(Vibiznews – Forex) Indeks dolar AS berakhir naik pada hari Kamis dengan masih berlangsungnya perang Timur Tengah yang memicu keraguan gencatan senjata yang membebani pasar saham dan meningkatkan permintaan dolar sebagai aset safe-haven.
Indeks dolar AS ditutup naik 0,24% pada 99,86.
Dolar as juga naik terdukung penurunan klaim pengangguran mingguan AS pada hari Kamis ke level terendah dalam 1,75 tahun merupakan tanda pasar tenaga kerja yang kuat yang mendukung kebijakan Fed.
Klaim pengangguran awal mingguan AS naik sebesar +5.000 menjadi 210.000, sesuai dengan ekspektasi. Klaim pengangguran mingguan turun -32.000 menjadi level terendah dalam 1,75 tahun sebesar 1,819 juta, menunjukkan pasar tenaga kerja yang lebih kuat daripada ekspektasi sebesar 1,849 juta.
Demikian juga lonjakan harga minyak mentah sebesar 4% pada hari Kamis mendorong ekspektasi inflasi lebih tinggi dan dapat mendorong Fed untuk mempertahankan kebijakan moneter yang ketat, faktor bullish bagi dolar.
Dolar AS juga mendapat dukungan setelah Axios melaporkan bahwa AS sedang menyiapkan opsi militer pukulan terakhir di Iran yang dapat mencakup penggunaan pasukan darat dan pengeboman besar-besaran jika tidak ada kemajuan dalam pembicaraan diplomatik dan Selat Hormuz tetap tertutup ketika tenggat waktu Presiden Trump berakhir di akhir pekan ini.
Pasar swap memperkirakan peluang kenaikan suku bunga +25 basis poin pada pertemuan FOMC 28-29 April sebesar 6%.
Analyst Vibiz Research Center memperkirakan untuk perdagangan selanjutnya, indeks dolar AS akan mencermati perkembangan perang Timur Tengah, jika eskalasi perang terus meningkat, akan menguatkan dolar AS. Indeks dolar AS diperkirakan bergerak dalam kisaran Resistance 100,06-100,26. Namun jik turun, akan bergerak dalam kisaran Support 99,61-99,36.



