(Vibiznews – Index) – Bursa saham Jepang memperpanjang kerugian pekan lalu pada perdagangan hari Senin (26/1/2026) karena penguatan yen terhadap dolar AS.
Yen menguat akibat kekhawatiran intervensi bersama antara Tokyo dan Washington untuk menopang mata uang tersebut. Pergerakan mata uang tersebut mengikuti laporan bahwa Federal Reserve New York telah memeriksa level dolar/yen dengan para pelaku pasar pada hari Jumat.
Kemudian komentar dari Perdana Menteri Sanae Takaichi pada hari Minggu bahwa pemerintahnya akan mengambil langkah-langkah yang diperlukan untuk melawan pergerakan pasar spekulatif.
Yen yang lebih kuat melemahkan prospek pendapatan untuk sektor-sektor yang banyak bergantung pada ekspor di Jepang dan meningkatkan biaya aset Jepang bagi investor asing.
Indeks harian Nikkei turun 1,79% dan ditutup pada 52.885, demikian untuk indeks Topix turun 2,13% menjadi 3.552.
Sementara itu untuk indeks Nikkei berjangka kontrak bulan Maret 2026 turun 1,56% pada posisi 52860.
Saham-saham berorientasi ekspor memimpin penurunan, dengan saham Toyota Motor merosot 4,1%, Sony Group turun 1,9%, dan Fast Retailing turun 1,7%.
Saham-saham keuangan dan teknologi juga berada di bawah tekanan, termasuk Mitsubishi UFJ, yang turun 3,7%, dan SoftBank Group, yang turun 4,9%.



