Ketegangan geopolitik kembali menjadi penggerak utama pasar energi global setelah sinyal eskalasi militer dari Washington memicu lonjakan harga minyak dan meningkatkan kekhawatiran gangguan pasokan.
Presiden Donald Trump mengatakan Amerika Serikat akan memutuskan dalam sekitar 10 hari apakah akan melancarkan serangan militer terhadap Iran. Pernyataan tersebut langsung mengguncang pasar energi global dan mendorong harga minyak naik tajam karena investor mulai memperhitungkan risiko konflik terbuka di kawasan penghasil energi paling vital di dunia.
“Sekarang kita mungkin harus melangkah lebih jauh — atau mungkin tidak,” kata Trump dalam pertemuan Dewan Perdamaian. “Mungkin kita akan membuat kesepakatan. Anda akan mengetahuinya dalam sekitar 10 hari.”
Bagi pasar, kalimat tersebut berarti satu hal: probabilitas konflik meningkat.
Harga Minyak Bereaksi Cepat
Minyak mentah AS jenis West Texas Intermediate naik $1,24 atau sekitar 1,9% dan ditutup di $66,43 per barel. Sementara patokan global Brent Crude melonjak $1,31 atau 1,86% menjadi $71,66.
Sepanjang minggu, harga minyak telah bergerak lebih tinggi seiring meningkatnya kekhawatiran bahwa serangan militer terhadap Iran semakin mendekati kenyataan. WTI tercatat naik lebih dari 5% dalam sepekan dan hampir 16% sejak awal tahun.
Kenaikan ini menunjukkan pasar mulai memasukkan “risk premium geopolitik” yaitu tambahan harga yang mencerminkan potensi gangguan pasokan, bukan kondisi fundamental permintaan dan penawaran semata.
Dalam konteks pasar energi, bahkan ancaman konflik saja cukup untuk menaikkan harga, terlebih jika melibatkan Iran.
Diplomasi Mandek, Militer Bergerak
Sinyal eskalasi muncul setelah pembicaraan nuklir antara AS dan Iran di Jenewa gagal menghasilkan terobosan berarti. Utusan Washington melakukan perundingan sepanjang pekan, namun Gedung Putih menyatakan kedua pihak masih sangat berjauhan dalam sejumlah isu krusial.
Washington menilai Teheran tidak menanggapi garis merah yang ditetapkan pemerintah AS.
Di saat diplomasi berjalan lambat, aktivitas militer justru meningkat.
Amerika Serikat mengerahkan kekuatan besar ke Timur Tengah. Kapal induk USS Abraham Lincoln telah berada di kawasan tersebut, sementara USS Gerald Ford sedang menuju wilayah operasi.
Pengerahan dua kapal induk secara bersamaan jarang terjadi kecuali dalam fase persiapan konflik besar. Bagi pasar, ini bukan lagi sekadar retorika politik melainkan sinyal kesiapan operasional.
Selat Hormuz: Titik Risiko Global
Ketegangan meningkat setelah Garda Revolusi Iran menggelar latihan militer di Selat Hormuz, jalur sempit yang menjadi salah satu chokepoint energi paling penting di dunia.
Sekitar seperlima perdagangan minyak global melewati jalur ini setiap hari. Gangguan kecil saja dapat mengganggu rantai pasok global dan memicu lonjakan harga energi secara luas.
Para trader khawatir skenario terburuk bukanlah serangan terbatas, melainkan eskalasi regional yang berujung penutupan jalur pelayaran.
Jika Selat Hormuz terganggu, pasar tidak hanya menghadapi kenaikan harga tetapi juga potensi shock energi global, mirip krisis minyak era 1970-an meskipun dalam skala modern.
Mengapa Pasar Sangat Sensitif ?
Konflik AS Iran memiliki karakter berbeda dibanding konflik regional lainnya. Iran bukan hanya produsen minyak, tetapi juga penjaga jalur distribusi global.
Artinya risiko tidak hanya berasal dari produksi yang berkurang, melainkan distribusi yang terhenti.
Dalam situasi normal, pasar dapat mengompensasi gangguan produksi dari satu negara melalui peningkatan output negara lain. Namun gangguan jalur pelayaran tidak mudah digantikan.
Karena itu setiap indikasi konflik di sekitar Teluk Persia hampir selalu diikuti lonjakan harga minyak bahkan sebelum satu peluru pun ditembakkan.
Pasar Menilai: Ancaman atau Taktik Negosiasi?
Pernyataan Trump membuka dua kemungkinan yaitu tekanan militer untuk memaksa kesepakatan atau langkah menuju konflik nyata.
Strategi escalate to de escalate bukan hal baru dalam diplomasi geopolitik. Ancaman kekuatan sering digunakan untuk memperkuat posisi negosiasi.
Namun pasar tidak menilai niat, pasar menilai risiko.
Dan risiko saat ini meningkat.
Itu sebabnya harga minyak naik meskipun belum ada serangan.
Konflik Energi Jadi Risiko Ekonomi Global
Kenaikan harga energi berpotensi merembet luas.
Inflasi global bisa tertahan turun
Suku bunga tinggi bertahan lebih lama
Mata uang negara importir energi melemah
Aset berisiko menjadi lebih volatil
Dengan kata lain konflik regional dapat berubah menjadi shock makroekonomi global.
Bank sentral yang semula bersiap melonggarkan kebijakan moneter bisa menunda langkahnya jika harga energi kembali memicu tekanan inflasi.
Menunggu 10 Hari Penentu
Sepuluh hari ke depan menjadi periode krusial bagi pasar.
Jika tercapai kesepakatan, harga minyak bisa turun cepat karena risk premium menguap. Namun jika eskalasi berlanjut, pasar energi akan memasuki fase baru yang lebih volatil.
Saat ini investor energi, mata uang, dan obligasi global menunggu satu hal yaitu apakah diplomasi masih punya ruang atau dunia memasuki babak konflik baru.
Untuk sementara pasar sudah memberikan jawabannya, risiko meningkat dan harga minyak mulai mencerminkannya.



