Panasnya Ekonomi Global: Tarif, Inflasi, dan Heatwave Eropa

307

(Vibiznews – Economy & Business) Musim panas ini tak hanya membawa gelombang panas dan badai sesungguhnya, tetapi juga badai kebijakan perdagangan dan ekonomi yang terus berhembus dari Gedung Putih. Sama seperti duduk di kereta penuh sesak tanpa AC di tengah heatwave membuat kita merindukan udara sejuk, begitulah kondisi perekonomian global saat ini.

Presiden AS Donald Trump baru-baru ini mengirimkan surat langsung kepada para pemimpin dunia mengenai tarif baru. Meski terkesan kuno di era digital, isi surat tersebut jauh dari kesan menawan. Surat itu menegaskan kembali tuntutan tarif yang diumumkan pada ‘Liberation Day’, sembari memperpanjang tenggat waktu dari 9 Juli menjadi 1 Agustus. Bagi sebagian pengamat Eropa, langkah ini mirip dengan strategi ‘extend and pretend’ atau menunda keputusan sulit, seperti yang sering dilakukan para pemimpin Eropa saat krisis utang euro satu dekade lalu.

Kala itu, mantan Presiden Komisi Eropa Jean-Claude Juncker pernah mengatakan, “Semua pemimpin tahu apa yang harus mereka lakukan, tapi mereka tak tahu bagaimana bisa terpilih kembali jika melakukannya.” Kini, strategi serupa terlihat di Washington, meski dengan konteks yang berbeda. Namun, jangan salah, tekanan ekonomi musim panas ini justru semakin meningkat.

 

Tarif Jadi Sumber Pendapatan

Lewat rancangan undang-undang tarif terbarunya, Trump meningkatkan tekanan pada pemerintah AS untuk memastikan tarif menjadi sumber penerimaan negara. Artinya, ruang kompromi dalam negosiasi dengan negara lain semakin sempit. Ancaman tarif baru pada tembaga dan farmasi menunjukkan bahwa tensi perdagangan tidak akan mereda dalam waktu dekat.

Ke depan, banyak analis memperkirakan kesepakatan dagang AS akan menetapkan tarif dasar di kisaran 10%, ditambah tarif sektoral spesifik, sehingga tingkat tarif efektif AS dapat kembali ke level era 1930-an. Namun, dampak jangka panjang yang lebih berbahaya adalah hilangnya kepercayaan pada negosiasi internasional dan kemitraan strategis antar negara.

Heatwave: Ancaman Ekonomi Nyata

Di saat tensi dagang memanas, dunia juga dihadapkan pada gelombang panas ekstrem (heatwave) yang melanda Eropa dan Asia. Berdasarkan penelitian ECB, setiap hari dengan suhu di atas 30°C memiliki dampak ekonomi setara dengan setengah hari mogok kerja. Jam kerja turun, produktivitas menurun, dan pada akhirnya pendapatan pun tergerus. Meski sektor manufaktur dan jasa biasanya pulih pasca heatwave, sektor pertanian serta infrastruktur sering mengalami kerugian permanen.

Di Jerman pekan lalu, muncul peringatan pertama terkait aspal jalan yang mulai meleleh akibat suhu ekstrem. Jika ditambah dengan kebakaran hutan awal tahun di California dan banjir di Texas pekan lalu, dampak perubahan iklim tidak lagi sekadar prediksi, melainkan kenyataan. Polanya bervariasi di tiap wilayah, namun kejadian ekstrem ini semakin sering dan intens. Oleh karena itu, adaptasi iklim dan upaya mitigasi harus menjadi prioritas utama kebijakan pemerintah.

Apa Peran Bank Sentral?

Meski banyak yang mempertanyakan peran kebijakan moneter dalam memerangi perubahan iklim, Bank Sentral Eropa (ECB) mulai menaruh perhatian lebih pada risiko iklim dalam asesmen kebijakan moneternya. Hal ini wajar, mengingat cuaca ekstrem dapat memengaruhi pertumbuhan ekonomi dan inflasi, faktor kunci dalam penetapan suku bunga acuan.

Dengan tensi tarif global yang belum mereda dan ancaman heatwave yang nyata, jelas bahwa musim panas ini akan menjadi ujian bagi ketahanan ekonomi global. Meski demikian, di tengah gejolak tersebut, penting untuk tetap menikmati masa istirahat. Karena jika tren ini berlanjut, energi dan ketenangan Anda akan sangat dibutuhkan menghadapi sisa tahun yang penuh gejolak.

Outlook Ekonomi Makro: Fokus Utama Bulan Ini

Tarif

Terlepas dari negosiasi yang belum selesai, posisi AS tetap tidak berubah: proteksionisme adalah kebijakan, bukan sekadar taktik politik. Tarif dasar 10% akan menjadi lantai kebijakan, sementara tarif sektoral tambahan seperti pada tembaga (50%) dan farmasi (ancaman 200%) kemungkinan akan diumumkan segera setelah sebagian besar kesepakatan dagang rampung.

Energi

Diperkirakan harga minyak akan turun pada akhir tahun ini akibat pasokan OPEC+ yang meningkat, sementara harga gas Eropa tetap tinggi karena risiko geopolitik dan kebutuhan penyimpanan menjelang musim dingin.

Amerika Serikat

Pemangkasan suku bunga The Fed di bulan September hanya akan terjadi jika data tenaga kerja sangat lemah. Dengan tekanan tarif yang memuncak pada Juli–September. Pasar memprediksi pemangkasan pertama kemungkinan terjadi pada kuartal IV, diikuti penurunan bertahap hingga 3,25% pada pertengahan 2026 berkat inflasi yang lebih rendah dan biaya perumahan yang melambat.

Eurozone

Setelah pertumbuhan kuat di kuartal pertama akibat frontloading ekspor sebelum tarif, kami memproyeksikan kontraksi pada kuartal kedua. Inflasi diperkirakan akan berada di bawah target ECB 2% dalam beberapa kuartal mendatang, membuka peluang pemangkasan suku bunga lanjutan pada September.

Inggris

Meskipun data tenaga kerja melemah, Bank of England belum akan mempercepat penurunan suku bunga. Pemangkasan berikutnya diproyeksikan pada Agustus dan November, menuju suku bunga terminal 3,25% pada pertengahan 2026.

Dolar

Dampak pengumuman tarif AS terhadap pasar valuta asing mulai menurun, dengan faktor makro kini kembali mendominasi. Kami memperkirakan kenaikan harga di AS pada kuartal III akan memicu penguatan sementara Dolar AS, sebelum tren pelemahan kembali berlanjut tahun depan.

Yield Obligasi

Kami memproyeksikan imbal hasil US Treasury 10-tahun akan melonjak ke 4,75% pada kuartal ini, dipicu kekhawatiran inflasi dan keberlanjutan utang AS.

Musim panas ini bukan hanya tentang cuaca panas ekstrem, tetapi juga panasnya tensi kebijakan tarif, risiko inflasi, dan dampak perubahan iklim.