(Vibiznews – Forex) – Posisi dolar AS dalam indeks dolar pada perdagangan forex sesi Eropa hari Kamis (14/4/2022) kembali tertekan melanjutkan pelemahan sesi sebelumnya yang terkoreksi dari posisi US$100. Namun posisi dolar terhadap rival utamanya terpantau bergerak mixed, melemah terhadap euro dan poundsterling.
Dolar AS melemah atas respon investor terhadap data inflasi harga konsumen Inggris, kenaikan suku bunga di Kanada, dan menantikan pengumuman kebijakan moneter Bank Sentral Eropa pada hari Kamis.
Poundsterling menguat setelah data inflasi harga konsumen Inggris dilaporkan naik menjadi 7% di bulan Maret dari 6,2% di bulan Februari, lebih besar dari perkiraan naik 6,7% dan sekaligus inflasi tahunan tertinggi sejak Januari 1997.
Demikian juga mata uang Canada – Loonie menguat karena harga minyak yang lebih tinggi dan kenaikan suku bunga Bank of Canada. Bank of Canada menaikkan suku bunga sebesar 50 basis poin menjadi 1% untuk memerangi kenaikan inflasi. Ini adalah kenaikan tunggal terbesar oleh bank sentral dalam dua dekade.
Pergerakan dolar AS juga dibebani oleh terkoreksinya posisi benchmark yield obligasi AS 10-tahun dari posisi rekor tinggi 3 tahun meski laporan PPI melonjak. Departemen Tenaga Kerja melaporkan indeks harga produsen melonjak 1,4 persen di bulan Maret setelah naik 0,9 persen di bulan Februari, lebih tinggi dari perkiraan sebesar 1,1 persen sebelumnya.
Terpantau indeks dolar yang menunjukkan kekuatan dolar AS terhadap banyak rival utamanya di pasar uang Asia sedang bergerak turun mendekati support kuatnya secara teknikal, kini indeks berada di kisaran 99,73 atau melemah 0,01% setelah dibuka pada kisaran 100,33.