(Vibiznews – Economy & Business) Dalam beberapa tahun terakhir, kebijakan perdagangan Amerika Serikat di bawah pemerintahan Donald Trump terus menjadi sorotan dunia. Dengan tujuan menciptakan perdagangan yang lebih adil bagi AS. Presiden Trump kembali mengusulkan dengan memerintahkan investigasi terkait penerapan kebijakan tarif timbal balik yang diharapkan dapat meningkatkan pendapatan negara. Namun, langkah ini juga menuai kritik karena berpotensi memperburuk inflasiyang sedang meningkat dan memicu perang dagang global.
Daftar Kebijakan Tarif Trump 2025
Pada tahun 2025, Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, telah mengumumkan serangkaian kebijakan tarif impor yang signifikan. Berikut adalah rincian mengenai waktu penerapan, negara-negara yang terdampak, dan jenis barang yang dikenakan tarif:
- Tarif 25% untuk Baja dan Aluminium
- Tanggal Penerapan: Mulai 10 Februari 2025
- Negara Terdampak: Semua negara pengekspor
- Barang yang Dikenakan Tarif: Produk baja dan aluminium
Kebijakan ini bertujuan untuk melindungi industri dalam negeri AS dari persaingan global dan meningkatkan daya saing manufaktur domestik.
- Tarif 25% untuk Mobil, Semikonduktor, dan Farmasi
- Tanggal Pengumuman: 2 April 2025
- Negara Terdampak: Negara-negara pengekspor utama, termasuk Uni Eropa dan Jepang
- Barang yang Dikenakan Tarif: Mobil, semikonduktor, dan produk farmasi
Langkah ini diambil sebagai bagian dari upaya Trump untuk mengurangi defisit perdagangan dan mendorong perusahaan memindahkan produksi ke AS.
- Tarif 25% untuk Impor dari Kanada dan Meksiko
- Tanggal Penerapan: Mulai 1 Februari 2025
- Negara Terdampak: Kanada dan Meksiko
- Barang yang Dikenakan Tarif: Beragam produk impor
Trump menegaskan bahwa tarif ini diberlakukan karena kedua negara tersebut dianggap telah memanfaatkan AS dalam hubungan perdagangan sebelumnya.
- Tarif 10% untuk Impor dari China
- Tanggal Penerapan: Mulai 1 Februari 2025
- Negara Terdampak: China
- Barang yang Dikenakan Tarif: Beragam produk impor
Kebijakan ini merupakan bagian dari strategi Trump untuk menekan China terkait praktek perdagangan yang dianggap tidak adil.
Pengenaan tarif-tarif ini diharapkan dapat meningkatkan produksi dalam negeri dan mengurangi defisit perdagangan AS. Namun, para ekonom memperingatkan potensi kenaikan harga bagi konsumen dan kemungkinan terjadinya perang dagang dengan negara-negara mitra.
Tarif Balasan dari Negara-Negara Mitra Dagang AS
Beberapa negara telah memberlakukan tarif balasan terhadap Amerika Serikat sebagai respons terhadap kebijakan tarif yang diterapkan oleh pemerintahan Presiden Donald Trump. Berikut adalah beberapa negara yang telah mengambil tindakan tersebut:
- China: Sebagai tanggapan atas tarif yang dikenakan oleh AS, China telah memberlakukan tarif tambahan sebesar 10% pada berbagai produk impor dari Amerika Serikat, termasuk minyak mentah, mesin pertanian, dan mobil.
- Uni Eropa: Setelah AS menerapkan tarif sebesar 25% untuk impor baja dan 10% untuk aluminium dari negara-negara asing, termasuk Uni Eropa, pada tahun 2025, Uni Eropa mempertimbangkan untuk memberlakukan tarif balasan pada produk-produk asal AS.
Selain itu, negara-negara seperti Kanada dan Meksiko juga telah menyatakan niat mereka untuk mengambil langkah-langkah balasan terhadap tarif yang dikenakan oleh AS pada produk impor mereka.
Langkah-langkah ini mencerminkan meningkatnya ketegangan perdagangan global sebagai akibat dari kebijakan tarif yang saling berbalas antara Amerika Serikat dan mitra dagangnya.
Latar Belakang dan Tujuan Tarif Timbal Balik
Howard Lutnick, calon Menteri Perdagangan pilihan Trump, mengungkapkan bahwa investigasi ini diperkirakan akan selesai pada 1 April. Setelah itu, Trump akan memutuskan apakah akan menerapkan tarif baru pada 2 April.
Tarif timbal balik adalah janji utama kampanye Trump, yang bertujuan menciptakan perdagangan yang lebih adil bagi AS dengan mengenakan tarif yang setara terhadap negara-negara yang menerapkan tarif terhadap produk Amerika.
