Emas Tertahan di Bawah $4.900, Bayang-Bayang Suku Bunga dan Lonjakan Inflasi Redam Daya Tarik Safe Haven

71

Harga emas kembali menunjukkan kenaikan tipis dalam perdagangan Asia pada Kamis (19/3), namun pergerakannya tetap tertahan di bawah level krusial $4.900 per ons. Di tengah eskalasi konflik geopolitik di Timur Tengah, logam mulia ini justru gagal memanfaatkan momentum sebagai aset safe haven. Faktor utama yang membebani emas bukan lagi semata ketegangan global, melainkan meningkatnya ketidakpastian arah suku bunga serta lonjakan tekanan inflasi.

Data terbaru dari Amerika Serikat menunjukkan bahwa inflasi di tingkat produsen (Producer price index/PPI) untuk Februari melampaui ekspektasi pasar. Hal ini memperkuat kekhawatiran bahwa tekanan harga belum mereda, bahkan berpotensi meningkat seiring lonjakan harga energi akibat konflik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran.

Dalam kondisi tersebut, Federal Reserve memilih untuk mempertahankan suku bunga acuannya. Namun yang lebih menjadi perhatian pasar adalah nada kebijakan yang cenderung hawkish, di mana bank sentral mengisyaratkan ketidakpastian besar terhadap dampak inflasi ke depan, terutama akibat gangguan pasokan energi global.

Pada pukul 01:47 ET (05:47 GMT), harga emas spot tercatat naik tipis 0,2% ke level $4.833,60 per ons. Sementara itu, kontrak emas berjangka justru turun 1,3% ke $4.834,04 per ons, mencerminkan tekanan yang masih kuat di pasar derivatif.

Tekanan dari Inflasi dan Suku Bunga Lebih Dominan dari Sentimen Geopolitik

Dalam beberapa pekan terakhir, emas sempat diperdagangkan dalam kisaran relatif stabil di antara $5.000 hingga $5.200 per ons. Namun, level tersebut akhirnya jebol setelah kombinasi data inflasi yang kuat dan pernyataan The Fed yang mengurangi ekspektasi pelonggaran moneter dalam waktu dekat.

Pasar kini memperkirakan bahwa peluang pemangkasan suku bunga oleh The Fed semakin kecil, setidaknya hingga kuartal III-2026. Ekspektasi ini tercermin dalam proyeksi pelaku pasar yang menunjukkan bahwa penurunan suku bunga kemungkinan baru akan terjadi paling cepat pada September.

Kondisi tersebut berdampak signifikan terhadap emas. Secara teori, emas cenderung diuntungkan ketika suku bunga rendah karena tidak memberikan imbal hasil. Sebaliknya, ketika suku bunga tinggi dan imbal hasil riil meningkat, daya tarik emas sebagai aset non-yielding menjadi berkurang.

Analis dari OCBC menilai bahwa dinamika pasar saat ini telah bergeser. “Pasar saat ini lebih didorong oleh kekhawatiran bahwa inflasi yang lebih tinggi akan menunda siklus pelonggaran The Fed, dibandingkan permintaan lindung nilai dari risiko geopolitik,” tulis mereka dalam laporan terbaru.

Dengan kata lain, meskipun konflik berskala besar tengah berlangsung, investor lebih fokus pada arah kebijakan moneter dan dampaknya terhadap likuiditas global.

Lonjakan Harga Energi Jadi Faktor Kunci

Salah satu faktor utama yang memperburuk tekanan inflasi adalah lonjakan harga energi global. Konflik antara AS–Israel dan Iran telah memasuki fase yang lebih serius, dengan serangan terhadap infrastruktur energi strategis.

Israel dilaporkan menyerang ladang gas South Pars yang merupakan ladang gas terbesar di dunia memicu respons balasan dari Iran. Teheran kemudian melancarkan serangan terhadap sejumlah fasilitas energi di Timur Tengah, serta meningkatkan intensitas serangan terhadap target di Israel.

