(Vibiznews – Forex) Indeks dolar AS berakhir menguat pada hari Senin, terpicu permintaan safe haven di tengah perang Timur Tengah yang masih terus berlangsung.
Indeks dolar AS berakhir naik 0,41% pada 100,56.
Presiden AS Donald Trump mengatakan kepada Financial Times pada hari Minggu bahwa ia ingin “mengambil minyak di Iran” dan dapat merebut pusat ekspor Pulau Kharg, yang akan melibatkan pasukan darat AS dan menandai eskalasi besar konflik tersebut.
Namun penguatan dolar AS terbatas, karena penurunan tajam imbal hasil obligasi pemerintah AS.
Ketua Fed Powell mengatakan ekspektasi inflasi terkendali dengan baik dan FOMC akan mencapai target inflasi 2%. Ia menambahkan, “Terlalu dini untuk mengetahui apa dampak ekonomi yang akan terjadi” dari perang Iran.
Pasar swap memperkirakan peluang kenaikan suku bunga sebesar +25 basis poin pada pertemuan FOMC 28-29 April sebesar 3%.
Malam nanti akan dirilis data JOLTs Job Openings Februari AS yang diindikasikan menurun.
Juga akan dirilis data CB Consumer Confidence Maret AS yang juga diindikasikan menurun.
Juga akan ada pernyataan pejabat Fed Goolsbee dan Barr.
Analyst Vibiz Research Center memperkirakan untuk perdagangan selanjutnya, indeks dolar AS akan bergerak naik dengan eskalasi perang Timur Tengah yang masih meningkat, yang dapat memicu permintaan safe haven dolar AS. Namun jika data JOLTs Job Openings Februari AS dan data CB Consumer Confidence Maret AS terealisir menurun, akan menekan dolar AS. Jika pernyataan pejabat Fed bersifat hawkish bagi kebijakan suku bunga Fed, akan menguatkan dolar AS. Perlu dicermati juga upaya profit taking setelah indeks dolar AS naik selama minggu lalu. Indeks dolar AS diperkirakan bergerak dalam kisaran Support 100,20-99,85. Namun jika naik, akan bergerak dalam kisaran Resistance 100,76-100,97.



