Kinerja Reksa Dana Saham Masih Terpuruk di Tahun 2021

695

(Vibiznews – Bonds & Mutual Fund) – Kondisi pandemi Covid-19 yang terus berlangsung dan tidak tahu kapan berakhirnya menyebabkan ketidakpastian pemulihan ekonomi di negeri ini. Tentu saja hal ini menyebabkan investor khawatir serta berjaga-jaga sehingga cenderung menghindari jenis investasi yang berisiko tinggi.

Disinyalir inilah penyebab kinerja reksa dana saham sepanjang tahun 2021 sampai saat ini masih terpuruk. Hingga Jumat (23/4), kinerja pasar saham yang tercermin dari Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sebenarnya masih mencatatkan kinerja positif dengan 0,63% secara year to date (ytd).

Namun sayangnya, penguatan tersebut tidak cukup kuat untuk mendorong kinerja reksa dana saham yang tercermin dari kinerja Infovesta Equity Fund Index. Buktinya, kinerja reksa dana saham tersebut masih -3,63% secara year to date (ytd).

Pada hari ini, Senin (26/4), Infovesta Utama dalam laporan mingguannya menjelaskan, pelemahan kinerja reksa dana saham disebabkan oleh penurunan minat investor melalui penurunan unit penyertaan. Lihat saja, hingga bulan Maret 2021, unit penyertaan turun sebesar 1,96%.

Silahkan klik jika ingin join Telegram Vibiznews

Selain itu, data-data ekonomi dalam negeri juga dinilai masih kurang baik untuk mendukung kinerja reksa dana saham. Misalnya, keputusan Bank Indonesia lewat Rapat Dewan Gubernur (RDG) pada 19-20 April yang merevisi proyeksi ke bawah pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun 2021 dari 4,8% -5,8% menjadi 4,1% – 5,1%.

Belum lagi, terbatasnya mobilitas masyarakat menyebabkan tingkat konsumsi swasta cenderung stagnan. Alhasil, inflasi Indonesia secara year on year (YoY) hingga bulan Maret, turun ke level 1,37% atau turun sebesar 18,45%.

Berdasarkan hal tersebut, kinerja reksa dana saham masih bergantung terhadap sentimen pasar yang mempengaruhi minat investor.
I
nfovesta Utama pun menilai, ke depannya, sentimen terkuat yang dapat menggerakkan minat investor untuk kembali berinvestasi ke dalam reksa dana saham adalah adanya pemulihan ekonomi baik secara lokal maupun global yang didorong oleh mereda-nya kasus Covid-19 setelah program vaksinasi mulai berjalan. Namun hingga saat ini, kondisi Covid-19 justru masih belum mereda. Bahkan di India justru meningkat signifikan tercatat rekor baru dengan lebih dari 300.000 kasus harian.

Hampir serupa, lonjakan kasus juga terjadi di Jepang, yang akhirnya menetapkan masa darurat untuk wilayah ibu kota Tokyo dan tiga prefektur lainnya yang mulai berlaku sejak 25 April kemarin.

Sementara itu di Zona Eropa, seperti di Jerman, tingkat infeksi Covid-19 masih meningkat meskipun ada pembatasan sosial ketat, sehingga tidak diharapkan adanya langkah pelonggaran pembatasan sebelum akhir Mei.

Di Indonesia sendiri, dalam rangka mencegah penyebaran Covid-19 selama masa Lebaran, pemerintah telah mengumumkan adanya larangan mudik.

“Dengan masih minimnya jumlah sentimen positif, maka ke depannya pasar saham diperkirakan masih belum akan kembali ke periode bullish. Sebelum mendapatkan kepastian tersebut, maka investor diperkirakan masih akan cenderung wait and see maupun mengalihkan investasinya kepada instrumen safe haven,” demikian informasi dari Infovesta Utama.

 

Belinda Kosasih/ Partner of Banking Business Services/Vibiz Consulting
Editor : Asido Situmorang

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here