Pasar keuangan global akhirnya mendapatkan ruang bernapas. Dua sumber tekanan utama yang sebelumnya membebani sentimen investor yakni eskalasi risiko geopolitik terkait Greenland dan ancaman tarif perdagangan Amerika Serikat terhadap Eropa kini mereda. Presiden AS Donald Trump menarik kembali ancaman militernya terhadap Greenland dan memastikan tidak akan melanjutkan rencana pemberlakuan tarif baru terhadap negara-negara Eropa per 1 Februari. Perkembangan ini langsung memicu stabilisasi pasar global, mengakhiri episode volatilitas tajam yang sempat mengguncang ekuitas, obligasi, dan nilai tukar.
Sebelumnya, pada Selasa, pasar global mengalami aksi jual dramatis yang oleh sebagian pelaku pasar dibandingkan dengan krisis pasar Inggris pada era Perdana Menteri Liz Truss. Tekanan tersebut paling terasa di pasar obligasi Jepang, yang mengalami lonjakan imbal hasil signifikan. Namun, pemulihan terjadi relatif cepat. Pasar obligasi Jepang mencatat rebound selama dua sesi berturut-turut, mencerminkan berkurangnya kepanikan sistemik. Di saat yang sama, pasar saham mulai menemukan keseimbangan baru, emas terkoreksi dari rekor tertingginya, dan dolar AS kembali menguat.
Fenomena ini mencerminkan apa yang oleh banyak analis disebut sebagai “helaan napas lega kolektif” di pasar keuangan global. Investor menilai bahwa risiko ekstrem baik dalam bentuk konflik geopolitik maupun perang dagang besar-besaran untuk sementara waktu telah dikesampingkan.
Dolar Menguat, Pasar Berkembang Ikut Bernapas
Di pasar valuta asing, dolar AS menemukan pijakan yang lebih kuat. Greenback menguat terhadap seluruh mata uang utama G10, kecuali yen Jepang. Penguatan dolar ini terjadi seiring meredanya kebutuhan investor terhadap aset lindung nilai ekstrem, sekaligus meningkatnya ekspektasi bahwa Federal Reserve tidak berada di bawah tekanan langsung untuk segera memangkas suku bunga.
Menariknya, di pasar negara berkembang, sebagian besar mata uang justru mencatat penguatan. Rupanya, berkurangnya risiko global mendorong arus modal kembali masuk ke aset berisiko. Namun, pengecualian penting terlihat pada yuan China dan won Korea Selatan, yang masih berada di bawah tekanan. Hal ini mencerminkan kekhawatiran spesifik terkait prospek ekonomi China dan ketergantungan Korea Selatan pada perdagangan global, khususnya sektor teknologi dan manufaktur.
Pasar Saham Rayakan Meredanya Ketegangan
Di pasar saham, respons investor terbilang solid. Bursa Asia Pasifik memimpin reli, dengan indeks Nikkei Jepang dan Taiex Taiwan mencatat kenaikan masing-masing sekitar 1,6%–1,7%. Kenaikan ini mencerminkan kombinasi antara meredanya risiko geopolitik dan stabilisasi pasar obligasi domestik. Di Australia, meskipun imbal hasil obligasi naik akibat spekulasi kebijakan moneter yang lebih ketat, indeks ASX200 tetap menguat sekitar 0,75%.
Eropa pun mengikuti jejak positif tersebut. Indeks Stoxx 600 berhasil mematahkan tekanan selama empat hari berturut-turut, menguat lebih dari 1% pada sesi pagi. Di Amerika Serikat, kontrak berjangka Nasdaq dan S&P 500 naik sekitar 0,60%–0,80%, mengindikasikan sentimen risiko yang kembali membaik setelah ketegangan tarif mereda.
Obligasi dan Komoditas: Normalisasi Bertahap
Di pasar obligasi, imbal hasil tenor 10 tahun di Eropa sebagian besar turun tipis 1–3 basis poin, mencerminkan berkurangnya kekhawatiran terhadap risiko fiskal dan geopolitik. Jepang mencatat penurunan imbal hasil obligasi jangka panjang sebesar 3–5 basis poin, melanjutkan pemulihan dari gejolak sebelumnya. Sementara itu, imbal hasil US Treasury 10 tahun naik tipis ke sekitar 4,25%, mencerminkan pandangan bahwa ekonomi AS masih cukup kuat untuk menopang suku bunga yang relatif tinggi.
