Laporan inflasi Amerika Serikat yang akan dirilis Jumat ini pada jam 20.30 WIB diperkirakan membawa dampak positif bagi pasar keuangan global. Para ekonom memproyeksikan laju kenaikan harga konsumen pada Januari melambat, dengan inflasi inti menyentuh level terendah sejak 2021. Jika ekspektasi tersebut terealisasi, tekanan terhadap Federal Reserve (The Fed) untuk mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama akan berkurang.
Berdasarkan survei Dow Jones Newswires dan The Wall Street Journal, Indeks Harga Konsumen (Consumer Price Index/CPI) diperkirakan naik 2,5% secara tahunan pada Januari, turun dari 2,7% pada Desember. Angka ini akan menjadi yang terendah sejak Mei dan memperkuat narasi bahwa tekanan harga perlahan kembali terkendali setelah gejolak sepanjang 2024 dan awal 2025.
Lebih penting lagi, inflasi inti yang tidak memasukkan komponen pangan dan energi yang volatile diproyeksikan turun menjadi 2,5% dari sebelumnya 2,6%. Ini akan menjadi titik terendah baru sejak 2021 dan menjadi indikator krusial bagi para pengambil kebijakan moneter.
Inflasi Melandai, Namun Risiko Belum Hilang
Penurunan inflasi terjadi di tengah dinamika kebijakan perdagangan yang agresif. Tarif impor yang diberlakukan Presiden Donald Trump terhadap hampir seluruh mitra dagang utama AS sempat mendorong lonjakan harga berbagai produk impor. Kebijakan tersebut membuat inflasi yang sebelumnya menurun kembali naik pada pertengahan tahun lalu, menjauh dari target 2% yang ditetapkan The Fed.
Namun, tekanan dari tarif tampaknya mulai mereda. Sejumlah perusahaan disebut telah menyelesaikan penyesuaian harga terkait bea masuk tambahan tersebut. Dengan demikian, dampak tarif terhadap inflasi diyakini tidak lagi sekuat sebelumnya dalam beberapa bulan mendatang.
Selain itu, beberapa komponen besar dalam CPI justru menunjukkan stabilitas. Harga bensin relatif datar, sementara laju kenaikan sewa dan biaya perumahan tidak lagi seagresif beberapa tahun lalu. Mengingat perumahan menyumbang porsi signifikan dalam indeks inflasi, perlambatan di sektor ini menjadi faktor kunci dalam menahan tekanan harga secara keseluruhan.
Daya Beli AS Bangkit, Risiko Inflasi Kembali?
Jika inflasi benar-benar kembali ke jalur penurunan, dampaknya akan terasa langsung pada daya beli rumah tangga. Beban biaya hidup yang lebih terkendali berpotensi membuka ruang bagi peningkatan belanja konsumen yang merupakan motor utama ekonomi AS yang menyumbang lebih dari dua pertiga produk domestik bruto (PDB).
Konsumsi yang stabil menjadi kunci menjaga momentum pertumbuhan di tengah ketidakpastian global. Pasar tenaga kerja yang relatif solid juga memberikan bantalan tambahan, meskipun sejumlah indikator menunjukkan perlambatan perekrutan dibandingkan tahun sebelumnya.
Namun, sebagian analis memperingatkan bahwa penurunan inflasi Januari bisa jadi hanya jeda sementara. Kebijakan fiskal yang lebih longgar terutama melalui paket pemotongan pajak dalam “One Big, Beautiful Bill Act” akan mulai berlaku dalam waktu dekat. Stimulus tersebut diperkirakan menambah likuiditas di perekonomian dan berpotensi meningkatkan permintaan domestik.
Di saat yang sama, The Fed telah memangkas suku bunga tiga kali tahun lalu, yang secara efektif menurunkan biaya pinjaman bagi rumah tangga dan korporasi. Kombinasi stimulus fiskal dan pelonggaran moneter ini dapat menciptakan tekanan permintaan baru, sehingga memperlambat proses disinflasi.