Lebih jauh, Iran tetap mempertahankan penutupan Selat Hormuz, jalur vital yang menjadi salah satu titik distribusi minyak terbesar dunia. Penutupan ini menyebabkan gangguan besar terhadap pasokan minyak global, mendorong harga minyak dan gas melonjak tajam.

Lonjakan harga energi ini memiliki efek berantai terhadap inflasi global. Biaya produksi meningkat, distribusi terganggu, dan tekanan harga merambat ke berbagai sektor ekonomi. Dalam konteks ini, bank sentral cenderung mengambil sikap lebih hati-hati, bahkan hawkish, untuk memastikan inflasi tidak lepas kendali.

Bagi emas, situasi ini menjadi paradoks. Di satu sisi, ketegangan geopolitik biasanya meningkatkan permintaan safe haven. Namun di sisi lain, inflasi tinggi yang memicu kenaikan suku bunga justru menekan harga emas.

Imbal Hasil Riil Jadi Penentu Arah Emas

Salah satu indikator kunci yang kini menjadi perhatian pasar adalah imbal hasil riil (real yields), yaitu imbal hasil obligasi setelah dikurangi inflasi. Ketika imbal hasil riil meningkat, aset seperti obligasi menjadi lebih menarik dibandingkan emas.

Saat ini, kenaikan ekspektasi inflasi justru diiringi oleh kenaikan imbal hasil nominal, sehingga imbal hasil riil tetap tinggi. Kondisi ini menciptakan tekanan tambahan bagi emas.

OCBC menegaskan bahwa tanpa perubahan signifikan pada beberapa faktor utama yakni pelemahan dolar AS, penurunan imbal hasil riil, atau kembalinya ekspektasi pelonggaran moneter emas akan kesulitan mempertahankan momentum kenaikan.

Logam Mulia Lainnya Ikut Tertekan

Tidak hanya emas, logam mulia lainnya juga mengalami tekanan. Harga platinum turun 0,6% menjadi $2.012,68 per ons, sementara perak melemah 0,7% ke $74,83 per ons.

Kinerja kedua logam ini bahkan cenderung lebih lemah dibanding emas sejak akhir Februari. Hal ini menunjukkan bahwa tekanan yang berasal dari kebijakan moneter dan inflasi bersifat luas, tidak hanya terbatas pada satu jenis komoditas.

Fokus Bergeser ke Kebijakan Bank Sentral Global

Selain The Fed, perhatian pasar juga tertuju pada sejumlah bank sentral utama lainnya yang dijadwalkan mengumumkan keputusan kebijakan pada hari yang sama.

Bank of Japan telah memutuskan untuk mempertahankan suku bunga sesuai ekspektasi. Sementara itu, keputusan dari European Central Bank, Bank of England, dan Swiss National Bank menjadi sorotan berikutnya.

Koordinasi atau ketidaksinkronan kebijakan moneter global akan menjadi faktor penting dalam menentukan arah pasar ke depan. Jika mayoritas bank sentral mempertahankan sikap hawkish, maka tekanan terhadap emas kemungkinan akan berlanjut.

Bukan Perang, Ini yang Menahan Kenaikan Emas Saat Dunia Memanas

Ke depan, arah pergerakan emas akan sangat ditentukan oleh tiga faktor utama: perkembangan inflasi, kebijakan suku bunga, dan dinamika geopolitik.

Jika konflik di Timur Tengah terus mendorong kenaikan harga energi tanpa diimbangi oleh pelonggaran kebijakan moneter, maka emas berpotensi tetap tertekan dalam jangka pendek.

Namun, jika tekanan ekonomi mulai memaksa bank sentral untuk mengubah arah kebijakan misalnya dengan membuka peluang pemangkasan suku bunga maka emas dapat kembali menemukan momentumnya sebagai aset lindung nilai.

Untuk saat ini, pasar tampaknya masih berada dalam fase “wait and see”, dengan volatilitas tinggi dan sentimen yang cepat berubah.

Satu hal yang jelas: di tengah dunia yang penuh ketidakpastian, emas tidak lagi bergerak hanya berdasarkan ketakutan, tetapi juga sangat dipengaruhi oleh matematika suku bunga dan realitas inflasi.