Emas, yang sebelumnya melonjak ke rekor tertinggi di kisaran US$4.888 per ons, kini bergerak konsolidatif sedikit di bawah level tersebut. Tidak adanya aksi jual besar-besaran mengindikasikan bahwa investor masih mempertahankan sebagian eksposur defensif di tengah ketidakpastian jangka menengah. Perak menunjukkan pola serupa: setelah mencetak rekor di atas US$95 per ons, harga terkoreksi sebelum kembali pulih mendekati US$94.
Di sektor energi, minyak mentah WTI kontrak Maret gagal mempertahankan level tertinggi di sekitar US$60,90 per barel dan kembali tertekan ke kisaran US$59,50. Pergerakan ini mencerminkan keseimbangan rapuh antara optimisme permintaan global dan kekhawatiran terhadap pertumbuhan ekonomi jangka menengah.
Data Ekonomi AS Perkuat Sikap Hati-hati The Fed
Dari sisi fundamental, data ekonomi AS memberikan konteks penting bagi arah kebijakan moneter. Estimasi terbaru menunjukkan PDB kuartal III tumbuh 4,3% secara tahunan, didorong oleh kenaikan konsumsi sebesar 3,5%. Pelacak PDB Atlanta Fed bahkan mengindikasikan pertumbuhan yang lebih kuat pada kuartal IV.
Pertumbuhan yang solid ini menjadi argumen kuat bagi Federal Reserve untuk mempertahankan sikap hati-hati. Deflator inflasi utama dan inti yang bertahan di sekitar 2,8% menunjukkan bahwa tekanan harga belum sepenuhnya jinak. Setelah memangkas suku bunga tiga kali pada paruh akhir 2025, The Fed memiliki alasan kuat untuk menahan suku bunga lebih lama, meskipun pemerintahan Trump terus mendorong pelonggaran moneter.
Fiskal Inggris, Suku Bunga Australia, dan Perdagangan Jepang Jadi Sorotan Pasar
Di Inggris, perhatian pasar kembali tertuju pada kondisi fiskal. Data terbaru menunjukkan pinjaman bersih pemerintah mencapai GBP11,6 miliar bulan lalu, mendorong defisit tahun kalender 2025 ke sekitar GBP152 miliar. Angka ini lebih tinggi dibandingkan tahun sebelumnya dan berpotensi menambah tekanan pada pasar obligasi Inggris.
Australia menghadirkan cerita berbeda. Data ketenagakerjaan Desember menunjukkan lonjakan penciptaan lapangan kerja sebesar 62 ribu, jauh di atas ekspektasi. Kuatnya pasar tenaga kerja memicu spekulasi bahwa bank sentral Australia mungkin mempertimbangkan kenaikan suku bunga pada pertemuan awal Februari, sebuah langkah yang kontras dengan tren pelonggaran global.
Sementara itu, Jepang mencatat surplus perdagangan yang menyempit pada Desember, sekaligus menutup tahun dengan defisit perdagangan secara keseluruhan. Data ekspor menunjukkan bahwa produsen otomotif Jepang kemungkinan telah mengorbankan margin keuntungan demi mempertahankan pangsa pasar di AS, menyerap sebagian dampak tarif yang secara nominal lebih banyak dibayar oleh importir Amerika.
Stabilisasi Pasar Global: Risiko Mereda, Ketidakpastian Masih Ada
Stabilisasi pasar global saat ini mencerminkan meredanya risiko ekstrem, bukan hilangnya ketidakpastian. Investor memang menarik napas lega, namun tetap waspada terhadap potensi guncangan baru baik dari kebijakan perdagangan AS, arah suku bunga global, maupun dinamika geopolitik yang cepat berubah. Dalam lanskap seperti ini, kehati-hatian dan diversifikasi tetap menjadi kunci strategi investasi.



