Di tengah tarif, gejolak politik, dan pasar tenaga kerja yang menurun, ekonomi Amerika Serikat justru mencatat kinerja lebih solid dari proyeksi awal. Apa yang sebenarnya menopang daya tahan ekonomi terbesar dunia ini dan apakah momentumnya bisa bertahan hingga 2026?
Ekonomi Amerika Serikat menutup tahun 2025 dengan kinerja yang mengejutkan banyak analis. Setelah sempat diperkirakan melambat tajam akibat kebijakan perdagangan agresif, deportasi tenaga kerja, dan pelemahan perekrutan, produk domestik bruto (PDB) justru diproyeksikan tumbuh mendekati 2,5% secara tahunan. Angka tersebut bukan hanya melampaui ekspektasi awal tahun, tetapi juga menandai lima tahun berturut-turut pertumbuhan di atas tren historis.
Konsensus ekonom yang dihimpun Wall Street Journal memperkirakan PDB kuartal IV tumbuh sekitar 2,5% (annualized). Jika terealisasi, maka sepanjang 2025 ekonomi AS tetap berada dalam fase ekspansi moderat jauh dari skenario hard landing yang sebelumnya banyak ditakutkan pasar.
Padahal, hanya beberapa bulan sebelumnya, banyak lembaga riset dan bahkan bank sentral memperkirakan ekonomi akan melambat ke kisaran 1,5% atau lebih rendah setelah pertumbuhan 2,8% pada 2024.
Fakta bahwa hal tersebut tidak terjadi menjadi sinyal penting: struktur pertumbuhan ekonomi AS telah berubah.
Tahun Penuh Gejolak, Namun Ekonomi Bertahan
Tahun 2025 bukanlah periode yang ramah bagi aktivitas ekonomi.
Pemerintahan baru kembali menaikkan tarif impor, memperketat kebijakan imigrasi, dan memangkas puluhan ribu pekerjaan pemerintah. Pada saat yang sama, pasar tenaga kerja mendingin: perekrutan melambat drastis dan pertumbuhan lapangan kerja nyaris stagnan.
Dalam siklus ekonomi normal, kombinasi faktor tersebut biasanya cukup untuk menyeret ekonomi ke fase perlambatan tajam bahkan resesi ringan.
Namun yang terjadi justru sebaliknya.
Ekonomi tetap tumbuh relatif stabil karena dua penopang utama: konsumsi rumah tangga dan investasi korporasi.
Konsumen Amerika: Mesin Pertumbuhan yang Belum Mati
Faktor pertama sekaligus paling penting adalah daya tahan belanja konsumen.
Meskipun perusahaan mengurangi perekrutan, mereka tidak melakukan PHK besar-besaran. Tingkat pemutusan kerja tetap mendekati posisi terendah historis. Stabilitas pekerjaan ini menjaga rasa aman finansial rumah tangga dan pada akhirnya menjaga konsumsi.
Dengan kata lain, masyarakat tidak merasa berada dalam resesi, sehingga mereka tidak berperilaku seperti sedang menghadapi resesi.
Kelompok berpendapatan tinggi menjadi motor utama. Reli pasar saham dan kenaikan harga properti meningkatkan kekayaan (wealth effect), mendorong konsumsi barang dan jasa. Restoran, perjalanan, hiburan, dan layanan premium tetap mencatat permintaan kuat sepanjang tahun.
Namun gambaran tersebut tidak merata.
Rumah tangga berpendapatan rendah mulai menunjukkan tekanan. Tabungan pandemi semakin menipis dan ketergantungan terhadap kredit meningkat. Konsumsi masih bertahan, tetapi kualitasnya berubah: lebih banyak dibiayai utang daripada pendapatan riil.
Ini menjadi peringatan penting bagi 2026 konsumsi kuat saat ini bisa berarti pelemahan di masa depan jika leverage rumah tangga terus naik.
Ledakan AI: Investasi yang Mengubah Siklus Ekonomi
Pilar kedua pertumbuhan 2025 datang dari sektor yang relatif baru: investasi kecerdasan buatan ( AI ).
Belanja korporasi untuk infrastruktur AI melonjak hingga ratusan miliar dolar mencakup pusat data, chip komputasi, cloud computing, serta pengembangan perangkat lunak otomatisasi.
Oxford Economics memperkirakan investasi AI saja menambah sekitar 0,4 poin persentase terhadap PDB tahun lalu. Angka tersebut cukup besar untuk mengimbangi dampak negatif kenaikan tarif perdagangan.
