Mengapa Lonjakan Tarif Tidak Mengguncang Ekonomi AS

59

Ketika Presiden Donald Trump kembali ke Gedung Putih dan mulai menaikkan tarif impor secara agresif tahun lalu, banyak ekonom memperkirakan langkah tersebut akan membawa konsekuensi serius bagi perekonomian Amerika Serikat. Tarif yang lebih tinggi dipandang berisiko mendorong inflasi, menekan konsumsi, dan memperlambat pertumbuhan ekonomi. Namun, hingga kini, skenario terburuk tersebut belum terwujud.

Sebaliknya, ekonomi AS justru menunjukkan ketahanan yang mengejutkan. Pertumbuhan tetap solid, pasar tenaga kerja relatif stabil, dan inflasi meski masih di atas target Federal Reserve, jauh lebih terkendali dibandingkan puncaknya pada 2022. Kondisi ini memunculkan pertanyaan besar: mengapa dampak tarif sejauh ini tampak terbatas?

“Jika Anda mengumpulkan 100 ekonom setahun lalu dan memberi tahu mereka kondisi ekonomi hari ini, hampir semuanya akan memperkirakan ekonomi AS stagnan, atau bahkan mengalami kontraksi tajam,” ujar Ben Harris, Direktur Studi Ekonomi di Brookings Institution, dalam sebuah diskusi panel baru-baru ini. “Kenyataannya, ekonomi justru tumbuh lebih cepat dari yang diperkirakan.”

Tarif Trump Naik hingga 28%, Ekonomi AS Tetap Kuat

Setelah dilantik pada awal tahun lalu, Trump memberlakukan serangkaian pajak impor yang secara signifikan mengubah hubungan dagang AS dengan mitra-mitranya. Menurut Harris, rata-rata tarif melonjak menjadi sekitar 28% pada April, dari hanya 2,4% pada hari pemilu. Setelah melalui berbagai negosiasi dan penyesuaian, Tax Policy Center memperkirakan rata-rata tarif efektif saat ini berada di kisaran 17%.

Secara teori, lonjakan tarif sebesar itu seharusnya menekan permintaan, menaikkan harga barang impor, dan menggerus daya beli konsumen. Namun, data ekonomi hingga kuartal ketiga menunjukkan cerita yang berbeda. Produk Domestik Bruto (PDB) tumbuh pada laju tercepat sejak 2023, sementara indikator konsumsi dan investasi masih mencerminkan aktivitas ekonomi yang sehat.

Ketahanan Ekonomi yang Lebih Besar dari Perkiraan

Salah satu implikasi penting dari kondisi ini adalah kemungkinan bahwa ekonomi AS lebih tangguh terhadap guncangan perdagangan dibandingkan asumsi dalam banyak model ekonomi konvensional. Jika benar, hal ini dapat memengaruhi cara pembuat kebijakan dan pelaku pasar menilai risiko kebijakan proteksionis di masa depan.

Para ekonom menekankan bahwa dampak tarif memang ada, tetapi sejauh ini tertahan oleh kombinasi faktor struktural dan siklikal. Inflasi tetap berada di atas target 2% Federal Reserve selama hampir empat tahun, namun masih jauh di bawah level ekstrem yang terlihat pada periode pascapandemi. Dengan kata lain, tekanan harga belum melonjak secara tidak terkendali akibat tarif.

Peran Belanja AI dan Kebijakan Fiskal

Salah satu penopang utama ekonomi AS adalah lonjakan belanja di sektor kecerdasan buatan (artificial intelligence). Investasi besar-besaran perusahaan teknologi dalam infrastruktur AI, pusat data, dan perangkat lunak telah memberikan dorongan signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi dan belanja modal.

Di sisi lain, kebijakan fiskal pemerintah juga memainkan peran penting. Defisit anggaran yang besar, dikombinasikan dengan pemotongan pajak, membantu menopang permintaan domestik. Konsumen, meskipun memiliki pandangan yang relatif pesimistis terhadap kondisi ekonomi, tetap melanjutkan belanja mereka.

“Belanja AI telah menjadi pendorong utama, dan kebijakan fiskal turut memperkuat permintaan agregat,” kata seorang ekonom yang terlibat dalam diskusi tersebut.

Strategi Perusahaan dan Penjual Global

Faktor lain yang meredam dampak tarif adalah respons strategis dari perusahaan dan eksportir luar negeri. Wendy Edelberg, peneliti senior di Brookings Institution, menjelaskan bahwa banyak eksportir menurunkan harga untuk mempertahankan pangsa pasar di AS.

“Itu memang argumen Trump sejak awal—bahwa importir AS dan konsumen tidak akan menanggung beban penuh tarif karena eksportir akan menyesuaikan harga,” ujar Edelberg.

Selain itu, perusahaan-perusahaan AS mengambil langkah antisipatif untuk menghindari kenaikan biaya. Nora Todd, mantan penasihat perdagangan di pemerintahan Presiden Joe Biden, mencatat bahwa banyak korporasi memilih untuk menimbun barang sebelum tarif diberlakukan, mengalihkan rantai pasok, atau menahan kenaikan harga agar tidak kehilangan konsumen.

Perdagangan dan Skala Ekonomi AS

Para ekonom juga menilai bahwa peran perdagangan luar negeri dalam perekonomian AS mungkin selama ini dilebih-lebihkan. Harris mencatat bahwa penerimaan tarif meningkat kurang dari USD 200 miliar—angka yang signifikan, tetapi relatif kecil dibandingkan ukuran ekonomi AS yang mendekati USD 30 triliun.

Dengan skala ekonomi sebesar itu, dampak tarif, setidaknya dalam jangka pendek, tidak cukup besar untuk memicu kontraksi ekonomi secara luas.

Tekanan Harga Mulai Terlihat

Meski demikian, para ekonom memperingatkan bahwa faktor-faktor yang menahan dampak tarif tidak akan bertahan selamanya. Edelberg menegaskan bahwa importir dan eksportir tidak dapat terus-menerus menyerap biaya tambahan.

“Sudah jelas bahwa barang impor yang terkena tarif menunjukkan harga yang lebih tinggi bagi konsumen,” katanya. “Bahkan, produk domestik yang bersaing dengan barang impor tersebut juga mulai mengalami kenaikan harga.”

Edelberg memperkirakan tekanan inflasi akan tetap bertahan sepanjang 2026 hingga 2027, meskipun kemungkinan tidak melonjak setajam yang dikhawatirkan sebelumnya.

Tarif Tinggi dan Kompleksitas Respons Ekonomi

Fakta bahwa lonjakan tarif belum mengguncang ekonomi AS memberikan pelajaran penting bagi para pembuat kebijakan dan ekonom. Pengalaman ini menantang asumsi lama mengenai dampak langsung kebijakan perdagangan terhadap pertumbuhan ekonomi.

“Jika ada satu pelajaran utama dari periode ini,” kata Harris, “itu adalah bahwa ukuran dan keragaman ekonomi AS sering kali menjadi bantalan alami terhadap guncangan besar.”

Bagi pasar dan pembuat kebijakan, kesimpulannya jelas: dampak tarif mungkin lebih kompleks dan bertahap daripada yang diperkirakan. Ketahanan ekonomi AS sejauh ini menjadi pengingat bahwa kebijakan ekonomi jarang bekerja secara linear dan hasil akhirnya sering kali ditentukan oleh respons pelaku ekonomi itu sendiri.