(Vibiznews – Forex) – Posisi dolar AS dalam indeks dolar pada akhir perdagangan forex sesi Amerika hari Kamis dinihari (22/6/2022) ditutup lebih lemah terhadap beberapa rival utamanya kecuali poundsterling dan aussie. Lemahnya dolar AS akibat penurunan imbal hasil obligasi karena treasury naik di tengah kekhawatiran bahwa kebijakan Fed menaikkan suku bunga secara tajam kemungkinan akan menyebabkan resesi.
Sentimen investor terbebani oleh pernyataan Jerome Powell di Senat AS bahwa resesi bisa saja terjadi karena gejolak ekonomi beberapa bulan terakhir di seluruh dunia yang telah membuat lebih sulit bagi the Fed untuk mencapai target inflasi 2% dan tenaga kerja yang kuat.
Powell meyakinkan Komite Perbankan Senat bahwa Federal Reserve akan terus menaikkan suku bunga untuk menjinakkan inflasi menyusul kenaikan tertajam dalam hampir tiga dekade dan kemungkinan adanya kejutan inflasi berikutnya.

Indeks dolar yang menunjukkan kekuatan dolar AS terhadap semua rival utamanya sempat mencapai titik terendah di sekitar 103,85 setelah dibuka pada posisi 104.43, kemudian ditutup melemah 0,22 persen ke 104,20. Pergerakan selanjutnya berpotensi bergerak lemah moderat.
Terhadap Euro, dolar AS melemah menjadi $1,0566 dari $1,0534. Terhadap mata uang Jepang, dolar AS melemah, menjadi 136,22 yen dibandingkan dengan 136,62 pada sesi sebelumnya. Demikian terhadap Franc Swiss telah melemah menjadi 0,9614 per dolar dari 0,9662.
Namun terjadi pergerakan sebaliknya terhadap poundsterling yang naik sedikit di $ 1,2265, demikian juga dengan aussie menguat di 0,6928 dari 0,6970. Loonie Canada telah melemah menjadi 1,2947 per dolar karena harga minyak turun tajam dan juga tingkat inflasi Canada meningkat menjadi 7,7% pada Mei 2022, tertinggi sejak Januari 1983.



