Eropa Terhimpit Tekanan Global, ECB Jadi Penjaga Stabilitas

160
eurusd

Uni Eropa memasuki salah satu pekan paling menentukan menjelang akhir tahun, ketika tekanan geopolitik, ketegangan hubungan trans-Atlantik, dan arah kebijakan moneter bertemu dalam satu rangkaian agenda strategis. Para pemimpin Eropa dijadwalkan berkumpul di Brussels, sementara Bank Sentral Eropa (ECB) menggelar rapat kebijakan terakhir tahun ini. Dimana dua pertemuan penting ini merupakan  kombinasi peristiwa yang akan membentuk posisi Eropa menghadapi dinamika global sepanjang 2026.

Sorotan terhadap Eropa kian menguat setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump, dalam wawancara dengan Politico, melontarkan kritik tajam terhadap Uni Eropa yang ia gambarkan sebagai blok negara yang tengah kehilangan vitalitas strategis. Pernyataan tersebut menambah lapisan ketegangan dalam hubungan UE–AS yang sebelumnya sudah diuji oleh isu perdagangan, pertahanan, dan regulasi teknologi.

KTT Brussels: Pertahanan, Ukraina, dan Kredibilitas Eropa

Pertemuan tingkat tinggi Uni Eropa yang berlangsung Kamis yang berpotensi berlanjut hingga Jumat. Hal ini dipandang sebagai salah satu KTT paling sensitif tahun ini. Fokus utamanya adalah bagaimana Eropa memperkuat kapasitas militernya sekaligus memastikan keberlanjutan dukungan finansial dan politik bagi Ukraina.

Salah satu agenda kunci adalah kesepakatan penggunaan aset Rusia yang dibekukan untuk menopang paket pinjaman senilai €210 miliar bagi Kyiv. Skema ini dirancang untuk memberikan dukungan jangka menengah bagi Ukraina, terutama jika konflik berlanjut atau memasuki fase negosiasi yang rumit dan berkepanjangan.

Isu ini menjadi semakin kompleks setelah Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy mengisyaratkan kemungkinan referendum domestik terkait masa depan sebagian wilayah Donbas sebagai bagian dari rencana perdamaian yang dipromosikan Amerika Serikat. Meski demikian, banyak pemimpin Eropa menegaskan bahwa menjaga kedaulatan dan integritas wilayah Ukraina tetap menjadi prinsip utama.

Ketegangan geopolitik ini diperkuat oleh peringatan Sekretaris Jenderal NATO Mark Rutte yang menyebut Eropa kini berada dalam posisi rentan. Menurutnya, melemahnya solidaritas internal dan tekanan eksternal dapat meningkatkan risiko keamanan kawasan dalam beberapa tahun ke depan.

Ketegangan Dagang Digital: UE dan AS Berseberangan

Di luar isu keamanan, Eropa juga menghadapi konflik terbuka dengan Amerika Serikat di sektor teknologi. Washington menilai Brussel terlalu agresif dalam menerapkan Digital Services Act (DSA), yang dianggap menargetkan perusahaan teknologi besar asal AS.

Uni Eropa dalam beberapa bulan terakhir telah menjatuhkan denda kepada platform X atas pelanggaran aturan moderasi konten. Google juga tengah menghadapi penyelidikan antimonopoli terkait penggunaan konten digital untuk pengembangan model kecerdasan buatan. Sementara itu, Meta yang merupakan induk Facebook dan Instagram dilaporkan bersedia melakukan penyesuaian signifikan pada layanannya guna menghindari sanksi lanjutan.

Meski kesepakatan dagang Juli lalu sempat meredakan ketegangan, konflik di sektor teknologi menegaskan bahwa hubungan UE–AS masih jauh dari stabil. Bagi Eropa, regulasi ini dipandang sebagai upaya menjaga kedaulatan digital dan perlindungan konsumen. Namun bagi Washington, kebijakan tersebut dianggap berpotensi menghambat inovasi dan menekan kepentingan korporasi AS.

ECB: Jangkar Stabilitas di Tengah Ketidakpastian

Di tengah tekanan geopolitik dan politik, perhatian investor global tertuju ke Frankfurt. ECB dijadwalkan menggelar rapat kebijakan terakhir tahun ini pada Kamis, dengan konsensus pasar memperkirakan suku bunga acuan tetap ditahan di level 2%.

Presiden ECB Christine Lagarde sebelumnya menyampaikan bahwa bank sentral kemungkinan akan kembali merevisi naik proyeksi pertumbuhan ekonomi kawasan euro. Pada September lalu, ECB telah menaikkan proyeksi pertumbuhan tahunan menjadi 1,2%, mencerminkan ketahanan konsumsi domestik dan stabilisasi sektor industri.

Nada optimistis ini juga digaungkan oleh para anggota Dewan Gubernur ECB. Isabel Schnabel menilai tidak ada urgensi untuk mengubah kebijakan suku bunga dalam waktu dekat. Francois Villeroy de Galhau menyebut suku bunga saat ini sudah berada pada level yang seimbang, sementara Joachim Nagel menegaskan bahwa kebijakan moneter kawasan euro berada “di tempat yang tepat”.

Bagi pasar, sikap ECB ini penting untuk menjaga stabilitas euro dan menahan volatilitas di pasar obligasi, terutama ketika bank sentral besar lain. Misal nya saja  Federal Reserve dan Bank of England mulai memasuki fase pelonggaran kebijakan yang lebih jelas.

Data Ekonomi dan Risiko Pasar

Pekan ini juga sarat dengan rilis data ekonomi penting. Inflasi kawasan euro dan Inggris akan diumumkan pada Rabu, disusul indeks IFO Jerman yang menjadi indikator utama kepercayaan pelaku usaha. Data-data ini akan menjadi tolok ukur apakah pemulihan ekonomi Eropa benar-benar berkelanjutan atau masih rapuh.

Kamis akan menjadi hari terpadat, dengan ECB, Bank of England (BOE), Riksbank Swedia, dan Norges Bank Norwegia mengumumkan keputusan kebijakan masing-masing. BOE diperkirakan mulai memangkas suku bunga, langkah yang berpotensi memicu pergeseran arus modal di Eropa dan menambah tekanan pada nilai tukar pound sterling.

Menuju 2026: Brussels dan Frankfurt Uji Ketahanan Eropa

Bagi investor global, Eropa kini berada di persimpangan jalan. Di satu sisi, tekanan geopolitik, ketegangan dengan Amerika Serikat, dan ketidakpastian keamanan menciptakan risiko struktural jangka panjang. Di sisi lain, kebijakan moneter yang relatif stabil dan prospek pertumbuhan yang mulai membaik memberikan bantalan bagi pasar keuangan kawasan euro.

Keputusan dan sinyal yang muncul dari Brussels dan Frankfurt pekan ini akan menjadi penentu apakah Eropa mampu mempertahankan kredibilitasnya sebagai jangkar stabilitas global, atau justru semakin terseret dalam pusaran ketidakpastian geopolitik dan ekonomi menjelang 2026.