(Vibiznews-Forex) – Poundsterling dalam pair GBPUSD bergerak rebound menuju posisi resistennya pada perdagangan forex Eropa hari Jumat (3/4/2026) di tengah rebound kuat dolar AS.
Poundsterling rally meninggalkan level terendahnya sejak akhir November, karena ketidakpastian atas konflik Iran dan melonjaknya harga minyak membebani pasar.
Dolar AS yang sebelumnya kaut imbas data NFP AS pekan lalu yang lebih kuat dari perkiraan semakin meredam ekspektasi pemotongan suku bunga Federal Reserve.
Presiden AS Trump memperingatkan Iran akan konsekuensi berat jika gagal membuka kembali Selat Hormuz pada hari Selasa, meskipun intelijen AS menunjukkan sedikit kemungkinan kepatuhan.
Sementara itu, laporan menunjukkan negosiasi untuk gencatan senjata 45 hari antara AS, Iran, dan mediator regional, yang dapat membantu meredakan ketegangan. Dengan harga minyak mentah mendekati level tertinggi multi-tahun, kekhawatiran inflasi telah menyebabkan investor mengesampingkan pemotongan suku bunga Fed tahun ini.
Di Inggris, pasar sekarang memperkirakan dua kenaikan suku bunga Bank of England pada tahun 2026, membalikkan perkiraan sebelum perang tentang dua pemotongan.
Pergeseran ini terus berlanjut meskipun Gubernur Andrew Bailey memperingatkan bahwa pasar mungkin melebih-lebihkan kemungkinan pengetatan kebijakan moneter.
Secara teknikal, pair rally hingga menembus posisi resisten kuatnya dan menurut analyst Vibiz Research Center pair berpotensi menuju posisi resisten selanjutnya.
Kini pair berada di posisi 1.3258 yang sedang mendaki menuju posisi 1.3262, jika tembus berpotensi lanjut ke 1.3274 sebelum ke resisten lanjutan di R3.
Namun jika tidak sampai tembus 1.3274 akan berbalik arah dan turun menuju posisi 1.3176, jika tembus lanjut ke support kuatnya di S1.
| R3 | R2 | R1 | Pivot | S1 | S2 | S3 |
| 1,3284 | 1,3262 | 1,3230 | 1.3208 | 1.3174 | 1.3152 | 1.3118 |



