(Vibiznews – Forex) Mata uang Euro berakhir turun pada hari Rabu tertekan penguatan dolar AS.
Pasangan mata uang EUR/USD berakhir turun 0,05% pada 1.1741.
Euro berada di bawah tekanan akibat penguatan dolar AS.
Pelemahan Euro juga terjadi setelah data ekonomi Zona Euro menunjukkan bahwa CPI November direvisi lebih rendah dan biaya tenaga kerja kuartal ketiga mencatat kenaikan terkecil dalam tiga tahun, yang keduanya merupakan indikasi kebijakan ECB yang lunak.
CPI Zona Euro November direvisi turun menjadi +2,1% y/y dari yang dilaporkan sebelumnya +2,2% y/y.
Biaya tenaga kerja Zona Euro kuartal ketiga melambat menjadi +3,3% y/y dari +3,9% y/y pada kuartal kedua, laju kenaikan terkecil dalam tiga tahun.
Selain itu, penurunan tak terduga pada survei kondisi bisnis IFO Jerman bulan Desember ke level terendah dalam 7 bulan pada hari Rabu berdampak negatif bagi euro.
Survei kondisi bisnis IFO Jerman bulan Desember secara tak terduga turun -0,4 menjadi level terendah 7 bulan di angka 87,6, dibandingkan ekspektasi kenaikan menjadi 88,2.
Namun pelemahan Euro terbatas dengan dukungan perbedaan kebijakan bank sentral, dengan The Fed diperkirakan akan terus memangkas suku bunga pada tahun 2026 sementara ECB diperkirakan telah menyelesaikan kampanye pemotongan suku bunganya.
Swap memperkirakan peluang 0% untuk pemotongan suku bunga -25 bp oleh ECB pada pertemuan kebijakan hari Kamis.
Malam nanti akan dirilis keputusan kebijakan suku bunga ECB yang diindikasikan tidak berubah.
Analyst Vibiz Research Center memperkirakan untuk perdagangan selanjutnya, mata uang Euro akan mencermati pergerakan dolar AS, yang jika berlanjut naik, akan menekan Euro. Jika malam nanti ECB mempertahankan suku bunga tidak berubah, akan menguatkan Euro. Pasangan mata uang EUR/USD diperkirakan bergerak dalam kisaran Support 1.1710-1.1679. Namun jika naik, akan bergerak dalam kisaran Resistance 1.1765-1.1789.



