Pasar Obligasi Indonesia Memiliki Prospek Yang Positif Meski Hadapi Pengetatan Kebijakan Moneter The Fed

563
Pemerintah Akan Lelang SUN Besok (2/12/2025) Target Indikatif Rp 23 Triliun
Vibizmedia Picture

(Vibiznews – Bonds & Mutual Fund) – Obligasi merupakan salah satu instrumen investasi yang diminati pada saat ini. Memasuki semester kedua tahun ini, secara umum pasar obligasi Indonesia dinilai masih memiliki prospek yang positif. Pengurangan pasokan obligasi, hingga masih terjaganya fundamental dalam negeri bisa mendongkrak imbal hasil dari instrumen obligasi pada tahun ini

Pelaku pasar juga memperkirakan pasar obligasi Indonesia punya ketahanan yang baik menghadapi potensi pengetatan kebijakan moneter yang dilakukan oleh Federal Reserve. Faktor fundamental yang baik, hingga valuasi yang masih menarik menjadikan katalis positif untuk menghadapi potensi tersebut.

Kebijakan pengetatan The Fed dan pemulihan pertumbuhan ekonomi Amerika Serikat (AS) sudah diperhitungkan dan diterima oleh pasar. Kondisi ini dapat mempengaruhi volatilitas pergerakan imbal hasil US Treasury agar lebih terjaga.

Saat ini pelaku pasar sudah mengekspektasikan kedua hal tersebut dan melakukan antisipasinya. H, imbas terhadap pasar obligasi Indonesia juga jauh lebih terbatas. Apalagi secara fundamental perekonomian Indonesia semakin membaik seiring indikator ekonomi yang juga mengalami perbaikan.

Selanjutnya jika terjadi kenaikan yield US Treasury ke depannya, selama kenaikan tersebut terjadi secara bertahap, maka justru akan memberikan dampak yang konstruktif terhadap perekonomian dan pasar finansial Indonesia.

Selain itu, pasar obligasi Indonesia di tahun ini juga memiliki ketahanan yang baik akibat beberapa faktor positif yang menyelimuti. Jika kita lihat kondisi di pasar saat ini likuiditas tengah berlimpah akibat perbankan yang belum bisa menyalurkan kredit secara optimal. Lalu, nilai tukar rupiah yang cenderung stabil.

Apalagi, secara valuasi, obligasi Indonesia masih menarik di mana imbal hasil riil Indonesia merupakan salah satu yang tertinggi di kawasan. Selain itu, berkurangnya tekanan jual investor asing mengingat kepemilikannya pada obligasi domestik yang sudah cukup rendah (<23%).

Dengan demikian, jika ada sentimen yang lebih positif di pasar domestik maupun global, akan berpotensi menggerakkan imbal hasil obligasi pemerintah denominasi rupiah tenor 10 tahun untuk dapat turun lebih dalam dari level saat ini.

Sementara untuk pasar obligasi korporasi, ada kenaikan risiko seiring melambatnya pertumbuhan ekonomi akibat dampak penerapan PPKM Darurat. Oleh karena itu, diperlukan tiga strategi utama untuk meminimalisir risiko kredit pada obligasi korporasi.

Pertama perlu dilakukan analisa kredit internal yang ketat meliputi ongoing review dan monitoring. Kedua, menetapkan limitasi pembobotan investasi pada setiap nama emiten sesuai dengan peringkat internal yang diberikan. Ketiga, mengurangi risiko konsentrasi pada sektor tertentu dengan melakukan diversifikasi pada beberapa sektor usaha yang berbeda.

Selanjutnya perlu terus dilakukan analisa dampak kondisi ekonomi terhadap emiten obligasi korporasi yang terdapat dalam portofolio.

Belinda Kosasih/ Partner of Banking Business Services/Vibiz Consulting
Editor : Asido Situmorang

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here