Trump Ragukan Laporan Ranjau Iran di Selat Hormuz, Sebut Perang Akan Segera Berakhir

72

Ketegangan geopolitik di Timur Tengah kembali menjadi sorotan pasar global setelah laporan mengenai dugaan penempatan ranjau laut oleh Iran di jalur pelayaran energi paling vital di dunia. Namun Presiden Amerika Serikat Donald Trump justru menyampaikan keraguan terhadap laporan tersebut, sekaligus menyatakan bahwa konflik militer yang sedang berlangsung berpotensi berakhir dalam waktu dekat.

Pernyataan Trump tersebut memberikan sinyal yang relatif menenangkan bagi pasar energi internasional yang dalam beberapa hari terakhir sempat diguncang oleh volatilitas harga minyak. Selat Hormuz jalur strategis yang mengalirkan sebagian besar ekspor minyak dari kawasan Teluk—menjadi pusat perhatian investor global yang mencoba mengukur seberapa besar gangguan pasokan energi dapat terjadi.

Meskipun ketegangan militer masih berlangsung, sejumlah perkembangan terbaru menunjukkan bahwa risiko gangguan pasokan minyak global mungkin tidak sebesar yang dikhawatirkan pada awal eskalasi konflik.

Trump Bantah Laporan Ranjau di Jalur Energi Dunia

Ketika ditanya oleh wartawan mengenai laporan bahwa Iran telah menempatkan ranjau laut di Selat Hormuz, Trump menjawab singkat, “Kami tidak berpikir demikian.”

Pernyataan tersebut bertentangan dengan laporan yang dirilis oleh Reuters, yang mengutip sejumlah sumber yang mengetahui situasi tersebut. Laporan itu menyebutkan bahwa Republik Islam Iran diduga telah menempatkan sekitar selusin ranjau laut di jalur perairan yang menghubungkan Teluk Persia dengan Laut Arab tersebut.

Selat Hormuz merupakan salah satu chokepoint energi paling penting di dunia. Sekitar 20% dari total perdagangan minyak global melewati jalur sempit ini setiap hari. Gangguan terhadap jalur ini berpotensi memicu lonjakan harga minyak global secara signifikan.

Namun sikap skeptis Trump terhadap laporan tersebut memberi sinyal bahwa pemerintah Amerika Serikat mungkin belum melihat bukti yang cukup kuat mengenai ancaman tersebut.

Dalam pernyataan lain, Trump bahkan mendorong perusahaan minyak Amerika untuk tetap menggunakan jalur pelayaran melalui Selat Hormuz. Ketika ditanya apakah perusahaan AS sebaiknya tetap melewati rute tersebut, ia menjawab bahwa mereka “seharusnya melakukannya.”

Bagi pasar energi global, pernyataan tersebut dipandang sebagai indikasi bahwa Washington masih menilai jalur tersebut relatif aman untuk perdagangan minyak internasional.

Konflik Dinilai Mendekati Tahap Akhir

Trump juga menegaskan kembali pandangannya bahwa konflik militer yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran kemungkinan akan berakhir dalam waktu dekat.

Dalam wawancara dengan Axios, Trump menyatakan bahwa operasi militer terhadap Iran telah menghancurkan sebagian besar target strategis.

Menurutnya, perang dapat segera berakhir karena “praktis tidak ada lagi target yang tersisa” di Iran.

Presiden AS tersebut juga mengakui bahwa operasi militer masih berlangsung, dengan mengatakan bahwa “kami belum selesai” dan bahwa Amerika Serikat akan terus melakukan operasi yang sama hingga tujuan strategis tercapai.

Namun di dalam pemerintahan sendiri, pandangan mengenai durasi konflik tampaknya belum sepenuhnya seragam.

Menteri Pertahanan Pete Hegseth sebelumnya menyatakan bahwa pemerintah tidak memiliki garis waktu pasti untuk mencapai kekalahan total Iran.

Perbedaan nuansa ini mencerminkan kompleksitas konflik yang melibatkan berbagai kepentingan geopolitik di kawasan Timur Tengah.

Peringatan Militer di Sekitar Selat Hormuz

Di tengah ketidakpastian tersebut, United States Central Command mengeluarkan peringatan keamanan bagi warga sipil dan pelayaran komersial.

Melalui media sosial, komando militer AS tersebut meminta masyarakat untuk segera menghindari seluruh fasilitas pelabuhan yang dioperasikan oleh angkatan laut Iran di sepanjang wilayah Selat Hormuz.

Peringatan tersebut menunjukkan bahwa meskipun Washington meragukan laporan mengenai ranjau laut, risiko keamanan di kawasan tersebut tetap dianggap serius.

Dunia Lepaskan Cadangan Minyak Strategis

Untuk meredam potensi gejolak harga minyak yang lebih besar, komunitas internasional mulai mengambil langkah stabilisasi pasar energi.

International Energy Agency telah menyepakati pelepasan 400 juta barel minyak dari cadangan darurat global.

Jumlah ini jauh lebih besar dibandingkan pelepasan 182 juta barel yang dilakukan negara-negara anggota IEA setelah Russian invasion of Ukraine.

Langkah tersebut bertujuan untuk memastikan bahwa pasar minyak global tetap memiliki pasokan yang cukup meskipun terjadi gangguan distribusi di kawasan Teluk Persia.

Saat ini konsumsi minyak dunia berada sedikit di atas 100 juta barel per hari. Dengan cadangan darurat yang besar, pasar energi global memiliki bantalan yang cukup untuk mengatasi gangguan pasokan jangka pendek.

Produksi Teluk Turun, Namun Pasar Masih Stabil

Meski demikian, ketegangan geopolitik telah memengaruhi produksi minyak di kawasan Teluk.

Beberapa produsen minyak di wilayah tersebut dilaporkan telah mengurangi produksi sekitar 6% sejauh ini akibat situasi keamanan yang tidak stabil.

Pengurangan produksi ini sempat memicu lonjakan harga minyak global dalam beberapa hari terakhir.

Namun analis pasar energi menilai bahwa pasar minyak global masih memiliki kapasitas untuk menyesuaikan diri melalui peningkatan produksi dari wilayah lain, termasuk Amerika Utara dan beberapa negara produsen besar di luar kawasan konflik.

Selain itu, pelepasan cadangan minyak strategis oleh negara-negara konsumen besar juga membantu meredam tekanan harga di pasar internasional.

Pasar Energi Menilai Risiko Masih Terkendali

Bagi investor global, perkembangan terbaru menunjukkan bahwa meskipun konflik geopolitik dapat memicu lonjakan volatilitas jangka pendek, fundamental pasar energi global tetap relatif kuat.

Cadangan minyak strategis yang besar, diversifikasi sumber produksi global, serta potensi berakhirnya konflik dalam waktu dekat menjadi faktor yang menahan lonjakan harga energi lebih lanjut.

Jika jalur pelayaran di Selat Hormuz tetap terbuka dan operasi militer tidak berkembang menjadi konflik regional yang lebih luas, pasar minyak berpotensi kembali stabil dalam beberapa bulan mendatang.

Dalam konteks ini, pasar global kini menunggu dua faktor kunci: perkembangan militer di Timur Tengah serta langkah kebijakan dari pemerintah dan lembaga energi internasional dalam menjaga stabilitas pasokan minyak dunia.

Bagi ekonomi global, stabilitas jalur energi di Selat Hormuz tetap menjadi salah satu faktor paling menentukan dalam menjaga keseimbangan antara pertumbuhan ekonomi dan inflasi di tengah ketidakpastian geopolitik yang masih berlangsung.