(Vibiznews – Index) Bursa saham Amerika kembali melemah pada perdagangan yang berakhir Rabu dinihari (9/3/2022) di tengah pergerakan harga yang sangat fluktuatif. Dow Jones semakin tertekan di posisi terendah 12 bulan, sedangkan Nasdaq dan S&P500 terkurung di kisaran terendah 9 bulan.
Indeks Dow Jones turun 184,73 poin atau 0,6 persen menjadi 32.632,64, indeks Nasdaq turun 35,41 poin atau 0,3 persen menjadi 12.795,55 dan indeks S&P 500 turun 30,39 poin atau 0,7 persen menjadi 4.170,70.
Volatilitas di bursa Wall Street terjadi karena harga minyak mentah terus meroket ketika Presiden Joe Biden secara resmi mengumumkan larangan AS atas impor minyak Rusia, gas alam cair, dan batu bara sebagai tanggapan atas invasi Rusia ke Ukraina. Sebelumnya pada hari itu, badan eksekutif Uni Eropa, Komisi Eropa, telah berjanji untuk mengurangi impor gas Rusia hingga dua pertiga pada akhir tahun ini.
Lonjakan harga minyak mentah dunia tersebut langsung direspon cepat oleh setiap SPBU hingga mencapai rekor tertinggi $4,173 per galon. Harga bensin rata-rata nasional naik hampir $0,11 per galon dari kemarin dan naik lebih dari $0,55 per galon dari seminggu yang lalu. Kenaikan harga bensin akan membebani belanja konsumen di area lain, berpotensi menyebabkan perlambatan ekonomi bahkan ketika Federal Reserve bersiap untuk mulai menaikkan suku bunga.
Secara sektoral, saham baja menunjukkan kinerja yang paling buruk dengan NYSE Arca Steel Index anjlok 2,8 persen. Kemudian disusul oleh saham perawatan kesehatan dengan penurunan 2 persen oleh Indeks Perawatan Kesehatan AS Dow Jones.
Pergerakan sebaliknya terlihat pada saham maskapai penerbangan yang rebound dan bergerak naik tajam dengan NYSE Arca Airline Index melonjak 5,6 persen setelah mengakhiri sesi sebelumnya pada level penutupan terendah dalam lebih dari setahun. Saham jasa minyak juga terus menguat, mendorong Philadelphia Oil Service Index naik 3,3 persen ke level penutupan terbaiknya dalam hampir tiga tahun.



