Global Shifts: Bank Sentral Mengarah Hawkish, The Fed Tetap di Jalur Easing

708
The word FED Federal Reserve on US dollars as the economy concept, interest rates control to help world economy crisis

Gejolak kebijakan moneter kembali memasuki fase baru. Setelah lebih dari satu tahun berada dalam siklus pelonggaran, sejumlah bank sentral di negara maju kini mulai menyiapkan pasar untuk skenario yang semakin jarang dibicarakan beberapa bulan terakhir: kenaikan suku bunga. Inflasi yang belum benar-benar padam, kondisi tenaga kerja yang masih tangguh, serta dinamika geopolitik yang mengerek biaya impor, memaksa banyak otoritas moneter mengambil posisi “lebih berhati-hati”.

Dari Swiss hingga Australia, sinyal yang muncul semakin konsisten fase pemangkasan agresif tampaknya telah berakhir, digantikan oleh jeda panjang yang bisa berujung pada pengetatan kembali. Di saat bank sentral lain mulai konservatif, Federal Reserve AS justru menarik perhatian karena masih melanjutkan kebijakan pemangkasan suku bunga. Namun, The Fed pun menegaskan bahwa ruang pelonggaran semakin sempit.

Berikut gambaran lengkap peta kebijakan 10 bank sentral besar dunia, yang mencerminkan arah baru kebijakan moneter global.

Swiss: Suku Bunga 0%, Tapi Tidak Ada Jalan Menuju Negatif

Swiss National Bank (SNB) mengejutkan sebagian analis ketika mempertahankan suku bunga acuan di 0%, level terendah di antara negara maju. Penguatan franc sebagai mata uang safe-haven membuat inflasi jatuh ke 0%, namun SNB tetap tidak mempertimbangkan pengembalian ke suku bunga negatif.

Kesepakatan terbaru dengan AS terkait penurunan tarif untuk produk Swiss juga memperbaiki proyeksi pertumbuhan tahun depan. Para ekonom memperkirakan SNB akan bertahan pada level saat ini setidaknya hingga akhir 2026.

Kanada: Resiliensi Ekonomi Membuat BoC Berhenti Memotong

Bank of Canada (BoC) memilih menahan suku bunga di 2,25% setelah total pemangkasan 225 basis poin dalam siklus ini. Gubernur Tiff Macklem menegaskan ekonomi Kanada tetap tangguh meski tekanan kebijakan perdagangan AS meningkat.

Didorong oleh belanja pemerintah dan lonjakan ekspor minyak, pertumbuhan PDB kuartal ketiga mencapai 2,6%. Data tenaga kerja pun menunjukkan perbaikan. Dengan fondasi makro yang menguat, pasar memperkirakan BoC tidak akan mengubah suku bunga hingga 2027.

Swedia: Riksbank Siap Menahan Suku Bunga Lebih Lama

Riksbank Swedia menilai pelonggaran moneter sebelumnya sudah mulai memberikan efek terhadap pertumbuhan PDB. Dengan inflasi tahunan sedikit di atas target 2%, analis melihat peluang besar bahwa suku bunga akan tetap ditahan di 1,75% pada 18 Desember.

Bank sentral pun diperkirakan memasuki periode jeda panjang tahun depan, seiring tekanan harga yang mulai stabil dan ekonomi menunjukkan tanda pemulihan bertahap.

Selandia Baru: Dilema Untuk Kembali Hawkish

Reserve Bank of New Zealand (RBNZ) menghadapi dilema besar. Di satu sisi, tingkat pengangguran berada di level tertinggi dalam sembilan tahun. Di sisi lain, serangkaian pemangkasan suku bunga telah mendorong inflasi ke batas atas target bank sentral.

Gubernur baru Anna Breman harus menyeimbangkan antara tekanan politik dan kondisi fundamental. Pasar menilai suku bunga RBNZ bisa naik menuju 3% pada akhir 2026, dari posisi saat ini 2,25%. Artinya, fase pelonggaran kemungkinan telah selesai.

Zona Euro: Dari Bicara Pemangkasan, Kini Justru Mengarah Pada Kenaikan

European Central Bank (ECB) sejak Juni mempertahankan suku bunga di 2%. Namun dinamika pasar berubah cepat setelah anggota dewan ECB, Isabel Schnabel, menyatakan bahwa langkah berikutnya bisa berupa kenaikan suku bunga—meski tidak dalam waktu dekat.

