(Vibiznews – Economy & Business) Keputusan Federal Reserve (The Fed) terkait suku bunga yang akan diumumkan Kamis dini hari nanti, hasil nya tampaknya sudah bisa ditebak. Yakni tidak akan ada perubahan suku bunga. Namun yang membuat para pelaku pasar, investor, dan ekonom tetap menanti bukanlah keputusan yang akan diambil hari Rabu, melainkan apa yang akan terjadi setelahnya.
Satu hal yang pasti: ketidakpastian melonjak ke tingkat yang belum pernah terlihat sejak pertengahan 1980-an, didorong oleh dampak ekonomi yang belum jelas dari kebijakan tarif Presiden Donald Trump.
Suku Bunga Tetap, Tapi Ke Mana Arah Selanjutnya?
Pertemuan dua hari The Fed yang dimulai Selasa ini diperkirakan akan berakhir tanpa adanya perubahan suku bunga. Suku bunga acuan tetap ditahan di level tinggi sejak Januari sebagai bagian dari upaya menekan inflasi. Dengan menjaga biaya pinjaman tetap tinggi, The Fed berharap konsumsi dan investasi akan melambat, sehingga meredakan lonjakan harga yang sempat mengganggu stabilitas ekonomi.
Namun, munculnya tarif impor yang diberlakukan Trump terhadap mitra dagang utama Amerika termasuk tarif 10% untuk impor global dan tarif yang mencapai 145% untuk produk-produk dari China, sepertinya menghambat skenario meredakan lonjakan harga. Tarif ini dikhawatirkan akan meningkatkan harga barang di dalam negeri dan justru menambah tekanan inflasi.
Di sisi lain, kebijakan proteksionis semacam itu juga bisa memukul perekonomian dari sisi ketenagakerjaan. Jika perusahaan mulai mengurangi produksi akibat biaya impor yang melonjak, maka pemutusan hubungan kerja bisa terjadi dalam skala luas. Bila itu terjadi, The Fed justru harus melakukan kebijakan sebaliknya: menurunkan suku bunga untuk menyelamatkan pasar kerja dan mendongkrak konsumsi.
Dilema Ekonomi: Inflasi Naik, Pengangguran Ikut Naik
Inilah dilema yang sangat sulit bagi The Fed. Mereka tidak bisa menaikkan dan menurunkan suku bunga secara bersamaan. Jika memprioritaskan pengendalian inflasi, maka pengangguran bisa melonjak. Sebaliknya, jika fokus ke penyelamatan lapangan kerja, inflasi bisa kembali tidak terkendali.
Situasi ini mengarah pada skenario “stagflasi”, yaitu kombinasi antara inflasi tinggi dan pertumbuhan ekonomi yang mandek. Ini pernah terjadi di Amerika pada 1970-an dan dikenal sebagai masa yang menyakitkan bagi ekonomi. Indikatornya bahkan memiliki nama tersendiri: “misery index”, gabungan dari angka inflasi dan pengangguran. Ketika kedua angka itu naik bersamaan, tekanan ekonomi akan semakin berat untuk masyarakat umum.
Pasar Bertaruh pada Penurunan Suku Bunga
Namun, ekonomi AS saat ini memasuki wilayah yang belum dipetakan akibat kebijakan tarif Trump, dan The Fed diperkirakan akan menunggu kejelasan lebih lanjut sebelum mengambil tindakan. Jika ada dampak buruk terhadap pasar tenaga kerja, hal itu belum terlihat di bulan April, saat ekonomi menambah 177.000 lapangan kerja. Angka ini bisa membuat The Fed merasa cukup percaya diri untuk menahan suku bunga lebih lama. Berdasarkan data dari CME Group FedWatch, para pelaku pasar memperkirakan The Fed akan mulai memangkas suku bunga pada Juli mendatang.
Ini sejalan dengan pola historis di mana guncangan ekonomi biasanya membutuhkan waktu sekitar tiga bulan untuk benar-benar tercermin dalam data angka pengangguran. Karena tarif mulai berlaku pada April, dampaknya kemungkinan baru akan terlihat jelas di pertengahan tahun atau akhir musim panas ini.
Michael Gapen, Kepala Ekonom AS di Nationwide, mengatakan bahwa laporan ketenagakerjaan bulan April kemungkinan akan membuat The Fed tetap nyaman mempertahankan posisinya untuk sementara waktu.
“Ekonomi masih berada di ujung pisau,” tulisnya dalam sebuah komentar. “Kami memperkirakan laporan ketenagakerjaan ini akan menjaga sikap The Fed tetap tenang hingga gambaran ekonomi lebih jelas.”
Intervensi Trump Terhadap The Fed
Di balik ketegangan ini, tekanan politik juga terus meningkat. Presiden Trump secara terbuka menyalahkan The Fed atas kebijakan suku bunganya . Trump menginginkan pemangkasan suku bunga secepat nya. Dalam wawancara terbaru, Trump menyebut Ketua The Fed, Jerome Powell, sebagai “kaku”
Sekarang adalah waktu yang tepat untuk menurunkan suku bunga, bahkan sebetulnya sudah terlambat.
Namun begitu, Trump juga menyatakan tidak berniat memecat Powell meski sebelumnya sempat menyuarakan niat tersebut. Powell, yang masa jabatannya berakhir pada 2026, tampaknya masih akan memegang kendali kebijakan moneter AS tanpa mengikuti pada intervensi politik langsung dari Gedung Putih.
Komentar Trump ini kembali menyoroti tantangan independensi The Fed. Meskipun bank sentral AS bersifat independen secara hukum, tekanan politik dari presiden selalu menjadi faktor yang tidak bisa diabaikan, terutama saat menjelang pemilu.
Menunggu Kejelasan Lebih Lanjut
Meski pasar tampaknya yakin akan adanya pelonggaran moneter dalam waktu dekat, The Fed kemungkinan besar akan mengambil pendekatan “wait and see”. Kebijakan suku bunga merupakan salah satu alat utama untuk menjaga stabilitas ekonomi, dan setiap keputusan akan diambil dengan pertimbangan data yang ketat.
Fokus utama The Fed sekarang adalah memantau dampak dari tarif terhadap harga dan lapangan kerja. Jika inflasi melonjak, mereka mungkin mempertahankan atau bahkan menaikkan suku bunga. Tapi jika pasar tenaga kerja mulai melemah secara signifikan, maka tekanan untuk memangkas suku bunga akan semakin kuat.
Untuk saat ini, pasar, pemerintah, dan masyarakat luas hanya bisa menunggu hasil dari pertemuan The Fed hari Kamis dini hari ini dan petunjuk arah kebijakan yang akan disampaikan oleh Jerome Powell pada konferensi pers setelahnya.
Dalam menghadapi ketidakpastian yang kompleks dan penuh tantangan ini, peran The Fed sebagai penentu arah kebijakan moneter menjadi semakin krusial. Kombinasi antara tekanan eksternal seperti tarif dagang, dinamika pasar tenaga kerja, dan desakan politik menuntut kehati-hatian luar biasa dalam setiap keputusan.
Satu hal yang pasti, keputusan The Fed dalam beberapa bulan ke depan akan sangat menentukan apakah ekonomi AS bisa bertahan di tengah badai tarif dan gejolak global, atau justru berpotensi kepada krisis stagflasi. Apa pun langkah yang diambil nantinya apakah sebaiknya dilakukan baik menahan suku bunga, menaikkan, atau menurunkan suku bunga, juga akan memberi dampak luas bagi ekonomi domestik dan global.



