bursa saham Asia yang bergerak di zona merah. Sentimen negatif di bursa Wall Street masih dipengaruhi oleh rencana pemerintahan Biden menaikkan pajak orang kaya Amerika dua kali lipat.

Indeks dolar yang menunjukkan kekuatan dolar AS terhadap banyak rival utamanya melemah di pasar uang Asia setelah anjlok parah di sesi sebelumnya. Dolar AS masih bergerak di kisaran terendah 7 pekan merespon semakin turunnya posisi imbal hasil obligasi AS 10-tahun.
Secara teknikal menurut analyst Vibiz Research Center pair USDJPY bergerak lemah, pair yang berada di posisi 107.89 sedang turun menuju posisi S1 dan S2. Namun jika tidak tercapai akan berbalik arah dan naik kembali ke posisi 107.93, jika tembus mendaki ke R1 dan juga R2.
| R3 | R2 | R1 | Pivot | S1 | S2 | S3 |
| 108.84 | 108.49 | 108.18 | 107.82 | 107.50 | 107.15 | 106.84 |
| Buy Avg | 108.00 | Sell Avg | 107.66 |
Jul Allens/ Senior Analyst Vibiz Research Center-Vibiz Consulting