Komentar tersebut menggeser sentimen pelaku pasar. Jika sebelumnya pelonggaran tambahan dipandang mungkin, kini opsi tersebut hampir sepenuhnya hilang. Stabilitas inflasi yang belum solid membuat ECB menahan diri dari memberi sinyal dovish.

Amerika Serikat: The Fed Masih Memotong, Tapi Ruang Semakin Terbatas

The Federal Reserve menjadi outlier dalam lanskap kebijakan global. Bank sentral AS kembali memangkas suku bunga pada Rabu lalu, dalam keputusan yang terbelah. Namun The Fed menegaskan kebijakan memasuki fase “tunggu dan lihat”.

Inflasi disebut “tetap agak tinggi”, sementara kondisi pasar tenaga kerja masih belum menunjukkan arah yang pasti. Proyeksi terbaru hanya menunjukkan satu kali pemangkasan 25 basis poin pada 2026.

Ini dapat membuka potensi ketegangan dengan Presiden Donald Trump, yang menginginkan pelonggaran lebih agresif. Meski begitu, outlook pertumbuhan yang lebih kuat, inflasi lebih rendah, dan stabilitas tenaga kerja dapat meredakan tekanan politik tersebut.

Inggris: BOE Terbelah di Tengah Tekanan Inflasi Pangan

Bank of England (BoE) menghadapi situasi sulit. Pasar memperkirakan 90% peluang pemangkasan suku bunga menjadi 3,75% pada 18 Desember, namun hanya melihat 30 bps pelonggaran tambahan pada 2026.

BoE sebelumnya memilih 5-4 untuk mempertahankan suku bunga di 4%, menunjukkan perpecahan internal yang signifikan. Sentimen ekonomi melemah setelah anggaran 26 November yang menaikkan pajak, sementara inflasi pangan yang tetap tinggi menahan ruang pelonggaran lebih jauh.

Norwegia: Paling Hati-Hati di Kelompok G10

Norges Bank menjadi bank sentral paling konservatif di G10, hanya memangkas 50 bps sepanjang siklus ini. Pasar memperkirakan bank sentral akan kembali menahan suku bunga pekan depan.

Data inflasi inti terbaru yang melandai mendukung pandangan bahwa pemangkasan tambahan baru akan terjadi pada pertengahan 2026.

Australia: Menjadi yang Terdepan dalam Pergeseran Menuju Kenaikan

Reserve Bank of Australia (RBA) tampaknya akan menjadi bank sentral pertama yang beralih dari jeda menuju potensi kenaikan. RBA menahan suku bunga di 3,6% minggu ini dan secara eksplisit menyingkirkan peluang pemangkasan lebih lanjut.

Yang paling diperhatikan pasar adalah peringatan bahwa suku bunga bisa naik jika tekanan inflasi membandel. Pernyataan tersebut langsung menguatkan dolar Australia dan menekan harga obligasi. Pasar kini memproyeksikan kenaikan pertama pada Juni 2026, atau bahkan Mei.

Jepang: Satu-Satunya yang Benar-Benar Hawkish

Bank of Japan (BOJ) tetap menjadi satu-satunya bank sentral besar yang sedang menaikkan suku bunga. BOJ diperkirakan akan menaikkan suku bunga menjadi 0,75% pekan depan.

Stimulus besar-besaran yang diumumkan Perdana Menteri Sanae Takaichi telah melecut imbal hasil obligasi tenor panjang, dengan efek rambatan ke pasar global. Yen pun tetap di bawah tekanan.

Gubernur Kazuo Ueda berharap pernyataan pasca-pertemuan tidak memicu penjualan aset lebih agresif di salah satu pasar tersebut

Peta Moneter Global Berubah, Pasar Bersiap

Dinamika baru di bank sentral dunia memberi sinyal bahwa era pelonggaran mungkin sudah mendekati akhir. Meski The Fed masih menjadi pengecualian, tekanan inflasi global dan perubahan arah kebijakan fiskal membuat banyak bank sentral siap mengalihkan fokus dari pemangkasan menjadi stabilisasi bahkan pengetatan.

Perubahan ini berpotensi memengaruhi lintasan obligasi global, nilai tukar, hingga arus modal ke pasar negara berkembang. Dengan bank sentral utama mulai mengerem pelonggaran, investor perlu mempersiapkan strategi baru menghadapi arah moneter yang lebih ketat.