Ekonom Wells Fargo Securities dalam catatannya menyebut, meskipun CPI utama dan inti kemungkinan sedikit turun pada Januari, ruang penurunan lebih lanjut sepanjang 2026 diperkirakan terbatas karena dukungan kebijakan fiskal dan moneter terhadap permintaan masih kuat.
Belanja Konsumen Menggeliat, The Fed Hadapi Tantangan Baru
Bagi Federal Reserve, data inflasi Januari akan menjadi referensi penting dalam menentukan arah kebijakan berikutnya. Bank sentral AS saat ini berada dalam posisi “wait-and-see”, menimbang antara menjaga momentum pasar tenaga kerja dan memastikan inflasi benar-benar kembali ke target 2%.
Inflasi inti menjadi perhatian utama para pembuat kebijakan, karena dianggap lebih mencerminkan tren harga jangka panjang. Jika angka inti turun sesuai ekspektasi, argumen untuk melanjutkan siklus pemangkasan suku bunga akan semakin kuat.
Namun, The Fed juga tidak ingin mengulangi kesalahan era pascapandemi, ketika tekanan inflasi dianggap sementara namun kemudian melonjak tajam. Kredibilitas bank sentral dipertaruhkan jika pelonggaran dilakukan terlalu cepat dan memicu lonjakan harga baru.
Pasar keuangan saat ini memperkirakan The Fed baru akan mempertimbangkan pemangkasan suku bunga berikutnya paling cepat pada Juli, berdasarkan proyeksi FedWatch Tool milik CME Group. Namun, ekspektasi tersebut sangat sensitif terhadap data aktual CPI. Angka yang lebih tinggi dari perkiraan bisa langsung menggeser proyeksi pasar dan mendorong lonjakan imbal hasil obligasi pemerintah AS.
Inflasi AS ke Dolar dan Pasar Global
Arah inflasi AS memiliki konsekuensi luas bagi pasar global. Penurunan tekanan harga berpotensi melemahkan dolar AS jika pasar menilai peluang pemangkasan suku bunga semakin besar. Dolar yang lebih lemah biasanya menjadi angin segar bagi mata uang negara berkembang dan harga komoditas.
Sebaliknya, inflasi yang lebih tinggi dari perkiraan dapat mendorong penguatan dolar dan menekan arus modal ke emerging markets. Imbal hasil obligasi AS yang naik juga berpotensi memicu volatilitas di pasar saham global.
Bagi Indonesia dan negara berkembang lainnya, dinamika ini penting untuk dicermati. Stabilitas inflasi AS membuka ruang bagi bank sentral negara berkembang untuk lebih fleksibel dalam kebijakan moneter, tanpa tekanan besar dari pergerakan dolar.
CPI Januari Jadi Penentu Arah Pasar Global
Pertanyaan besar bagi investor adalah apakah laporan Januari menandai titik balik menuju fase inflasi rendah yang lebih stabil, atau sekadar jeda sebelum tekanan harga kembali meningkat akibat stimulus fiskal dan moneter.
Sejarah menunjukkan bahwa fase akhir penurunan inflasi sering kali paling sulit. Ketika inflasi sudah mendekati target, faktor permintaan dan ekspektasi inflasi menjadi lebih menentukan dibandingkan faktor pasokan semata.
Jika inflasi benar-benar turun ke 2,5% dan bertahan, The Fed dapat mulai mempersiapkan transisi menuju kebijakan yang lebih netral. Namun jika penurunan terhenti, bank sentral mungkin terpaksa mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama, bahkan mempertimbangkan pengetatan tambahan jika diperlukan.
Untuk saat ini, pasar menunggu konfirmasi data. Laporan CPI Jumat bukan sekadar angka bulanan melainkan indikator arah kebijakan moneter terbesar dunia, yang dampaknya merambat hingga ke pasar saham, obligasi, komoditas, dan nilai tukar global.
Di tengah ketidakpastian kebijakan perdagangan dan fiskal, inflasi tetap menjadi kompas utama dimana Jumat ini, kompas itu akan kembali diuji.



