Perkembangan Indikator Stabilitas Nilai Rupiah (28 Maret 2025); Rupiah Menguat

647
Perkembangan Indikator Stabilitas Nilai Rupiah 27 Maret 2025
Sumber: Bank Indonesia

 

(Vibiznews – Economy & Bond) – Mencermati kondisi perekonomian global dan domestik terkini, Bank Indonesia menyampaikan perkembangan indikator stabilitas nilai Rupiah, sebagai berikut:

Perkembangan Nilai Tukar 24 – 27 Maret 2025

Pada akhir hari Rabu, 26 Maret 2025
1. Rupiah ditutup pada level (bid) Rp16.575 per dolar AS.
2. Yield SBN (Surat Berharga Negara) 10 tahun turun ke 7,13%.
3. DXY[1] menguat ke level 104,55.
4. Yield UST (US Treasury) Note[2] 10 tahun naik ke 4,352%.

1] DXY atau Indeks Dolar adalah indeks yang menunjukkan pergerakan dolar terhadap 6 mata uang negara utama lainnya (EUR, JPY, GBP, CAD, SEK, CHF).

[2] UST atau US Treasury Note merupakan surat utang negara yang dikeluarkan pemerintah AS dengan tenor 1-10 tahun.

Pada pagi hari Kamis, 27 Maret 2025
1. Rupiah dibuka pada level (bid) Rp16.590 per dolar AS.
2. Yield SBN 10 tahun turun ke 7,09%.

Aliran Modal Asing (Minggu IV Maret 2025)

1. Premi CDS Indonesia 5 tahun per 26 Maret 2025 sebesar 90,84 bps, naik dibanding dengan 21 Maret 2025 sebesar 90,41 bps.

2. Berdasarkan data transaksi 24 – 26 Maret 2025, nonresiden tercatat beli neto sebesar Rp1,93 triliun. Terdiri dari beli neto sebesar Rp2,63 triliun di pasar saham, serta jual neto sebesar Rp0,51 triliun di pasar SBN. Dan Rp0,19 triliun di Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI).

3. Selama tahun 2025, berdasarkan data setelmen s.d. 26 Maret 2025, nonresiden tercatat jual neto sebesar Rp32,02 triliun di pasar saham. Serta beli neto sebesar Rp16,08 triliun di pasar SBN dan Rp10,98 triliun di SRBI.

Analis Vibiz Research Center melihat untuk hari ini perdagangan rupiah vs dollar dibuka stabil ke Rp 16.583. Kemudian bergerak terkoreksi ke Rp16.599, dan terakhir sore ini WIB terpantau di posisi Rp 16.555.

Menguatnya rupiah terjadi sementara dollar AS di pasar uang Eropa beranjak turun setelah menanjak. Dollar AS tertahan dari 3 minggu terkuatnya di tengah koreksi poundsterling dan mencermati tariff AS atas impor kendaraan.

Indeks dollar, yang mengukur dollar terhadap keranjang enam mata uang saingan utamanya, Kamis sore hari WIB turun ke 104,44. Angka ini lebih rendah dibandingkan level penutupan sesi sebelumnya di 104,66.

Belinda Kosasih/ Partner of Banking Business Services/Vibiz Consulting