Yang lebih penting, investasi ini bersifat struktural, bukan siklikal.
Berbeda dengan belanja modal tradisional yang biasanya sensitif terhadap suku bunga, perusahaan memandang AI sebagai kebutuhan strategis jangka panjang. Artinya, sekalipun ekonomi melambat, investasi di sektor ini kemungkinan tetap berjalan.
Menjelang akhir 2025, investasi bisnis bahkan semakin intensif memberi indikasi awal bahwa 2026 dapat memasuki fase “AI-driven capex cycle”, yakni siklus ekspansi investasi berbasis teknologi, mirip dengan boom internet awal 2000-an.
Kebijakan Fiskal Kembali Ekspansif
Faktor tambahan datang dari arah kebijakan pemerintah.
Sebagian tarif mulai dilonggarkan, pajak dipangkas, dan belanja negara ditingkatkan menjelang tahun pemilu. Kebijakan fiskal ekspansif ini berpotensi memperkuat pertumbuhan 2026, setidaknya dalam jangka pendek.
Bagi pasar keuangan global, kombinasi stimulus fiskal dan investasi teknologi menciptakan skenario “no landing”: ekonomi tidak hanya menghindari resesi, tetapi tetap tumbuh meski suku bunga relatif tinggi.
Namun kondisi ini juga membawa konsekuensi tekanan inflasi bisa bertahan lebih lama dari yang diharapkan bank sentral.
Tanda Peringatan Mulai Muncul
Meski headline pertumbuhan terlihat solid, beberapa indikator menunjukkan potensi pelemahan.
Pertama, konsumen mulai mengandalkan utang. Rasio penggunaan kartu kredit meningkat dan tingkat tabungan turun. Pola ini tidak bisa bertahan lama tanpa peningkatan pendapatan riil.
Kedua, shutdown pemerintah selama 43 hari pada musim gugur memberi gangguan sementara terhadap aktivitas ekonomi. Dampaknya memang temporer, tetapi menunjukkan sensitivitas ekonomi terhadap faktor non-ekonomi.
Ketiga, volatilitas neraca perdagangan dan persediaan barang dapat memperbesar fluktuasi PDB jangka pendek. Kenaikan impor atau penumpukan stok sering kali menyesatkan pembacaan kesehatan ekonomi yang sebenarnya.
Karena itu ekonom menekankan: indikator utama tetap konsumsi dan investasi bisnis, bukan angka PDB mentah.
2026: Tahun Penentuan Ekonomi AS
Memasuki 2026, ekonomi AS berada pada posisi unik.
Di satu sisi, fondasi pertumbuhan terlihat kokoh:
- pasar tenaga kerja stabil,
- investasi teknologi meningkat,
- kebijakan fiskal mendukung,
- dan kekayaan rumah tangga tinggi.
Namun di sisi lain, sumber pertumbuhan mulai bergeser dari pendapatan ke leverage yakni dari tabungan ke utang.
Jika investasi AI terus berlanjut, ekonomi bisa mempertahankan pertumbuhan di atas tren global. Tetapi bila konsumsi melemah akibat tekanan finansial rumah tangga, momentum bisa cepat berubah.
Pasar Global di Bawah Bayang-bayang AS
Bagi pasar global, ketahanan ekonomi AS memiliki dampak luas.
Pertumbuhan kuat berarti:
- dolar cenderung tetap kuat,
- suku bunga tinggi bertahan lebih lama,
- arus modal global tetap mengalir ke aset berisiko.
Namun paradoksnya, kekuatan tersebut juga dapat memperlambat pelonggaran moneter global, termasuk di negara berkembang.
Pergeseran Fundamental Ekonomi AS
Tahun 2025 menunjukkan bahwa ekonomi AS telah berevolusi. Bukan lagi semata digerakkan oleh siklus kredit atau stimulus pemerintah, tetapi oleh kombinasi konsumsi berbasis kekayaan dan investasi teknologi berskala besar.
Selama dua mesin ini berjalan bersamaan, resesi akan sulit terjadi.
Jika salah satunya melemah, cerita pertumbuhan bisa berubah cepat.
Untuk saat ini, ekonomi terbesar dunia masih melaju bukan tanpa risiko, tetapi jelas lebih kuat dari yang diperkirakan siapa pun setahun lalu.



