(Vibiznews – Forex) Indeks dolar AS berakhir turun pada hari Kamis setelah data menunjukkan data PHK AS meningkat.
Indeks dolar AS berakhir turun 0,47% pada 99,69.
Data Challenger Job Cuts AS menunjukkan bahwa PHK di AS pada bulan Oktober melonjak sebesar 175% secara tahunan (y/y), tertinggi dalam 22 tahun, memperkuat prospek The Fed untuk terus memangkas suku bunga.
Pemutusan hubungan kerja (PHK) di AS pada bulan Oktober dari Challenger melonjak +175,3% secara tahunan (y/y) menjadi 153.074, peningkatan terbesar dalam 7 bulan dan tertinggi untuk bulan Oktober dalam 22 tahun. PHK sepanjang tahun ini telah melampaui 1 juta, jumlah tertinggi sejak pandemi, dan perusahaan-perusahaan di AS telah mengumumkan rencana perekrutan paling sedikit sejak 2011.
Selain itu, dolar masih tertekan oleh penutupan pemerintah AS yang sedang berlangsung. Semakin lama penutupan pemerintah berlangsung, semakin besar kemungkinan ekonomi AS akan tertekan dan semakin besar kemungkinan The Fed harus memangkas suku bunga.
Pelemahan dolar AS terbatas pada hari Kamis setelah pasar saham jatuh, yang mendorong permintaan likuiditas untuk dolar.
Selain itu, komentar hawkish dari Presiden The Fed Chicago Austan Goolsbee dan Presiden The Fed Cleveland Beth Hammack juga mendukung dolar ketika mereka mengatakan bahwa mereka tidak menginginkan pemangkasan suku bunga The Fed lebih lanjut.
Pasar memperhitungkan peluang 70% bahwa FOMC akan memangkas kisaran target dana Fed sebesar 25 basis poin pada pertemuan FOMC berikutnya pada 9-10 Desember.
Malam nanti akan dirilis data Michigan Consumer Sentiment November AS yang diindikasikan menurun.
Analyst Vibiz Research Center memperkirakan untuk perdagangan selanjutnya, indeks dolar AS dapat bergerak naik terpicu pelemahan pasar saham. Namun jika malam nanti data Michigan Consumer Sentiment November AS terealisir menurun, akan dapat menekan dolar AS. Indeks dolar AS diperkirakan bergerak dalam kisaran Resistance 99,97-100,25. Namun jika turun, akan bergerak dalam kisaran Support 99,54-99,39.