“Mereka mengenakan pajak atau tarif pada kita, kita akan mengenakan jumlah yang sama kepada mereka,” kata Trump sebelum menandatangani memo yang disebut “Fair and Reciprocal Plan” di Gedung Oval.
Dalam menghitung tarif timbal balik, pemerintah AS juga akan mempertimbangkan pajak pertambahan nilai (VAT) yang diterapkan oleh negara-negara lain. Trump mengklaim bahwa VAT lebih merugikan dibandingkan tarif impor biasa.
Dampak Ekonomi dan Reaksi Pasar
Pengumuman ini dilakukan menjelang pertemuan Trump dengan Perdana Menteri India, Narendra Modi. Trump secara khusus menyoroti tarif tinggi yang dikenakan India terhadap sepeda motor AS, seperti Harley Davidson. Menurut data Gedung Putih, India mengenakan tarif 100% terhadap sepeda motor AS, sedangkan AS hanya mengenakan tarif 2,4% terhadap sepeda motor India.
Trump menyatakan bahwa India dapat menghindari tarif baru jika mereka memindahkan lebih banyak produksi ke AS, dengan mengatakan, “Jika kalian membangun di sini, maka tidak akan ada tarif sama sekali. Dan saya pikir ini akan menciptakan banyak lapangan kerja di negara kita.”
Namun, banyak ekonom memperingatkan bahwa tarif ini dapat berdampak buruk pada perekonomian AS. Jika perusahaan-perusahaan tidak dapat menyerap kenaikan biaya akibat tarif ini, maka konsumen AS akan menghadapi kenaikan harga yang signifikan, menurut Justin Weidner, ekonom dari Deutsche Bank.
Bahkan Wall Street Journal mempertanyakan apakah Trump memahami dampak ekonomi dari kebijakannya. Senator Partai Republik dari Kentucky, Mitch McConnell, juga mengkritik tarif ini karena dapat meningkatkan biaya hidup bagi warga negaranya.
Negara-Negara yang Berpotensi Terkena Dampak
Tarif baru ini terutama akan berdampak pada negara-negara dengan defisit perdagangan besar dengan AS dan perbedaan tarif yang signifikan, termasuk India, Brasil, Vietnam, dan beberapa negara di Asia Tenggara serta Afrika.
Misalnya, pada 2022, AS menerapkan tarif rata-rata 3% untuk impor dari India, sementara India menerapkan tarif rata-rata 9,5% terhadap barang impor dari AS, menurut data Bank Dunia.
Selain itu, karena kebijakan ini juga mempertimbangkan VAT, negara-negara Uni Eropa seperti Jerman, Irlandia, dan Italia juga berpotensi menghadapi kenaikan tarif impor AS. Produk-produk seperti farmasi, peralatan medis, dan suku cadang mobil bisa menjadi lebih mahal akibat kebijakan ini.
Aaron Klein, mantan pejabat Departemen Keuangan AS dan kini peneliti senior di Brookings Institution, memperingatkan bahwa kebijakan tarif ini dapat memicu perang dagang yang lebih luas.
Perkembangan Pasar dan Sentimen Investor
Sementara itu, pasar saham AS bereaksi positif terhadap keputusan Trump untuk menunda penerapan tarif baru. Indeks Dow Jones naik 343 poin (0,8%), Nasdaq Composite naik 1,5%, dan S&P 500 naik 1%.
Michael Block, analis di Third Seven Capital, mengatakan bahwa pasar sudah terbiasa dengan gaya Trump yang cenderung mengancam sebelum kemudian menunda atau meredam kebijakan yang direncanakan.
Keith Lerner, Kepala Investasi di Truist Wealth, mengatakan bahwa investor memperkirakan tarif ini akan lebih sering digunakan sebagai alat negosiasi ketimbang diterapkan secara penuh dalam waktu dekat.
Namun, meskipun kebijakan ini masih dalam tahap wacana, ketidakpastian akibat ancaman tarif dapat mengurangi investasi bisnis dan berpotensi menunda pemangkasan suku bunga oleh Federal Reserve.
Rencana tarif timbal balik Trump merupakan bagian dari upaya untuk menciptakan perdagangan yang lebih adil bagi AS, tetapi berisiko memicu perang dagang global dan meningkatkan inflasi domestik.
Dampaknya terhadap perekonomian AS masih harus dilihat, tetapi jika diterapkan tanpa kompromi, tarif ini bisa menghambat investasi, meningkatkan harga barang bagi konsumen, serta menekan pertumbuhan ekonomi global.